Makna Tasawuf Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Al-Imam Ibn ‘Atha’illah Al-Sakandariy dan Ajaran Tashawwufnya

Posted on

Oleh: KH Ahmad Ishomuddin, Rais Syuriah PBNU.

Ada tiga ilmu pokok dalam Islam yang biasanya diajarkan para kyai NU kepada para santri mereka. Ketiganya secara terpisah dan khusus dipelajari dan diajarkan sejak di pondok pesantren hingga di tengah komunitas muslim, yaitu ilmu tauhid, ilmu fikih, dan ilmu akhlak/tashawwuf.

Adapun selain ketiganya biasanya hanyalah ilmu alat, yakni sebagai sarana bantu untuk memahami ketiga ilmu pokok tersebut, seperti ilmu bahasa Arab (nahwu, sharaf, dan balaghah), ilmu ushul al-fiqh, ilmu logika (ilmu al-mantiq), ilmu astronomi (ilmu al-falak), ilmu-ilmu tafsir, ilmu-ilmu hadits, dan sebagainya.

Di pondok-pondok pesantren NU ketiga ilmu pokok tersebut masing-masing dituangkan dalam wujud kitab klasik kuning berbahasa Arab gundul, yakni tanpa tanda-tanda baca sedikitpun, yang sering saya sebut sebagai “al-kutub al-shafra’ al-qadimah.”

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Bagi santri pemula akan cukup sulit untuk sekedar membacanya dengan benar, sesuai kaidah-kaidah bahasa Arab yang relatif rumit, apalagi untuk memahami substansi yang dimaksudkan oleh para penulisnya. Oleh sebab itu, agar tidak tersesat atau keliru dalam memahami detil-detil dari masing-masing ketiga ilmu pokok ajaran Islam (tauhid, fikih, dan akhlak/tashawwuf) para santri selalu dibimbing oleh para kyai mereka, baik dalam teori maupun prakteknya.

Bidang ilmu pokok ajaran Islam yang terakhir saya sebutkan, yakni ilmu Tashawwuf, juga banyak diajarkan. Para santri bahkan merasa tidak asing dengan karya-karya monumental di bidang tashawwuf dari al-Imam Abu Hamid al-Ghazzali al-Thusi (lahir 450 H.-wafat 505 H.) mulai dari kitab Bidāyat al-Hidāyah, Minhāj al-‘Ābidīn, hingga Kitab Ihyā’ Ulūm al-Dīn. Mereka juga ada yang mempelajari kitab tashawuf karya al-Imām al-Ushūliy al-Muhaddits Abd al-Karīm bin Hawāzin al-Qusyairiy (lahir 376 H.- wafat 465 H.), yakni kitab al-Risālah al-Qusyairiyyah. Dan para kyai juga sering kali membacakan kitab karya al-Imām Ibn ‘Athāillāh al-Sakandariy , yaitu kitab al-Hikām.

Tokoh shufi besar yang saya sebut terakhir ini nama singkatnya adalah al-Imam Ibnu ‘Athāillāh. Sedangkan nama lengkapnya adalah Ahmad bin Muhammad bin ‘Abd al-Karīm bin ‘Athāillāh. Ia diberi gelar Tāj al-Dīn, Abi al-Fadl, dan Abi al-‘Abbāsiy. Ia tinggal di kota al-Iskandariyah, sehingga para penulis biografinya menisbatkan namanya dengan tempat tinggalnya itu dengan sebutan al-Iskandaraniy, al-Sakandariy, atau al-Iskandariy.

Salah seorang pen-syarah al-Hikam, Ibn ‘Ajībah dalam kitab Iqādz al-Himam fi Syarh al-Hikām Juz 1 halaman 10 telah menyebut dengan rinci nama dan nasabnya sebagai berikut,

هو الشيخ الإمام تاج الدين وترجمان العارفين أبو الفضل أحمد بن محمد بن عبد الكريم بن عبد الرحمن ابن عبد الله بن أحمد بن عيسى بن الحسين بن عطاء الله الجذامي نسبا المالكي مذهبا الإسكندري دارا القاهري مزارا الصوفي حقيقة الشاذلي طريقة أعجوبة زمانه ونخبة عصره وأوانه المتوفى في جمادى الآخرة سنة تسع وسبعمائة.

“Dia adalah al-Syaikh al-Imām Tāj al-Dīn, Tarjumān al-‘Ārifīn Abū al-Fadl Ahmad bin Muhammad bin ‘Abd al-Karīm bin ‘Abd al-Rahmān Ibn ‘Abd Allāh bin Ahmad bin ‘Īsā bin al-Husain bin ‘Athāillāh, bernasab kepada al-Judzāmiy, bermadzhab al-Mālikiy, al-Iskandariy daerahnya, al-Qāhiriy adalah tempat sucinya, al-shūfiy pada hakikatnya, al-Syādziliy tarekatnya, keajaiban pada zamannya, kelas elit pada masa dan waktunya, wafat pada Jumādā al-Ākhirah tahun 709 H.”

Terlihat dari nasabnya, sebagaimana ditulis oleh para penulis biografinya, beliau berasal dari bangsa Arab, asal para kakeknya dari al-Judzāmiyyīn yang datang ke Mesir lalu menetap di kota al-Iskandariyyah setelah berkembangnya Islam. Keluarganya sibuk menekuni dan mengajarkan ilmu-ilmu keislaman, karena kakeknya, yakni al-Syaikh Abu Muhammad ‘Abd al-Karīm bin ‘Athāillāh adalah seorang faqīh (ahli fikih) yang terkenal pada masanya.

Al-Imam Ibn ‘Athāillāh al-Sakandariy yang lahir dan bertumbuh kembang di Iskandariyyah ini sebelum tahun 674 H. telah belajar ilmu-ilmu keagamaan seperti tafsir, hadits, fikih, ushūl al-fiqh, nahwu, bayān, dan sebagainya dari para gurunya saat itu. Kota Iskandariyyah saat itu menjadi markaz, pusat kajian penting dari ilmu-ilmu tersebut. Setelah tahun 674 H. tersebut ia menjadi murid Abu al-‘Abbās al-Mursiy, belajar tashawwuf dalam Tarekat al-Syādziliy.

Sebelum menjadi murid al-Mursiy, ia–seperti kakeknya yang seorang ahli fikih pada masanya–adalah seorang penentang keras para penganut tashawwuf. Penentangannya ini bisa dimaklumi karena lingkungan sekitarnya yang sangat dipengaruhi oleh fikih yang begitu kuat terikat pada bunyi lahiriyah teks-teks syar’iyyah, yang tentu bukan bidang garapan tashawwuf yang terfokus pada ilmu tentang hukum-hukum batin (‘ilm ahkām al-bāthin).

Baca Juga >  Ketika Kaum Tradisionalis Menjawab "Tuduhan Miring" Kaum Modernis

Pengingkarannya yang keras terhadap tashawwuf itu membawanya kepada pengingkaran terhadap para tokohnya pada masa itu. Di antara yang ia ingkari adalah Abū al-‘Abbās al-Mursiy, seorang tokoh ahli tashawwuf paling terkenal pada masanya di al-Iskandariyyah. Namun, di balik pengingakaran terhadapnya terselip bermacam kekuatiran dalam hatinya, karena boleh jadi itu adalah pengingkaran yang tidak didukung oleh alasan yang benar. Oleh sebab itu, Ibn ‘Athāillāh segera melakukan introspeksi diri dan klarifikasi (tabayyun) kepadanya.

Setelah perjumpaannya dengan Abū al-‘Abbās al-Mursiy, ia tunduk total kepadanya, mengakui ilmu dan keutamaannya dan bahkan menjadi murid utama yang menyertainya selama 12 (dua belas) tahun serta belajar langsung Tarekat al-Syādziliyyah kepadanya. Ia menjadi murid utama yang sangat disayanginya, sehingga ia benar-benar menjadi seorang tokoh shufi sekaligus guru spiritual (mursyid) yang sempurna, shufi yang telah mencapai puncak pengenalan akan Allah subhānahu wa ta’ālā.

Selanjutnya ia menuju Kairo dan tinggal di kota ini hingga wafatnya di al-Madrasah al-Manshūriyyah, Kairo, pada tahun 709 H.
Di kota Kairo inilah al-Imām Ibn ‘Athāillah al-Sakandari matang dan sempurna sebagai ahli tashawwuf (shūfī) sekaligus sebagai pakar ilmu fikih dalam madzhab Mālikiy (faqīh mālikiy).

Dari hasil didikan tangan dinginnya terlahir sejumlah ahli fikih (fuqahā’) dan ahli tashawwuf. Di antara mereka yang terkenal adalah al-Imām Taqiy al-Dīn al-Subkiy (wafat 756 H.), orang tua Tāj al-Dīn al-Subkiy (wafat 771 H.), penulis kitab Thabaqāt al-Syāfi’iyyah al-Kubrā. Kepakarannya dalam fikih madzhab al-Mālikiy dan ketinggian derajatnya ditunjukkan oleh karya tulisnya di bidang fikih madzhab tersebut dalam judul Mukhtashar Tahdzīb al-Mudawwanah li al-Barādi’iy, sebagaimana dituturkan oleh al-Imām al-Suyūthiy. Kepakarannya dalam bidang fikih tersebut bertambah sempurna karena ia juga mengajar fikih, hadits, dan lain-lain di al-Azhar, selain tentu mengajarkan tashawwuf dan memberikan ceramah “maw’idzah hasanah” untuk kalangan awam.

Penulis kitab al-Dībāj al-Madzhab memberikan kesaksian tentang ketinggian derajatnya itu dengan tulisan sebagai berikut:

كان جامعا لأنواع العلوم من تفسير وحديث وفقه ونحو وأصول وغير ذلك وكان رحمه الله متكلما على طريق التصوف واعظا انتفع به خلق كثير وسلكوا طريقه.

“Padanya terkumpul bermacam-macam ilmu seperti tafsir, hadits, fikih, nahwu (tata bahasa Arab), Ushūl al-Fiqh, dan sebagainya. Ia–semoga Allah merahmatinya–adalah mutakallim (ahli ilmu Kalam) berdasarkan metode tashawwuf, seorang pemberi nasehat yang bermanfaat bagi banyak orang dan banyak orang telah mengikuti jejaknya.”

Ajaran Tarekat al-Syādziliyyah menurut yang disimpulkan oleh al-Imām Ibn ‘Atha’illāh al-Sakandariy bertumpu pada 5 dasar sebagai berikut:

١- تقوى الله في السر والعلانية

(Bertakwa kepada Allah dalam keadaan sendiri dan saat bersama orang banyak).

٢- واتباع السنة في الأقوال والأفعال

(Mengikuti al-Sunnah dalam ucapan-ucapan maupun perbuatan-perbuatan).

٣ – والإعراض عن الخلق في الإقبال والإدبار

(Berpaling dari makhluk saat berhadapan dan tidak berhadapan dengan mereka).

٤- والرضا عن الله في القليل والكثير

(Ridla kepada Allah dalam apa yang sedikit maupun banyak).

٥- والرجوع إلى الله في السراء والضرآء

(Kembali kepada Allah dalam kondisi lapang maupun kondisi sempit).

Al-Imām al-Syādziliy sendiri maupun muridnya, al-Imām Abū al-‘Abbās al-Mursiy, tidak menyusun karya tulis di bidang tashawwuf. Yang mereka berdua wariskan hanyalah sejumlah pernyataan (aqwāl) dalam tashawwuf, sebagian doa dan al-ahzāb (hizib-hizib).

Al-Imām Ibn ‘Athāillāh adalah orang yang mula-mula mengkodifikasi ucapan-ucapan, wasiat-wasiat, doa-doa, dan sejarah hidup dari kedua guru spiritualnya tersebut. Jika bukan karena jasanya, niscaya lenyap sudah warisan sangat berharga di dunia Islam ini, yakni tidak akan pernah ada tarekat sunni yang murni, yang bernama al-Tharīqah al-Syādziliyyah, baik teori-teorinya maupun prakteknya.

Tarekat ini adalah tarekat yang para mursyidnya tidak mengajarkan kepada para muridnya agar memakai pakaian para ahli tashawwuf (libās al-fuqarā’) yang teramat sederhana, terkadang dipenuhi tambalan, dan tidak menganjurkan mereka untuk berlapar-lapar. Bahkan sebaliknya, tarekat al-Syādziliyyah menganjurkan agar memakai pakaian yang terbaik dan terindah, bukannya untuk pamer dan berbangga-bangga, melainkan untuk menjaga wibawa dan kehormatan, serta mengajarkan untuk menyantap makanan terbaik dan terlezat asalkan halal lagi baik (halālan thayyiban).