Bangkitmedia.com, YOGYA – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DIY siap menggelar Konferensi Wilayah (Konferwil) ke-16 di Pondok Pesantren Al Miftah Nanggulan Kulonprogo, 16 Januari 2027. Terkait pelaksanaan tersebut, panitia juga merilis logo sebagai identitas kegiatan.
Bukan hanya logo semata. Namun, terdapat filosofi dan semangat membara yang terkandung di dalamnya. Logo Konferwil ke-16 PWNU DIY merupakan perpaduan antara identitas Nahdlatul Ulama, semangat khidmah, nilai keIslaman, persatuan, serta identitas budaya Yogyakarta. Seluruh elemen divisualisasikan dalam bentuk yang dinamis, modern, dan elegan sebagai representasi perjalanan organisasi menuju masa depan.
1. Bentuk Api / Lembaran yang Menjulang
Dua bentuk lengkung yang mengarah ke atas melambangkan semangat, cita-cita, dan perjuangan yang terus menyala.
Arah yang menjulang menggambarkan tekad PWNU DIY untuk terus bergerak maju, menjaga tradisi, mengembangkan potensi, sekaligus menjawab tantangan zaman.
Makna:
“Semangat khidmah yang terus menyala, tumbuh, dan bergerak menuju masa depan.”
2. Bentuk yang Saling Mengikat
Lekukan hijau dan emas yang saling manyatu menggambarkan persatuan, kesinambungan, dan kekuatan ukhuwah.
Konferwil menjadi ruang bertemunya berbagai unsur NU di Daerah Istimewa Yogyakarta, yakni ulama, pengurus, kader, pesantren, lembaga, Badan Otonom, dan warga NU dalam satu ikhtiar bersama.
Makna:
“Berbeda peran, satu tujuan, berbeda langkah, tetap dalam satu ikatan.”
3. Bentuk Hati di Bagian Tengah
Ruang di bagian tengah membentuk kesan hati, yang melambangkan keikhlasan, kasih sayang, ukhuwah, dan pengabdian.
Makna ini menegaskan bahwa Konferwil bukan semata-mata forum organisasi, tetapi juga momentum untuk memperkuat hati, niat, dan komitmen dalam menjalankan khidmah kepada umat, bangsa, dan masyarakat.
4. Lambang Nahdlatul Ulama di Pusat
Lambang Nahdlatul Ulama ditempatkan di pusat sebagai penegasan bahwa seluruh gagasan, gerakan, dan keputusan Konferwil tetap berpijak peda nilai, tradisi, dan prinsip perjuangan NU.
Posisi sentral tersebut menggambarkan bahwa NU menjadi ruh, pijakan, sekaligus orientasi utama dalam setiap langkah organisasi.
5. Tugu Yogyakarta
Tugu Yogyakarta menjadi representasi identitas Daerah Istimewa Yogyakarta sekaligus simbol keteguhan, persatuan, keseimbangan dan arah perjuangan.
Posisinya yang menjulang ke atas merepresentasikan cita-cita luhur PWNU DIY untuk terus menegakkan nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan, sekaligus menegaskan bahwa Konferwil ke-16 berada dalam ruang kebudayaan Yogyakarta.
Tugu juga dimaknai melalui filosofi “tatag lan jejeg” — teguh dalam prinsip dan kokoh dalam pendirian. Nilai tersebut merepresentasikan komitmen untuk menjaga tradisi dan prinsip Ahlussunnah wal jamaah An-Nahdliyah, sekaligus tetap terbuka terhadap perkembangan dan perubahan zaman.
6. Warna Hijau
Warna hijau merupakan warna yang kuat dengan identitas NU dan dunia pesantren.
Secara filosofis, hijau melambangkan: kesuburan dan pertumbuhan, kedamaian dan kesejukan, harapan, serta
keberlanjutan.
Hijau menjadi simbol harapan agar PWNU OIY terus tumbuh, berkembang, dan memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat.
7. Warna Emas
Warna emas melambangkan:
– kemuliaan
– kebijaksanaan
– kejayaan
– kualitas, dan
– cita-cita luhur
Perpaduan hijau den emas menghadirkan karakter visual yang religjus, berwibawa, elagan, dan modern, sekaligus menggambarkan keseimbangan antara tradisi dan kemajuan.
8. Makna Keseluruhan Bentuk
Secara keseluruhan, komposisi logo menggambarkan perjalanan erganisasi yang berakar pada nikai-nilai NU, dipersatukan olrh ukhuwah, digerakkan oleh semangat khidmah, serta diarahkan menuju masa depan dan kemajuan peradaban. Setiap elemen saling melengkapi: NU sebagai ruh, hati sebagai niat dan keikhlasan, bentuk api sebagai semangat perjuangan, Tugu Yogyakarta sebagai identitas dan keteguhan, serta hijau dan emas sebagai simbol pertumbuhan dan cita-cita luhur. (*)








