Ujian Hidup Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Posted on

Oleh Edi AH Iyubenu, wakil ketua LTN PWNU DIY.

Kita cukup gampang untuk menyebut kekurangan dan keterbatasan hidup sebagai ujian. Lalu kita memegang nasihat “bersabar”. Namun, kepada keadaan yang berkelebihan, kita gamang untuk menyebutnya pula ujian, sehingga kita kesulitan untuk mengenalinya sebagai ujian hidup pula. Kepada yang kedua, kita lebih getol menyebutnya karunia semata.

Pada hakikatnya, kedua kondisi itu adalah ujian hidup semua. Cobaan dari Allah Ta’ala semua. Dikarenakan keduanya adalah berhakikat sama belaka, seyogianya kita pun mesti bersikap sama pula, yakni bersabar.

Bila kesulitan hidup sedang kita hadapi, mudah bagi kita untuk memahami peran penting sikap sabar ini. Tapi mengapa dalam keberlimpahan rezeki kita mesti pula sabar?

Mari kita ingat tuturan al-Qur’an bahwa kehidupan dunia ini adalah sekadar “permainan dan melalaikan, perhiasaan dan bermegah-megahan serta berbangga-bangga di antara kalian….dan di akhirat itulah terdapat azab yang pedih dan ampunan serta keridhaan dari Allah Swt….dan dunia ini sungguh tiada lain adalah kenikmatan yang penuh tipu daya” (QS. al-Hadid 20).

Dikarenakan sifat dasar dunia ini adalah “kenikmatan yang melalaikan”, sewajibnya kita bercermat selalu agar tak terjerumus. Mau berlimpah harta maupun terbatas, sikapnya sama: mawas diri dan hati-hati. Dan untuk bisa begitu, tiada lain mesti senantiasa bersabar.

Ujian dalam rupa keberlimpahan harta jelas lebih dekat kepada kerawanan jatuhnya diri pada “kenikmatan yang penuh tipu daya” itu. Bersabar di tengah godaan keberlimpahan itu, bisa dalam bentuk sabar diri dalam membelanjakannya dari hak-hal buruk, gemar bersedekah, selalu berendah hati, dll., menjadi tantangan hidup yang luar biasa beratnya.

Lalu, kerap kita bertanya kepada diri sendiri: apakah ujian hidup kita sekarang, entah dalam bentuk keberlimpahan atau keterbatasan harta, mengarah kepada kemaslahatan rohani ataukah bencana? Bagaimana kita mendeteksi dan memahaminya?

Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam kitabnya, Adab al-Suluk wa al-Tawasshul Ila Manazil al-Muluk, mengatakan: “Cobaan atas manusia kadang-kadang berupa hukuman atas pelanggarannya terhadap hukum dan dosa yang telah diperbuatnya, kadang-kadang berupa pembersihan noda, dan kadang-kadang berupa pemuliaan maqam rohani manusia.”

Boleh jadi, dulu kita terkecoh oleh kemilau harta duniawi dan terjatuh di dalamnya. Saat dikaruniaNya dengan ujian keberlimpahan harta, kita terjungkal di dalam kenikmatan yang melenakan itu. Kita kufur, ingkar, dan bermaksiat kepadaNya.

Lalu, Allah Swt menarik kita dari genangan lumpur maksiat dan dosa itu dengan cara mengurangi atau bahkan memutus “tali sambungannya” dengan limpahan harta itu. Inilah fase awal itu, yakni fase hukuman dariNya Swt.

Jika kita memahami kondisi tersebut sebagai hukuman Allah Swt di dunia kepada diri yang penuh dosa selama ini, insya Allah kita akan beranjak ke derajat kedua, yakni proses dibersihkanNya noda-noda dari rohani kita. Tapi jika kita berhenti di posisi pertama tadi, kita secara rohani takkan ke mana-mana dan hanya akan terus terbekap dalamsambatan-sambatan ketaksabaran yang berkepanjangan. Pada hakikatnya, dalam posisi terus mengeluh ini, kita tetaplah terbekap dalam keingkaran dan kekufuran kepadaNya. Na’udzubilLah min dzalik.

Sejatinya, hukuman duniawi ini sama sekali bukanlah untuk cuma meremuk-remukkan hidup kita. Bukan! Apa faedahnya buat Allah Swt? Tak ada!

Baca Juga >  Karomah Habib Sholeh Tanggul Sembuhkan Wabah "Makdeblug"

Justru hukuman duniawi ini mestilah kita pahami sebagai dipilihnya kita oleh Allah Swt untuk ditegakkan kembali pada diri kita hakikat iman, disucikan dari kesyirikan, kebanggaan diri, dan kemunafikan hidup selama ini. Bukankah ini bentuk Maha Kasih dan Sayang Allah Swt kepada kita?

Beliau qaddasahulLah berkata, “Maka segala bencana menjadi penyuci noda kesyirikan dan pemutus hubungan dengan manusia, sarana duniawi, dan dambaan-dambaan, dan menjadi pelebur ketamakan, kesombongan, dan harapan akan imbalan-imbalan surga atas penunaian-penunaian perintah.”

Mari bercermat pada narasi “harapan akan imbalan-imbalan surga atas penunaian-penunaian perintah”.

Kiranya, beliau qaddasahulLah hendak benar-benar menelisiki pikiran dan hati kita yang kelam, bahwa boleh jadi tanpa sadar atau diam-diam kita telah bersyirik kepadaNya justru di saat kita kencang melakoni amal-amal perintahNya, seperti ibadah-ibadah. Hanya saja, semua peribadatan kita tidak dihadapkan ke Hadirat Allah Swt, melainkan kepada dunia ini. Seperti beribadah dalam tujuan supaya kaya raya, hidup mulia, hingga masuk surgaNya.

Pamrih-pamrih harapan material cum keduniawian ini bisa menjadi hijab bagi rohani kita untuk bisa sinambung semata dengan Wajah Allah ‘Azza wa Jalla. Maka, boleh jadi, sekali lagi boleh jadi, Allah Swt lalu mencabut atau mengurangi limpahan rezekiNya selama ini dalam tujuan membersihkan rohani penuh syahwat bendawi tersebut.

Wala yusyrik bi’ibadati rabbihi ahada, dan janganlah menyekutukan Tuhandengan sesuatu pun dalam peribadatan kepadaNya….

Beliau qaddasahulLah lalu memberikan panduan gamblang untuk kita jadikan bekal diri dalam mendeteksi di posisi manakah kita sejatinya sedang berada di hadapan segala bentuk ujian hidup ini.

“Tanda cobaan yang berupa hukuman adalah kekurangsabaran atas cobaan-cobaan itu, dengan mengaduh dan mengeluh kepada manusia.”

Inilah ciri derajat pertama itu. Logisnya, siapa yang telah beranjak ke derajat kedua, ialah mampu mentas dari perasaan terhukum ini, dengan wujud: enyahnya sambatan-sambatan diri di tengah kesulitan apa pun. Ini menandakan telah mulai tercerahkannya rohani diri atas Ketetapan dan KehendakNya, dengan memandang kenyataan tersebut sebagai karuniaNya dan PertolonganNya Swt. Ini lalu diikuti dengan sikap patuh kepada syariat Allah Swt.

Terlihat jelas terjadinya pergeseran dan perubahan rohani kita dalam memandang realitas hidup yang sama itu.

Berikutnya, beliau qaddasahulLah mengatakan: “Adapun cobaan yang berupa pemuliaan maqam rohani ditandai dengan adanya keridhaan, berdamai dengan kehendak Allah Swt, dan penafian diri sepenuhnya dalam cobaan ini, hingga saat berlalunya.”

Setiap kita sungguh bisa merasakan dengan jernih tahap-tahap rohani tersebut di hadapan segala bentuk ujiannya, entah kekurangan rezeki maupun keberlimpahannya: apakah kita berada di derajat dihukum semata ataukah beranjak ke jenjang disucikan ataukah telah berada di derajat pemuliaan maqam rohani.

Sungguh, tiada wujud rohani lain yang lebih adiluhung di hadapan Kemahaan Allah Swt selain ridha semata kepada segala iradahNya.

Wallahu a’lam bish shawab.

Jogja, 16 Agustus 2019