Fana Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Posted on

Oleh Edi AH Iyubenu, wakil ketua LTN PWNU DIY.

Musuh terbesar diri adalah hawa nafsu. Hawa nafsulah yang selalu menciptakan “bentuk” (wujud) kepada diri kita, dan seiring waktu, bila terus berlanjut, tak disucikan, ia menjadi hijab. Hijab ini terus menjadi hijab berikutnya, dan berikutnya, hingga lapis-lapis ketebalannya tak terbayangkan lagi.

Jadi, hijab adalah bentuk (wujud) diri yang menghalangi diri sejati untuk bersatu dengan Alah Swt. Apa yang dimaksud ‘bersatu’ di sini bukanlah diri lalu menjadi Tuhan dan atau sebaliknya. Tidak. Sebut saja dalam istilah yang ‘aman’, ia adalah ketauhidan dan kemakrifatan

Maka bentuk itu harus dihancurkan….

Cara menghancurkannya ialah dengan menyucikan hati hingga mencapai derajat fana (lebur).

Syekh Abdul Qadir al-Jailani qaddasahulLah menyitir surat al-Qashash ayat 88: “Segala sesuatu pasti binasa kecuali Allah Swt….

Taubat adalah pintu pertama menuju taqarrub kepada Allah Swt. Segala perintah syariat kita laksanakan dengan sungguh-sungguh dan kita selami makna dan hikmahnya dengan mendalam. Tafakkur, tadabbur, dan taysa’ur menjadi lelaku akal kita untuk menjelajahinya hingga ia lebur di dalam hati. Inilah yang dimaksud dengan istilah ulul albab dalam al-Qur’an: yadzkurun wa yatafakkarun, berdzikir dan berpikir….

Syekh Abdul Qadir al-Jailani mengatakan: “Taqarrub harus dilakukan dengan meninggalkan ghairullLah, yakni segala yang selain Allah Swt dalam batinnya. Jika seseorang bertindak dan hidup dengan ghairulLah, berarti ia menyekutukan Allah Swt. Ia meletakkan ghairulLah di tempat Alah Swt. Perbuatan ini adalah dosa yang paling besar, yang tidak diampuni oleh Allah Swt karena ia telah berbuat syirik atau menyekutukan Allah Swt dengan ghairulLah.”

Pantaslah di titik ini kita mendengar tuturan para waliyulLah bahwa wujud diri adalah bentuk dosa yang paling besar di antara dosa-dosa besar apa pun. Yang dimaksud adalah dosa syirik itu, yang secara hakikat menghijabi diri dari kenal dan dekat dengan Allah Swt karena menuhankan ha-hal ghairulLah.

Dalam surat al-Furqan ayat 43, ada ayat yang mencela kondisi ini: “Tidakkah engkau melihat kepada orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya….

Beliau melanjutkan: “Tempat itu (semata Allah Swt; tidak terinfeksi ghairulLah) adalah tempat Hakikat yang sebenarnya, Hakikat bagi segala hakikat, tempat kesatuan dan keesaan dengan Allah Swt. Itulah tempat makhluk yang dinamakan ‘hamba’ untuk bertatap muka dengan Sang Khaliq yang disembahnya sebagai Tuan….”

Jadi, dapat kita pahami kini bahwa jalan menuju derajat fananya diri itu mestilah dikukuhkan dengan amaliah-amaliah salehah syariat. Tidak ada fana tanpa kepatuhan syariat yang tinggi. Kemudian amal-amal tersebut diperkaya dengan permenungan-permenungan dan pendalaman-pendalaman batiniah yang semata menghasrati kepada kemahaan Allah Swt.

Hasilnya ialah setiap dzikir, shalat, ngaji, dan segala ibadah kita, wajib maupun sunnah, dinisbatkan penuh semata ke hadiratNya dalam ketersambungan rohani yang intim dan manunggal.

Jika kita bahkan beribdah dengan maksud dan tujuan selain Allah Swt, sungguh dikhawatirkan hal itu terjatuh kepada sebutan beliau tadi sebagai menyekutukan Allah Swt dengan ghariulLah. Ini sekaligus menandakan diri kita masihlah jauh dari derajat fana tersebut, sekalipun kita sedang melakoni amal syariatnya. Mari berhati-hati selalu. Na’udzubilLah min dzalik.

Demikian juga dengan laku-laku keseharian lainnya. Kita perlu hati-hati dengan sangat jeli.

Berbisnis, misal, muasalnya adalah hal baik belaka. Jika kita niatkan untuk mencari rezeki Allah Swt dan menafkahi keluarga, ia menjadi kemuliaan.

Akan tetapi, bagi seorang salik, ia tak berhenti hanya sebatas laku lahiriah kemuliaan tersebut. Yang menjadi penting kemudian ialah apakah niat, perjalanan, dan hasil bisnis tersebut dinisbatkan penuh dan mutlak hanya kepada Allah Swt?

Baca Juga >  Ijabah Do'a Tamu Allah dari Riwayat Ibnu ‘Umar

Jika ternyata beroleh untung yang banyak, lalu terdesir peranan diri dengan kecerdasan, kehebatan, kegigihan, jaringan, modal, dan sebagainya, itulah ghairulLah yang menjadikan rohani terhijabi dari Allah Swt.

Maka seyogianya semuanya dinisbatkan semata kepadaNya, karuniaNya, pertolonganNya, kehendakNya, keputusanNya, yang paling baik buat diri kita, walau boleh jadi kita belum memahami hikmahnya. Mau untung atau rugi, itu diterimanya sebagai keputusan Allah Swt.

Seorang hamba yang sedemikian rupa terus tersambungkan dengan iradah Allah Swt, oleh Syekh Abdul Qadir al-Jailani disebut sebagai “wujud makhluk yang ‘bersatu’ dengan Wujud Khaliq dan keduanya tak dapat dipisahkan. Apabila semua hubungan dengan dunia telah diputuskan oleh seorang hamba yang telah ‘bersatu’ dengan Allah Swt, maka ia akan menerima kekudusan dan kesucian yang kekal dari Allah Swt.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani melanjutkan: “Orang yang sampai ke tahap kudus dan suci ini mendapatkan kesadaran, rasa cinta, dan rasa ‘bersatu’ sepenuhnya dengan Allah Swt. Allah Swt lalu akan menghiasinya dengan akhlak yang mulia dan tingkah laku yang terbaik. Ini adalah anugerah Allah Swt kepada orang yang suci. Pada tingkatan ini, si salik akan melepaskan sifat dan perangainya dari mengedepankan masalah-masalah keduniawian yang fana ini. Kemudian Allah Swt akan memberinya pakaian yang mengandung sifat-sifat dan akhlak ketuhanan. Apabila Allah Swt telah mencintai seorang hambaNya….niscaya ia akan dapat melihat dengan mata Allah Swt, mendengar dengan telinga Allah Swt, dan berkata-kata dengan lisan Allah Swt, dan bertindak serta berkuasa dengan tindakan dan kekuasaan Allah Swt. Demikianlah perumpaaan betapa dekatnya seorang WaliyulLah dengan Tuhannya.”

Kiranya, dalam ungkapan yang dekat dengan diri kita yang berjibaku dengan urusan duniawi ini, derajat fana seseorang bisa tertakar dari seberapa ia mampu melepaskan diri dari ketergantungannya kepada makhluk dan pernak-pernik dunia ini. Melepaskan diri bukan berarti selalu menjauhinya, meninggalkannya, membuangnya. Boleh jadi, tegasnya, menjadi bagiannya tetapi hatinya, rohaninya, tetaplah tersambungkan kepada Kemahaan Allah Swt dengan segala keputusan dan kehendakNya yang diterimanya dengan hati tenang dan tenteram.

Mari kita renungkan kini:

Apakah bila rezeki kita sedang naik, kita merujukanNya mutlak sebagai karunia dan pertolongan Allah Swt kepada kita, bukan karena kekuatan dan kemampuan diri ini? Jika iya, kita insya Allah telah mulai bisa fana.

Dan apakah bila rezeki kita sedang surut, tak sesuai harapan, kita pun serentak merujukkanNya kepada karunia dan kehendak Allah Swt yang terbaik buat diri kita kini? Jika iya, insya Allah kita mulai bisa fana.

Ketergantungan kepada makhluk dan pernak-pernik dunia ini memanglah merupakan sumber dari kesengsaraan hati kita. Hati yang sengsara seturut membuat hidup pun sengsara, bahkan di tengah kegemilangan gunungan harta sekalipun.

Ia menjadi makin parah bila dilumat hawa nafsu. Maka cara menyelematkan diri dari potensi-potensi kesengsaraan itu tiada lain adalah memfanakan hati kita darinya. Inilah ulasan logis yang seyogianya membuat kita paham betapa fana adalah jalan kebaikan bagi diri kita untuk menuju wajahNya Azza wa Jalla yang buahnya otomatis adalah kebahagiaan dan ketenteraman hidup kita sendiri.

Jogja, 12 Agustus 2019