Tauhid Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani (1)

Makna Tauhid Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani (6)

Oleh Edi AH Iyubenu, wakil ketua LTN PWNU DIY.

Tentulah kita semua sangat karib dengan kalimat tauhid –la ilaha illalLah, tiada Tuhan selain Allah Swt. Bahkan boleh jadi kita merupakan bagian dari pengamal dzikir terkemuka tersebut dengan intensitas yang tinggi. Minim-minimnya, kita rutin membacanya berkali-kali dalam shalat, setiap hari.

Pertanyaan rohaniahnya ialah bagaimana dampak kalimat tauhid itu terhadap kita yang insya Allah mukmin dan muslim dalam mengarungi perjalanan kehidupan ini, baik dalam kaitannya dengan duniawi maupun ukhrawi?

Dalam kitab Sirrul Asrar Fima Yahtaj Ilaihi al-Abrar, di bagian taubat, Syekh Abdul Qadir al-Jailani membuat pernyataan yang membuat saya tercenung. Beliau berkata, “Taubat yang benar adalah langkah pertama yang mesti dilakukan sebelum memulai perjalanan menuju Allah SWt.”

Mari catat: “taubat yang benar” dan “sebelum memulai perjalanan menuju Allah Swt”.

Ini artinya, denyut ketauhidan di dalam hati kita –sebab wilayah hati inilah yang paling pokok, utama, dan sekaligus samar dan pelik—seyogianya semata bersumbu kepada hakikat awal-muasalnya, yakni“kesadaran dan pengakuan batiniah atas segala salah, dosa, khilaf, serta lalai kita kepada Keilahian Allah Swt.”

Duh, Gusti Allah Swt, astaghfirulLahal ‘adhim….

Hanya situasi batin begitulah yang bisa menjadi tanah subur bagi bertunas dan tumbuhnya iman di hati.

Lalu, Syekh Abdul Qadir al-Jailani melanjutkan nasihatnya:

“Iman akan menjadi tenaga pendorong untuk mengarahkannya kepada apa yang ditujunya. Iman menjadi pengembang keyakinan itu dan penyuburnya sehingga orang tersebut bisa mengenali hakikat yang dituhankannya. Pengenalan hakikat inilah yang akan membawanya berkenalan dengan Dzat Haqiqah al-Wujud, Tuhan yang Maha Agung, Hidup, Kekal, Awal dan Akhir, tiada Tuhan selain Dia Swt. Apabila jiwa manusia bersemarak dengan perkenalan itu, maka hilangnya wujudnya yang fana tatkala berhadapan dengan Allah Yang Maha Maujud. Kini kenallah ia kepada Tuhan yang dirindukannya, dan jadilah wujud dirinya itu semata karena Allah Swt, sehingga semua jiwa serta dirinya menjadi milik Allah Swt, (yang rela) diperlakukan sekehendakNya, SesukaNya, dan SemauNya.”

Berpijarnya kesadaran dan pengakuan akan dosa-dosa diri, beserta segala kedhaifan dan kefanaannya di hadapan Tuhan Yang Maha Esa (bahkan, mari renungkan, “bagi orang-orang saleh, kondisi ini terus dihidupinya dalam laku-laku kebaikan dan peribadatan sekalipun, seperti tiada henti beristighfar”), yang lalu diawali dalam perilaku taubatsejalan dengan ‘keadaan takwa’ (rasa takut), yang pula sama dengan maksud kalimat tauhid itu.

Apa yang ditakutkan dalam ‘keadaan takwa’ itu?

Syekh Abdul Qadir al-Jailani menjelaskan bahwa maksud dari kondisi tersebut ialah sang pelaku merasa khawatir, bimbang, dan takut kalau-kalau hatinya kehilangan ingatan kepada Alah Swt, kehilangan rahmat dan kasih sayang Allah Swt, kehilangan ‘dekat’ denganNya, dan ‘berpadu’ denganNya.

Rasa takut karena takwa ini secara hakiki tak sama dengan hadirnya rasa takut di dalam diri dikarenakan kuatnya keraguan dan kekurangyakinan.

Begini misal nyatanya.

Bila Anda melintasi komplek pekuburan di malam buta, alamiah ada desir rasa takut di dalam hati karena cekaman keadaan. Itu respons tubuh kita yang sangat manusiawi. Yang lalu menjadi pembeda mendasar antara orang yang terus berpegang pada perasaan takut lahiriah yang mencekaminya itu dengan orang yang hatinya meyakini benar bahwa ‘mustahil terjadi sesuatu apa pun jika tidak diijinkan terjadi oleh Allah Swt’ (karenanya ia berdoa memohon perlindungan dari Allah Swt) ialah tetap/pudarnya perasaan takut itu. Orang kedua tentulah akan segera merasa tenang hatinya, dan melimpasi tubuhnya yang lahiriah. Walhasil, ia bisa terus melaju dengan biasa belaka.

Begitulah beda rasa takut yang nir-iman dengan yang berbingkai iman. Yang pertama semata mengandalkan diri wadag yang gemetar, yang kedua mengandalkan Yang Maha Kuasa. Tentulah jauh sekali buahnya.

Jadi, sekali lagi, maksud keadaan takutnya hati karena takwa tak bisa disepadankan sama sekali dengan keadaan takut karena semata cekaman nalar rasional.

Maka, dapat dinyatakan dengan yakin bahwa hadirnya rasa takut karena takwa kepada Allah Swt tadi bukan karena tidak yakinnya diri kepada Kemahakuasaan Mutlak Allah Swt untuk menterjadikan apa pun, termasuk membolak-balikkan hati yang telah cemerlang unjtuk terjungkal lagi kepada kekelaman.

Segala ibadah kita, amaliah salehah kita, lalu semata ternisbatkan kepada karunia hidayah dan taufik dari Allah Swt kepada dirinya –bukan sebab alim dan salehnya diri ini. Begitu peta jelasnya.

Otomatis ia menjadi begitu malu untuk melakukan dosa dan maksiat, karena ia senantiasa yakin Allah Swt melihat segala perbuatannya, di mana pun ia berada. Ia pun takut kepada Allah Swt untuk melanggar syariatNya.

Inni akhafu in ‘ashaitu rabbi adaban yaumin ‘adhim, sungguh aku takut jika aku bermaksiat kepada Tuhanku, maka aku akan ditimpa azab di Hari Agung itu….” begitu tutur al-Qur’an.

Dikarenakan semua hal itu berdenyut di dalam hati, mulai dari kesadaran dan pengakuan akan dosa-dosa diri, rasa takut kepada azab Allah Swt, hingga perjuangan untuk selalu bersama denganNya Swt, otomatis hati itulah yang mesti ‘diberesi’ terlebih dahulu.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani mengatakan, “Kalimat tauhid berada di dalam hati. Hati itu harud dijaga dan dipelihara, dibersihkan dan disucikan dari segala kotoran sifat-sifat (diri) yang tercela agar kalimat tauhid itu dapat menempatinya sehingga lalu tumbuh subur dan keimanannya bertambah dari masa ke masa.”

Namun mari segera pula kita simak di titik ini tuturan getir dan menukik beliau. Beliau qaddasahulLahmengingatkan bahwa sekalipun kita telah membaca ribuan kitab dan menguasai lautan ilmu apa saja, jika hati masih ditahtai noda-noda duniawi dan ketergantungan kepada makhluk, maka ia sama sekali bukanlah hati yang layak untuk berjumpa dengan Allah Swt. Itu bukanlah hati jernih yang bakal menjadi ‘ArsyulLah, Tahta Allah Swt’. Itu bukanlah hati cemerlang yang akan memantaskannya memasuki Hadrat al-Quds (Majelis Suci Allah Swt).

Jadi, untuk ‘memberesi hati’ agar siap memasuki Wajah Allah Swt, atau kalimat thayyibah tauhid itu, sebagaimana tuturan beliau di awal, bukanlah dengan mengandalkan ilmu (peringatan beliau di bagian kedua). Mari catat ini tebal-tebal. Bahkan ilmu mestilah ‘dibuang’.

Bahwa ilmu jelas diperlukan dan bahkan penting untuk mengantar kita memahami banyak hal, termasuk ihwal Kemahaan Allah Swt melalui ilmu tauhid dalam perspektif tasawuf begini, itu benar. Rasulullah Saw pun telah ndawuh bahwa majelis ilmu lebih afdhal daripada ibadah yang banyak-banyak. Syekh Abdul Qadir al-Jailani pun mendorong kita untuk menuntut ilmu, berkumpul dengan para ‘alim, dan mengabdi kepada guru rohani yang tentulah sangat luas ilmunya. Para kiai dan guru kita pun begitu, menyiarkan ilmu kepada masyarakat luas untuk tujuan meningkatkan mutu iman dan amal Islami kita.

Kita hanya perlu segera memahami bahwa bukanlah keluasan dan kedalaman ilmu yang bisa menjadikan hati kita bersih dan jernih hingga layak menjadi lahan subur bagi tumbuhnya tauhid itu.

Bukan!

Lihatlah kenyataan pada diri dan sekitar, betapa banyaknya orang yang ilmunya luar biasa, kefasihannya menukil dan menakwil ayat-ayat dan hadis-hadis sangat menakjubkan, tetapi mereka terus terjatuh kepada perilaku-perilaku yang tak sejalan dengan syariat Allah Swt dan akhlak RasulNya, apalagi hakikatnya.

Ada sosok alim luar biasa yang lalu terumbar aib korupsinya dengan vulgar dan ada pula ahli al-Qur’an yang mengagumkan yang  memperlihatkan ‘keburukan samar’ dalam sikap, bahasa tubuh, dan ucapan kesombongan yang menandakannya semata menuhankan hawa nafsunya, bukan Allah ‘Azza wa Jalla yang Mutlak Maha Berkuasa dan Menentukan terhadap apa yang akan terjadi. Na’udzubilLah min dzalik.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani menegaskan bahwa jalan untuk memberesi hati, menjernihkan dan mesucikannya, atau jalan untuk “menanamkan semangat tauhid di dalam hati harus disertai dengan membuang segala ‘yang selain Allah Swt’ (ghairulLah)  dari hati dan menjauhkan diri dari tabiat yang rendah serta meningkatkan diri kepada tabiat kemalaikatan. Itulah tangga menuju dan memasuki Hadarah al-Quds. Di sanalah kelak kita akan bersatu dalam Majelis Ketuhanan yang penuh dengan cahaya kegembiraan yang hakiki.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani lalu memberikan gambaran mengagumkan kepada kita tentang situasi makrifatulLah itu:

“…karena terlalu tenggelam dalam kegembiraannya bersama Allah Swt, maka ia tidak dapat lagi membedakan antara emas dan tanah, antara puji dan keji, dan perumpamaan lainnya, karena semua perasaan dan kesadarannya telah meninggalkan semua itu (duniawi). Ingatannya hanya tertuju kepada Allah Swt semata dan duduk bersenang-senang di Majelis Ketuhanan Allah Swt itu saja. Di sanalah ia dapat melihat Rahasia-Rahasia Allah Swt yang ruah, yang tidak dapat disifatinya….”

Wallahu a’lam bishshawab.

Jogja, 1 Agustus 2019

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *