aksi reuni 212

Aksi 212 dan Kisah Kelam Kematian Utsman bin Affan

Posted on

Menurut sejarawan al-Thabari, jenazah kakek tua itu terpaksa “bertahan dua malam karena tidak dapat dikuburkan”. Ketika mayat itu disemayamkan, tak ada orang yang bersembahyang untuknya. Siapa saja dilarang menyalatinya. Jasad orang tua berumur 83 itu bahkan diludahi dan salah satu persendiannya dipatahkan. Karena tak dapat dikuburkan di pemakaman Islam, maka terpaksa dimakamkan di Hisy Kaukab, wilayah pekuburan Yahudi.

Siapa dia?

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Dia adalah Usman bin Affan, khalifah ke-3. Sahabat Rasul yang di angkat sebagai khalifah pada tahun 644 itu–melalui sebuah musyawarah terbatas antara lima orang. 12 tahun kekhalifahannya berujung pada pembunuhan. Para pembunuhnya bukan orang Majusi, bukan pula orang yang murtad, tapi orang Islam sendiri yang bersepakat memberontak.

Pada tahun 661, setelah lima tahun memimpin, Ali dibunuh dengan pedang beracun. Ali bin Abi Thalib khalifah ke-4 itu wafat setelah dua hari kesakitan.

Siapakah pembunuhnya? Bukan orang yahudi atau orang kafir tetapi orang Islam sendiri yang diketahui pengetahuan agamanya luas. Dia adalah Abdurrahman bin Muljam Al-Muradi, adalah orang yang di kenal sangat taat dalam aqidah.Ia seorang ahli ibadah, ahli shalat, shaum, dan penghafal Al-Qur’an. Sebagai hukuman karena membunuh Ali, tangan dan kakinya di penggal, matanya di cungkil, dan lidahnya dipotong. Mayatnya dibakar.

Kekerasan di balas kekerasan. Tidak ada hukum yang beradab dalam kontek politik. Padahal Islam tidak mengajarkan itu. Tetapi politisasi agama punya dalil untuk itu.

Pertanyaannya adalah mengapa sampai orang Islam membunuh Usman yang jelas sahabat terbaik rasul dan Nabi sendiri telah menjamin dia akan masuk surga. Mengapa sampai orang tega membunuh Ali yang jelas keluarga Nabi dan juga menantu Nabi Muhammad.

Baca Juga >  Kantor PCNU Surabaya Sentra Pergerakan Islam dan NU dalam Pertempuran 10 Nopember 1945

Mengapa? Ternyata sumber masalah soal politik kekuasaan. Ya politisasi Islam. Mereka yang kebelet ingin berkuasa menebarkan fitnah dan ujaran kebencian terhadap penguasa. Tentu menggunakan dalil cocokologi. Akibatnya seperti halnya Abdurrahman bin Muljam Al-Muradi, karena tenggelam dalam fitnah Khawarij, ia menjadi pembunuh. Menurut Sabda Nabi, kelompok Khawarij adalah kaum yang banyak membaca Al-Qur’an tetapi tidak memahami apa yang dibaca. Bahkan memahaminya dengan pemahaman yang menyimpang dari kebenaran. Merekalah sebetulnya musuh islam. Musuh peradaban.

Dalam sejarah Islam—sebagaimana yang umumnya sudah diketahui. Jika islam di politisir, yang terjadi adalah sebuah riwayat panjang tentang arus yang surut. Penyair muslim kelahiran India, Hussain Hali (1837-1914), yang menggambarkan bagaimana peradaban yang pernah jaya pada abad ke-8 itu akhirnya ”tak memperoleh penghormatan dalam ilmu, tak menonjol dalam karya dan industri”.

Yang kemudian berlangsung adalah Islam yang hanya sibuk dengan urusan langit dan lupa akan bumi yang mengharuskan bersaing mendapatkan kemakmuran dengan jerih, iktiar atas dasar iptek. Politisasi Islam output nya hanyalah kumpulan orang yang tak henti menyalahkan siapapun.

Aksi 212 itu adalah output dari politisasi Islam. Mereka tidak mendapatkan kehormatan dalam peradaban cinta dan kasih sayang dan terpinggir dengan sendirinya dari kemajuan zaman.

(Penulis: Erizeli Bandaro)