Nur Kholik Ridwan

Bagian 8, Pesantren-Pesantren di Indonesia dan Dinamisasi

Posted on

Gus Dur melanjutkan dalam tulisannya, begini: “Tidak demikian halnya dengan pesantren di Indonesia. Berdasarkan kemampuan menyerap itu, maka pesantren dapat menerapkan sistem sekolah, sistem jadwal atau hal-hal lain yang memang memberi manfaat bagi dirinya. Dengan arti, pesantren di Indonesia dapat menerima dari luar yang baik, tanpa harus kehilangan esensi dasarnya.”

Penjelasannya:

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Setelah menjelaskan pondok-pondok di Malaysia, yang disebut kurang cepat bisa menerima perubahan, dan tidak melakukan penyerapan, untuk reorganisasi kembali pendidikan agama, Gus Dur mengemukakan pesantren-pesantren di Indonesia, dapat menerima nilai-nilai dari luar. Pesantren-pesantren itu memiliki “kemampuan menyerap”, dan karenanya “pesantren dapat menerapkan sistem sekolah, sistem jadwal atau hal-hal lain yang memang memberi manfaat bagi dirinya.”

Sejarah pesantren di Indonesia berakar lama dari proses islamisasi yang dilakukan para penyebar Islam awal, di pusat-pusat penyebaran Islam, dalam bentuknya yang sederhana, misalnya: ada guru, ada murid, dan pengajaran Al-Qur’an dan hal-hal elementer lain, termasuk pengajaran tarekat. Pusat-pusat itu di antaranya, dilakukan Syaikh Datuk Kahfi (Cirebon), Syaikh Abdul Kahfi Awal (Kebumen, moyang Kyai Sumolangu), Sunan Ampel, Sunan Giri, dan banyak lagi.

Tercatat dalam beberapa buku sejarah, pada masa Sultan Agung yang bertahta di Mataram juga terdapat beberapa pesantren yang sering disebut dalam sejarah, yaitu: Kajoran dan Tembayat; dilanjutkan pada masa Amangkurat I terdapat banyak kyai yang dibunuh karena pergolakan politik, dan karenanya banyak pesantren yang mengalami involusi. Sementara lewat cerita dalam Serat Centini, dapat diketahui terdapat banyak pesantren yang dikunjungi tokoh yang dicertitakan, di antaranya Jayengresmi (tokoh dalam cerita) berguru di Gunung Karang (Jawa bagian Barat), kepada Ki Ageng Karang, atau Syaikh Ibrohim bin Abu Bakar, sebagaimana disebutkan Martin van Bruinessen (Kitab Kuning, hlm. 258).

Sampai terjadinya Perang Jawa (1825-1830), juga disebut-sebut nama besar Kyai Mojo dan pesantrennya, yang menjadi guru spiritual ternama dengan banyak jaringan dan murid. Setelah Perang Jawa itu, banyak pesantren dihancurkan Belanda dan pengajaran dibatasi. Akan tetapi setelah perang Jawa itu, pesantren mengalami babak baru, karena banyak santri baru pulang dari Mekkah, atau pulang dari berkelanan mencari ilmu di tengah situasi kolonialisme Belanda, yang melahirkan tokoh-tokoh seperti, Syaikhona Kholil, Hadhrotus Syaikh Hasyim Asyari, KH. Asnawi Caringin, KH. Abdul Wahabh Hasbulloh, dan yang seangkatan dengan mereka. Pada tahun 1819, pemerintah Hindia Belanda melakukan survey pertama untuk pendidikan kaum pribumi di Jawa, dan dilaporkan terutama di Serang dan Banten telah terdapat para pengajar agama yang mengajarkan membaca dan menulis (Martin, hlm. 261).

Pesantren-pesantren ini di kemudian hari melakukan perubahan-perubahan, yang disebut Gus Dur sebagai menerima terhadap perubahan dari luar, seperti sistem sekolah, penjadwalan kelas dan mata pelajaran, dan lain-lain. Kajian yang dilakukan Zamakysari Dhofier, dalam buku Tradisi Pesantren, menyebut Tebuireng sebagai salah satu pesantren yang melakukan perubahan-perubahan penting itu. Sementara menurut Karel Steenbrink, peran KH. Moh Ilyas untuk melakukan perubahan di Tebuirengm, cukup besar, yang katanya begini: “Dengan persetujuan KH. Hasyim Asy`ari, Moh. Ilyas memasukkan mata pelajaran umum, seperti membaca dan menulis huruf latin, ilmu bumi, sejarah dan bahasa Melayu. Semenjak itu surat kabar bahasa Melayu diizinkan masuk ke pesantren” (Pesantren Madrasah Sekolah, hlm. 70).

Apa yang dilakukan KH. Moh Ilyas dilanjutkan KH. Abdul Wachid Hasjim yang pulang dari Mekkah lebih dulu, dan kemudian mendirikan Madrasah di Tebuireng. Gus Dur mengemukakan perubahan di Tebuireng ini oleh KH. Abdul Wachid Hasyim, dengan kata-kata:

“Pada tahun 1930-an, KH. Abdul Wachid Hasyim pergi dan menetap di Mekkah selama 2 tahun. Sepulang dari Mekkah, beliau membuat perubahan besar di Pesantren Tebuireng, yaitu mengubah kurikulum pendidikan yang awalnya, hanya memfokuskan pada mengaji, lalu ditambah dengan mata pelajaran berhitung dan sejarah. Dalam melakukan perubahan tersebut, beliau tidak bicara apa-apa. Kalau ditanya, kurikulum apa?” Beliau menjawab: “Kurikulum Nizhomiyah….” (Tashwirul Afkar, No. 19, tahun 2006, hlm. 89).

Baca Juga >  Munas NU dan Perang Melawan Politik Identitas

Nama Nizhomiyah, digunakan, sepertinya dimaksudkan agar tidak terajadi resistensi yang menghalangi tujuan perubahan, untuk mengingatkan Madrasah Nizhomiyah kaum Syafi`i-Asy`ari di zaman dulu, di masa Imam Ghozali, Imam al-Qusyairi, dan lain-lain; meskipun isinya telah dilakukan penambahan-penambahan.

Tentu saja, pesantren-pesantren di tempat lain pada akhirnya juga ada yang melakukan perubahan, dan oleh Karel Steenbrink di antaranya disebutkan, ada upaya-upaya pendiri Pesyarikatan Ulama, KH. Abdul Halim, yang mulai membuat asrama-asrama, pada tahun 1932, di samping mengajarkan pelajaran agama, juga pelajaran umum, dan ketrampilan, seperti pertanian, pertukangan, dan ukiran kayu (Pesantren Madrasah Sekolah, hlm. 74).

Gus Dur senantiasa mengingatkan, meskipun pesantren menerima perubahan-perubahan untuk menyerap perkembangan yang ada di luar, tetapi perubahan itu “tanpa harus kehilangan esensi dasarnya.” Pandangan Gus Dur secara menyeluruh tentang perubahan pesantren dan esensi yang harus dipertahankan ini telah diungkapkan di berbagai acara dan forum, lalu dikumpulkan tulisan-tulisan itu menjadi judul Menggerakkan Islam Taradisi: Esei-Esei Pesantren (LKiS, 2001); dan di antaranya membicarakan Pesantren sebagai Subkultur, Pesantren dan sekolah Umum, Dinamisasi dan Modernisasi, dan lain-lain.

Dalam tulisan “Prindip-Prinsip Pendidikan Pesantren” Gus Dur mengemukakan soal esensi dari pesantren, yang tadi disebutkan tidak boleh hilang meskipun telah mengdopsi dan melakukan perubahan. Menurutnya, ada 3 hal penting, yaitu: kepemimpinan Kyai sebagai subkultur dan melakukan transformasi sosial harus tetap jalan; elemen dasar lain berupa pengajaran literatur universal yang terus dipelajari dan diajarkan dari generasi ke generasi; dan sistem nilai yang dikembangkan, dengan mengambil doktrin barokah yang memancar dari sang kyai kepada muridnya (hlm. 241); dan karenanya santri dalam belajar pada dasarnya perlu dilihat sedang beritarakat, sebagaimana guru juga harus berjuang untuk selalu mendidik dan mendoakan muridnya.

Dalam melakukan perubahan pesantren itu, menurut Gus Dur, diletakkan dalam 3 strategi yang berkembang di kalangan umat Islam: sosial-politik (yang menekankan formalisasi ajaran Islam ke dalam lembaga negara melalui partai politik), kultural (melakukan pengembangan kepribadian yang matang melalui upaya memperluas wawasan, melebarkan ruang komitmen mereka, memperlebar wawasan kompleksitas masalah, dan sejenisnya, sehingga umat diajak bisa bersikap rasional yang terukur), dan strategi sosiokultural (dengan mengembangkan kerangka berpikir masyarakat dengan menggunakan prinsip-prinsip dan nilai-nilai Islam, dengan menjadikan Islam sebagai etika sosial). Menurut Gus Dur: “langkah yang aman, akan menghasilkan baik strategi kultural maupun strategi sosiokultural di antara mayoritas pesantren” (Menggerakkan Tradisi, hlm. 250).

Jadi, dalam perubahan dan upaya menyerap itu, esensi dan nilai-nilai tidak diubah, tetapi metode, strategi, dan prasarana/alat-alat dapat diperbaiki, sehingga ada kesinambungan. Dan inilah, yang juga disebut oleh Gus Dur dengan istilah dinamisasi, yang disebutkan di buku itu juga. Kata dinamisasai itu, menurut Gus Dur: “Penggunaannya di sini akan memiliki konotasi mafhum “perubahan ke arah penyempurnakan keadaan”, dengan menggunakan sikap hidup dan peralatan yang sudah ada” (Menggerakkan Tradisi, hlm.53), yaitu tradisi di pesantren itu sendiri; dan pada saat yang sama siap menerima perubahan yang dibutuhkan untuk kemaslahatan.

Nur Kholik Ridwan, Pengajar STAISPA PP Sunan Pandanaran, Yogyakarta.