Kalau dalam kajian sebelumnya saya menjelaskan kesulitan menemukan teori pendukung bagi penolak sistem zonasi, maka sebaliknya, itu tidak terjadi ketika saya mencari landasan teoritis yang mendukung sistem zonasi dalam PPDB itu.
Beberapa teori pendidikan dan teori psikologi seperti teori Pendidikan Multikultural, Pendidikan Kewarganegaraan, Pendidikan Inklusi, Pendidikan Karakter, Teori Psikologi Multiple Intelegence dll mempunyai korelasi dan kontribusi yang kuat untuk menjadi dasar bagi pengembangan dan penerapan sistem zonasi.
Beberapa gambaran teori itu antara lain sebagai berikut;
1) Teori Pendidikan Karakter
Prinsip Pendidikan Karakter adalah berusaha mengembangkan kemampuan intelektual, sosial, emosional, dan etis pada peserta didik serta untuk meningkatkan komitmen bersama agar peserta didik mampu menjadi orang yang bertanggungjawab, peduli dan menjadi warga negara yang baik dan bermanfaat bagi yang lain (Althof dan Berkowitz, 2006).
Dalam hal ini, prinsip pendidikan karakter jelas menjadi landasan dasar bagi sistem zonasi yang menerapkan pemerataan pendidikan bagi para siswa dengan berbagai latar belakang sosial ekonomi dan kemampuan yang berbeda.
2) Teori Pendidikan Multikultural
Prinsip dasar Pendidikan Multikuktural adalah mendorong agar mereka tidak hanya memahami mata pelajaran yang diajarkan padanya tapi juga mampu mempraktekkan pemahaman mereka tentang berbagai keragaman budaya seperti agama, ras, suku, klas sosial ekonomi hingga keragaman kemampuan dll. Pemahaman tentang keragaman itu kemduian dijadikan alat untuk memudahkan mereka dalam memahami mata pelajaran yang mereka pelajari. Begitu pula sebaliknya (James J Banks, 1986)
Konsep pendidikan ini sangat erat dengan apa yang ingin dicapai oleh sistem zonasi yaitu siswa dapat menjadi maju bersama meski latar belakang budaya dan kemampuan mereka berbeda.
3) Teori Pendidikan Moral
Teori pendidikan ini adalah salah satu model pendidikan karakter yang cukup tua. Filosof klasik seperti Konfusius dan Aristoteles adalah penggerak pendidikan moral yang percaya bahwa dengan mengajarkan nilai-nilai moral, maka masa depan ummat manusia akan menjadi lebih baik (Althof dan Berkowitz, 2006: 495).
Dalam hal ini, Pendidikan Moral jelas menjadi dasar yang kuat bagi sistem zonasi yang berupaya meminimalkan eksklusifisme dan diskriminasi.
4) Teori Citizenship Education
Adalah penggunaan berbagai macam strategi dalam pendidikan untuk mengajarkan ide-ide tentang kewarganegaraan kepada para siswa sebagai generasi masa depan (John C Cogan, 1999). Berbagai macam strategi di sini adalah cara-cara yang bersifat demokratis dan adil.
Dari konteks ini, sistem zonasi adalah bagian dari strategi langsung dalam menerapkan keadilan bagi semua warga negara untuk mendapatkan pendidikan yang baik dan berkualitas.
5) Teori Psikologi Multiple Intelejen atau Emotional Intelejen
Howard Gardner, salah satu ahli psikologi perkembangan legendaris dari universitas Harvard menjelaskan pentingnya teori Multipel Intelejen yang dia temukan untuk membangun karakter anak dalam pendidikan.
Menurut Gardner dalam teorinya Multiple Intelejen (1992) menjelaskan bahwa setiap anak mempunyai kelebihannya masing-masing, ada yang mempunyai kecerdasan verbal linguistik atau bahasa, logikal matematis, spatial-visual, bodi-kinestetik, musikal, interpesonal, naturalis dan kecerdasan, dan existensial.
Dalam melihat kemampuan anak, sebaiknya seorang pendidik tidak hanya melihat dari satu sisi kecerdasan anak seperti yang umumnya terjadi selama ini yaitu kecerdasan logikal-matematis, tapi melihat kecerdasan lainnya sehingga anak dapat saling memahami, mengisi dan membantu satu sama lain.
Nah, dalam kontek melihat siswa dari berbagai macam keserdasan mereka masing-masing ini lah, keterkaitan antara teori multiple intelegence dengan sistem zonasi sangatlah erat.
Demikianlah, banyak teori terkait yang menjadi dasar keilmuan dari sistem zonasi ini. Namun demikian, karena keterbatasan tempat dan waktu, tidak semua dari teori-teori itu dapat kita bahas dalam diskusi kali ini.
Jadi, karena alasan teoritisnya jelas dan kuat, pemerintah seharusnya tidak ragu untuk tegas dalam menerapkan sistem zonasi dalam PPDB ini.
Sebaliknya, para pengkritik dan penolak sistem zonasi tidak punya landasan teori yang kuat, tapi mereka lebih banyak mendasarkan pendapatnya pada opini dan asumsi.
Penulis: Dr KH Ainul Yaqin, Ketua Lakpesdam PWNU DIY dan Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.








