1945, Jepang Pesan Percetakan Al-Quran Sebanyak 100.000 Eksemplar  

cetak modern jepang

Bagi peneliti, kebahagian itu ketika menemukan hal baru. Data baru. Orisinil. Otentik. Mematahkan temuan sebelumnya. Termasuk tentang Quran cetakan awal di Indonesia. sebelumnya, data yang ada menyebutkan bahwa quran cetak awal adalah Penerbit Nabhan Surabaya 1951 dan Afif Cirebon 1951.

Al-Qur’an Afif adalah sebutan untuk mushaf Al-Qur’an yang diterbitkan dan didistribusikan oleh Maktabah al-Misriyah Cirebon milik Abdullah bin Afif. Penerbit ini berlokasi di perkampungan Arab Cirebon. Berlokasi samping Toko Kitab At-Tamimi. Pe-nerbit Afif pernah mencetak Al-Qur’an pada tahun 1933 (1352 H). Selain itu juga menerbitkan kitab-kitab dari Mesir dan karya ulama Indonesia. Quran Afif masih bisa ditemukan pada decade 1990-an.

Quran Jepang

Pada tahun 1945 Penerbit Afif memperoleh pesanan pencetakan Al-Qur’an sebanyak 100.000 eksemplar dari pemerintah Jepang. Pada saat itu Gunseikan (Kepala Pemerintah Militer Jepang) melalui Maklumat No. 22 tanggal 29 April 1945, mendukung dan memenuhi tiga tuntutan umat Islam, yaitu [1] libur hari Jumat setengah hari mulai 1 Mei 1945; [2] pendirian Sekolah Tinggi Islam (STI) di Gondangdia, Jakarta, pada 8 Juli 1945 yang diusulkan Masyumi – kelak menjadi Universitas Islam Indonesia dan Institut Agama Islam Negeri; [3] mencetak Al-Qur’an – Jepang telah berjanji mencetak Al-Quran sejak awal September 1944, namun baru terealisasi pada 11 Juni 1945.

Dari hasil perundingan, percetakan Afif akan mencetak 100 ribu Al-Qur’an dengan harga 47 sen per buah. “… Tanggal 11 Juni pemerintah mulai melangsungkan pencetakan Al-Qur’an. Upacara pencetakan dihadiri oleh pemuka-pemuka Shumubu (Kantor Urusan Agama) dan Masyumi, di antaranya K.H. A. Wahid Hasjim, A.K. Muzakkir, H. Djunaedi, M. Zaim Djambek. Hadir pula Abdullah bin Afif dari Cirebon yang akan memimpin pencetakan itu,” tulis Sinar Baroe, 12 Juni 1945. Di Sumatra, pemerintah Jepang menghadiahkan kertas untuk mencetak Al-Qur’an pada peringatan hari “Sumatera Baroe” serta sebagai bentuk terima kasih atas kerja sama kaum muslimin dengan pemerintah. “Sumatra Saiko Sikikan (Panglima Balatentara Jepang di Sumatra) telah mengha¬diahkan sejumlah kertas kepada kaum muslimin untuk mencetak 1.000 jilid kitab suci Al-Qur’an,” tulis Soeara Asia, 11 April 1945.

(Penulis: Hakim Najib Syukrie, Lajnah Pentashih Al-Qur’an Kemenag RI)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *