Belajar dari Sejarah Kelam Khilafah Menurut Hasan Al-Bashri

Posted on

“Demi Allah tidak ada seseorang (muslim) yang menyaksikan abad-abad awal Islam kecuali ia akan bersedih sepanjang hari”, kata Hasan Al-Bashri, seorang sufi yang mengajarkan tasawuf kesedihan (al-khuzn).

Bagaimana tidak bersedih? Para sahabat saling berperang dan tiga khalifah dibunuh saat sistem Khilafah berdiri. Bahkan cucu tercinta Nabi, Sayyidina Husayn, dipenggal kepalanya oleh pasukan Khalifah Yazid bin Muawiyah pada 10 Muharam tahun 61 H demi tujuan melanggengkan kekuasaan dalam sistem Khilafah.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Sejarah berdarah ini berusaha ditutup-tutupi oleh sejumlah kalangan Sunni dengan doktrin “wa ma jara bayna shahabati naskutu”, kita harus diam atas tragedi yang terjadi diantara para sahabat.

Meski demikian, Hasan Al-Bashri tetap menganjurkan kita supaya belajar dari sejarah kelam politik umat Islam agar tidak terulang kembali. Tidak boleh ada lagi nyawa yang perlu dikorbankan demi kekuasaan, terutama kekuasaan yang diatasnamakan Khilafah Islam.

Baca Juga >  Ini Silsilah Kemursyidan KH Romly Tamim Rejoso

Penulis: KH Irwan Masduqi, Pengasuh Pesantren Assalafiyah Mlangi Sleman.