Abul Aswad ad-Du’ali dan Sejarah Lahirnya Ilmu Nahwu

Abul Aswad ad-Du’ali dan Sejarah Lahirnya Ilmu Nahwu

Posted on

Abul Aswad ad-Du’ali dan Sejarah Lahirnya Ilmu Nahwu.

Kisah tentang yang pertama meletakkan ilmu nahwu.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

“Yang pertama kali ku “sorog-kan” pada Amirul Mukminin Sayyidina Ali adalah lafadz Inna dan saudarinya tanpa lafadz lakin,” kata Syaikh Abul Aswad ad-Du’ali.

“Lha mana lafadz lakin?” tanya beliau.

“Tidak kumasukkan. He he.”

“O, lafadz lakin termasuk dari saudarinya Inna lho, masukkan. … Ah indahnya contoh-contoh yang kau misalkan.” Pungkas beliau. Karenanya ilmu ini disebut dengan ilmu contoh; ilmu nahwu.

Masyhur! Walaupun yang kondang sebagai bapak nahwu (Gramatika arabik) adalah Syaikh Abul Aswad ad-Duali (Ada yang membaca dengan wazan fuila: Duila), tapi hakikatnya, pencetus pertama ilmu peneliti lafadz-perlafadz qur’an hadis itu adalah Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah.

Ketika Abul Aswad ad-Duali sowan ke ndalem Sayyidina Ali. Ia mendapati beliau sedang memegang kertas.

“Maaf, Amiral Mukminin, kertas itu?”

“O, ini?!” sambil melihat kertasnya, “Setelah kupikir-pikir. Gegara banyak orang arab yang bergaul dengan non arab, tatabahasa arab hancur. Aku ingin membuat sebuah pondasi rujukan, agar grammar arabic ini benar, sesuai jalurnya lagi.”

Lalu beliau menyodorkan tulisannya pada Abul Aswad. Bunyinya: “Ucapan, semuanya, tak terlepas dari isim, fi’il, dan huruf. Isim adalah yang memberitahukan/menginformasikan tentang yang ditunjuk/disebut. Fi’il adalah perbuatan yang dikisahkan/dilekatkan pada isim. Huruf adalah lafadz yang datang dengan keragaman maknanya.”

Baca Juga >  Hadits Shahih tentang Puasa Syawal

Kemudian Sayyidina Ali memberi arahan: “Carilah misal lain pada penyontohanku; kembangkanlah sesuai penelitianmu. O, anu, Abal Aswad. Isim ada tiga pembagian: Dzahir (jelas), mudzmar (tersimpan/tidak jelas), dan ada isim yang bukan dzahir, bukan pula mudzmar (isim mubham).

وإنما يتفاضل الناس يا أبا الأسود فيما ليس بظاهرٍ ولا مضمر

“Tahukah kamu, Abal Aswad?! Manusia saling berlomba mengagulkan dirinya, tentang hal yang tidak jelas.”

Dan ada yang menterjemah dawuh pamungkas Sayyidina Ali diatas dengan: “Tahukah kamu, Abal Aswad?! Keunggulan serta keistimewan manusia itu, sebab ketidakjelasannya. Ia bukan Dzahir; yang bisa dibaca sekilas. Bukan pula dzamir, selamanya penuh rahasia.

Demikian kisah Abul Aswad ad-Du’ali dan Sejarah Lahirnya Ilmu Nahwu, semoga manfaat.

(Wallahu A’lam bis-Shawaab. Nuzhatul al-Baa’nya Imam Kamaluddin al-Anbari Hal: 17 dengan sedikit penyuntingan dan penyesuaian bahasa)

Penulis: Robert Azmi, Nganjuk.