pelantikan IPNU-IPPNU Pundong

Wakil Bupati Bantul Hadiri Pelantikan PAC IPNU-IPPNU Pundong

Posted on

PUNDONG, BANGKITMEDIA.COM

Sabtu malam (21 Desember 2019), suasana khidmat di Masjid Al-Mu’minin, Dusun Gedangan, Panjangrejo, Pundong, Bantul, begitu terasa. Alunan Sholawat Simthudduror yang diiringan hadrah menggema indah seusai nyanyian Lagu Indonesia Raya &Mars Syubbanul Wathon. Para jamaah nahdliyin di sekitaran wilayah Pundong yang hadir berdatangan sejak pukul 19.30 WIB begitu antusias untuk menyaksikan Pelantikan PAC IPNU-IPPNU Pundong Bantul.

“Alhamdulillah, kita patut bersyukur, malam ini, Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Pundong resmi dilantik oleh Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Kabupaten Bantul. Pergantian pengurus adalah sesuatu yang lumrah dalam organisasi, ini baik untuk penyegaran dan kaderisasi keorganisasian NU. Pengurus baru diharapkan mampu menyerap pengalaman pengurus sebelumnya, dan selanjutnya semoga bisa membuat kegiatan-kegiatan yang lebih baik. Acara Pelantikan IPNU-IPPNU ini diselenggarakan bersama Pengajian Rutin MWC Pundong setiap Malam Ahad Legi.” Demikian kata Kiai Mustafied Amna, Ketua MWC-NU Pundong.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Dalam acara tersebut nampak hadir perwakilan Muspika Kecamatan Pundong, Polsek, dan Kodim setempat. Tamu hadir lainnya para Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bantul, yakni ketua PC IPNU Bantul, Muhammad Irfan Faziri dan ketua PC IPPNU Bantul, Nur Istiana, yang memang secara organisasional bertugas melakulan pelantikan pengurus baru IPNU-IPPNU Kecamatan Pundong. Turut hadir pula, H. Abdul Halim Muslih, Wakil Bupati Bantul.

Dalam sambutan, Abdul Halim Muslih, menyampaikan beberapa hal. Pertama, memberikan ucapan selamat dan sukses kepada pengurus baru IPNU-IPPNU Kecamatan Pundong. Kedua, memberi pesan kepada pengurus baru untuk lebih bersemangat dalam berjuang demi kemajuan NU. Melaksanakan tugas-tugas kepengurusan dengan ikhlas agar setiap gerak kegiatan senantiasa mendapat pahala dan ridla dari Alloh SWT, selanjutnya dalam melakukan program-program kerja senantiasa berpedoman kepada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Nahdlatul Ulama, serta petunjuk Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Ketiga, kepada para jama’ah yang hadir terutama para orangtua, para pemuka agama, dan tokoh-tokoh setempat supaya memberi do’a pengestu serta motivasi kepada para jajaran pengurus NU, baik IPPNU-IPPNU, Ansor-Fatayat, Banser, LAZISNU, juga badan otonom NU lainnya di semua tingkatan, baik pengurus tingkat anak ranting, ranting, hingga tingkat MWC. Semuanya mari berjuang untuk NU sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.

Faham ASWAJA adalah pegangan kuat dari kaum santri, yaitu masyarakat yang berafiliasi secara kuat dengan pondok pesantren. Yaitu pengikut para pendahulu yang baik, mulai dari Nabi Muhammad, para Sahabat, para Tabi’in, para murid-muridnya, para wali dan ulama penerus ajaran dan tradisi, yang senantiasa secara berkelompok (ber-jama’ah), berjejaring saling memperkuat dan menjaga tradisi pendahulu. Hal penting dicatat, sejak masa sebelum kemerdekaan Indonesia hingga kini, para ulama seperti Hadratusy Syaikh KH.Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, dan Kyai-kyai lainnya mengikrar-dirikan Nahdlatul Ulama sebagai jama’ah pewaris setia dan pelaksana faham Aswaja,” tegas Halim.

Baca Juga >  MWCNU Lendah Gelar Konferensi ke-XI

Wakil Bupati Bantul ini juga menegaskan bahwa faham aswaja NU berbeda dengan penganut lainnya, Islam garis keras. NU menghargai Bhineka Tunggal Ika, tidak seperti aliran-aliran Islamala-Wahabi, aliran-aliran Islam garis keras seperti Hizbut Tahrir, Majelis Tafsir Qur’an (MTA), dan Jama’ah Tabligh.

“Kelompok-kelompok itu memiliki tujuan sosial politik berbeda-beda. Banding pembeda dengan Nahdlatul Ulama, kelompok garis keras tersebut adalah golongan yang eksklusif, menolak tradisi lokal, berciri ke-arab-an, bahkan ada yang menolak negarademokrasi yang dianut oleh Indonesia, yaitu seperti yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir. Ada juga juga aliran bawah tanah yangberurusan dengan polisi karena aksi-aksi teror, melakukan pelatihan militer, dan kekerasanbom diri. NU tidak seperti begitu, NU itu moderat, dalam konteks sosial politik tidak berfaham garis keras yang destruktif seperti terorisme atau pun tindakan kekerasan lainnya,” lanjut Halim.

“Untuk itu,  warga NU wajib membina generasi muda yang santun, berbuat baik untuk kemajuan bangsa,” pungkas Halim.

Sebagai akhir rangkaian acara, ada KH. Misbahul Anam, MSi, yang memberikankan mauidloh hasanah dan doa penutup. Dalam cerahamnya, KH. Misbahul Anam menyampaikan pesan utama kepada para jama’ah bahwa setiap orangtua sedianya senang dan bersyukur ketika anak-anaknya terlibat aktif kegiatan NU apalagi bisa menjadi pengurus IPNU-IPPNU yang sudah jelas mengikuti amalan-amalan para alim ulama.

“IPNU-IPPNU merupakan ajang aktifitas yang baik bagi generasi muda, sebab geliat kegiatannya mengikuti para ulama-pendahulu yang kalau diruntut akan jelas nasabnya dalam memperjuangkan ajaran Islam ala Ahlisunnah wal Jamaah. Para orangtua jangan khawatir terhadap putra putrinya yang ikut bergabung di dalam IPNU-IPPNU, karena IPNU-IPPNU adalah organisasi yang dikawal baik oleh para alim ulama. Para orangtua harus mendidik, dan mengarahkan putra putrinya untuk bergaul dengan teman-teman yang baik. Maka, dengan aktif di IPNU-IPPNU adalah jalan yang tepat, bisa menjadi komunitas lumbung ilmu dan amalan islami seperti yang diajarkan para kyai-kyai Nahdlotul Ulama.” Kata KH. Misbahul Anam.

Dalam akhir ceramahnya, KH. Misbahul Anam kemudian menutup dengan do’a. Sekaligus menjadi penutup seluruh rangkaian acara Pelantikan IPNU-IPPNU dan Pengajian Rutin (Selapanan Malam Ahad Legi) MWC-NU Pundong berakhir pada pukul 24.00Wib.

Kontributor: M. Anwar, Pundong.