Saudara/i-ku yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala….
Setiap Manusia yang diciptakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala memiliki Nafsu. Nafsu yang terdapat pada manusia adalah ujian Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jika Manusia mampu menguasai nafsunya, dia telah berjalan mengatasi salah satu ujian Allah yang cukup berat.
Sekiranya nafsu dididik ke arah kejahatan dan melalui sistem yang jahat, maka nafsu akan menjadi jahat dan liar. Maka akan lahirlah orang yang pandai tetapi jahat, orang bodoh yang jahat, pemimpin yang jahat dan pendidik yang jahat. Ini sangat berbahaya kepada kehidupan manusia. Sebab itu nafsu perlu dikenali tahap-tahapnya dan tingkatannya.
Nafsu secara fitrahnya berwatak jahat, kalau dibiarkan ia tetap jahat, betapalah kalau dididik ke arah kejahatan oleh sistem pendidikan yang jahat dan yang mengajar pun adalah orang yang jahat maka masyarakat akan menuju kepada kehancuran.
“Dan orang-orang yang berjihad (berjuang) untuk ( mencari keridaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al- Ankabut: 69).
Siapa yang bermujahadah terhadap nafsu, ditingkatkannya daripada jahat kepada baik, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberi petunjuk kepada jalan yang baik. Itu janji-Nya, sebab itu Nafsu perlu dididik dan diasuh mengikut telunjuk iman. Nafsu adalah musuh utama manusia dan musuh kedua manusia setelah Syaitan. Nafsu adalah musuh dari dalam sedangkan Syaitan hanya musuh dari luar. Bila nafsu sudah ditundukkan dan ia taat kepada perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala maka barulah Syaitan akan dapat di kalahkan.
Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabat pulang dari peperangan Badar, Rasulullah bersabda :
“Kita baru pulang dari peperangan yang kecil dan menuju peperangan yang maha besar.”
Para Sahabat bertanya : “Apakah peperangan yang maha besar itu ya Rasulullah?”
Beliau menjawab : “Perang melawan Nafsu.” (HR. Baihaqi)
Saudara/i-ku, dalam Al Quran, nafsu manusia terbagi tiga jenis yaitu:
- Nafsu ammarah bissu’.
Nafsu ini sangat berbahaya apabila melekat pada diri seseorang manusia, sebab ia suka mengarahkan manusia kepada perbuatan dan perilaku yang dilarang agama.
“Dan aku tidak membebaskan diriku ( dari kesalahan ), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Yusuf : 53).
Nafsu yang paling jahat dan paling zhalim. Jika berbuat kejahatan, dia berbangga diri dengan kejahatannya. Jika ada orang yang mengingatkannya tentang kejahatannya, dia akan menjawab, “Siapa saja yang mencoba untuk mengalangi tindakanku akan menanggung akibatnya!” Bayangkanlah, kalau orang seperti ini menjadi pemimpin dan berkuasa.
Nafsu amarah tidak dapat dikawal dengan sempurna oleh hati. Sekiranya hati tidak dapat meminta bantuan ilmu, hikmah kebijaksanaan dan akal, hati akan binasa. Justru itu seseorang mudah terjerumus ke arah perbuatan yang melanggar Syariat, tidak beradab, tidak berperi kemanusiaan, bertindak mengikuti sesuka hati, zhalim serta berbagai keburukan dan bencana kepada diri serta sekitarnya.
Susah untuk menegur/menasehati orang seperti ini, karena tidak peka dengan Kesalahan yang dilakukannya. Keras kepala! Nafsu Ammarah menduduki tahap paling rendah dalam kehidupan manusia, malah sebenarnya lebih Hina daripada binatang. karena binatang tidak mempunyai akal, sedangkan manusia mempunyai akal. Semoga Allah menjauhkan kita dari Nafsu Amarah.
2. Nafsu Lawwamah.
Nafsu ini adalah Nafsu yang sudah mengenal baik dan buruk. potensi/dorongan/hasrat/nafsu yang berusaha dikendalikan sesuai perintah Allah. Orang yang memiliki Nafsu ini tidak tetap pendiriannya untuk menjalankan ketaatan dan meninggalkan perbuatan dosa.
“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat- tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang- orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Maidah : 13).
Orang yang memiliki nafsu Lawwamah ini memiliki jiwa menyesali perbuatan salah yang dilakukannya dan berinisiatif untuk kembali ke landasan yang benar.
Contohnya semalam melakukan dosa dan perkara maksiat yang dilarang di sisi agama. Hari ini dia sadar akan kesalahannya karena terlalu mengikut nafsu, lalu ia insaf dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.
Orang yang banyak dikuasai Nafsu Lawwamah juga mudah memperbaiki diri dan mudah menerima teguran dan nasihat dari orang lain.
Ia juga tidak mudah hanyut dalam kesesatan yang membinasakan diri baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Selain dari itu, Nafsu Lawwamah juga sering memikirkan baik buruk, halal haram, betul salah, berdosa ataupun tidak dalam segala tindakan. Jelas Nafsu Lawwamah ini lebih baik dari Nafsu Amarah Bissu’.
3. Nafsu Mutmainnah
Nafsu ini adalah nafsu yang membuat pemiliknya tenang dalam ketaatan. Nafsu ini telah mendapat Rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan manusia yang mendapatkan Nafsu ini akan mendapat rida Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dunia dan akhirat. Orang ini akan mendapat “Husnul Khatimah” di akhir hidupnya sebagai pintu menuju syurga Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Robbmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30).
Orang yang memiliki Nafsu Mutmainnah dapat mengawal Nafsu Syahwatnya dengan baik dan senantiasa cenderung melakukan kebaikan. Dan Juga mereka mudah dan selallu bersyukur dan Qonaah di mana segala kesenangan hidup tidak akan membuat dia lupa diri, menerima Anugerah Ilahi seadanya dan kesusahan yang dialaminya pula tidak menjadikan dirinya Gelisah. Ini disebabkan hatinya ada ikatan yang kuat kepada Allah. Mereka juga mudah reda dan sabar dengan ketetapan dan ujian Allah.
Imam Al-Ghazali meletakkan nafsu ini di tahap yang tertinggi dalam kehidupan manusia. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memasukkan kita ke dalam golongan nafsu yang hebat ini.
Saudara/i-ku.. Marilah sama-sama kita didik hati dan jiwa kita kepada Nafsu Mutmainnah yaitu Nafsu yang terbaik dan yang paling dicintai Allah. Nafsu ini adalah nafsu yang paling di ridhai Allah. Keridhaan tersebut terlihat pada Anugrah yang diberikan-Nya berupa senantiasa berzikir, ikhlas, mempunyai karomah, dan memperoleh kemuliaan, sementara kemuliaan yang diberikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu bersifat universal, artinya jika Allah memuliakannya, siapa pun tidak akan bisa menghinakannya, demikian pula sebaliknya, orang yang dihinakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, siapa pun tidak bisa memuliakannya.
Saudara/i-ku..
Apakah pada saat ini kita masih menjadi tuan bagi nafsu kita?
Apakah kita pada saat ini masih diperbudak nafsu kita?
Mari kita melihat kembali ke dalam kehidupan kita sehari-hari.
Semoga Allah memberkahi kita dan memudahkan urusan kita di dunia dan di akhirat.
Yaa allah ,…
Berikan kami manfaat dari apa yang Engkau ajarkan kepada kami. Ajarkan kami apa yang bermanfaat bagi kami, serta beri kami rezeqi berupa ilmu yang dapat mendatangkan manfaat bagi diri kami.
Ya Allah, tolonglah kami agar selalu berdzikir / mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu.
Wahai Allah Yang Mulia …
Ampunilah dosa-dosa kami dengan kemuliaan Al-Musthofa (Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam). Lapangkanlah kami dari kesulitan.
Ya Robb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.
آمِيْـنَ آمِيْـنَ آمِيْـنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
(Ustadz Muhammad Alfatih Sukardi, kontributor bangkitmedia.com dari Pekanbaru Riau)








