Pencipta lambang NU, KH Ridwan Abdullah adalah seorang ulama’ sekaligus pelukis. Jiwa seniman melekat sangat kuat diri Kiai Ridwan, padahal kiprah keulamaannya juga besar. Kisah belajarnya dimulai dari sekolah dasar milik Belanda. Di sekolah SD Belanda itu, Ridwan muda mendapatkan pengetahuan dasar dalam menggambar dan melukis.
Ketika belajar di sekolah Belanda, ada bule Belanda yang ingin mengadopsinya, karena Ridwan muda dikenal siswa yang cerdas. Tidak sampai lulus di sekolah Belanda, Ridwan muda dikirim orang tuanya untuk mengaji di Buntet, Cirebon. Ayah Ridwan, yakni Kiai Abdullah berasal dari Cirebon.
Dari Buntet Cirebon, Ridwan dikirim orang tuanya kepada Syaikhona Kholil Bangkalan. Kiai Abdullah sangat sadar bahwa anaknya harus nyantri kepada Syaikhona Kholil, karena hampir semua santri hebat saat itu tak bisa melupakan ngaji kepada Syaikhona Kholil.
Oleh orang tuanya, Ridwan bukan hanya diperintahkan ngaji, tetapi malah ikut ndalem Syaikhona Kholil. Makanya, Ridwan saat itu banyak membantu urusan rumah tangga Syaikhona Kholil, mulai bersih-bersih rumah, mencuci pakaian, sampai mengasuh putra Syaikhona Kholil. Ridwan menikmati betul khidmahnya kepada Syaikhona Kholil, sehingga Ridwan tetap tidak melupakan ngaji.
Ada kenikmatan ruhani yang dirasakan Ridwan karena bisa membantu urusan rumah tangga sang guru yang sangat dihormatinya. Hingga suatu ketika, Syaikhona Kholil berteriak kepada santri-santrinya:
“Maling… Maling… !”, sambil menuding ke arah Ridwan Abdullah.
Mendengar suara Syaikhona Kholil ini, para santri akhirnya membawa alat pukul yang ditujukan kepada Ridwan. Untung saja, Ridwan saat itu langsung lari dan meloloskan diri, sehingga selamat dari amukan santri.
Dari peristiwa ini, Ridwan akhirnya pulang ke rumah di Surabaya, mengisahkan apa yang terjadi kepada ayahnya, Kiai Abdullah. Sang ayah tentu saja kaget dengan kisah Ridwan, apalagi penampilan Ridwan saat itu lusuh dan dekil.
Kiai Abdullah akhirnya memutuskan untuk sowan kepada Syaikhona Kholil Bangkalan untuk mengklarifikasi apa yang sudah dikisahkan sang putra. Sebelum Kiai Abdullah matur satu kata saja, ternyata Syaikhona Kholil langsung berkata:
“Anakmu itu nakalan. Lha wong sudah pinter, sudah banyak menguasai ilmuku, kok masih betah di sini. Kalau tidak pakai cara itu, dia tidak akan mau pulang.” Jelas Syaikhona Kholil kepada Kiai Abdullah.
Mendengar penjelasan ini, Kiai Abdullah akhirnya sadar bahwa anaknya sudah direstui sang guru. Kiai Abdullah tentu saja senang, karena Syaikhona Kholil mengakui keulamaan yang sudah diraih putranya bernama Ridwan itu.
Walaupun demikian, Kiai Abdullah masih mengharapkan putranya untuk melanjutkan belajar di Tanah Suci. Dari Bangkalan, Kiai Ridwan yang sudah direstui keulamaannya oleh Syaikhona Kholil, akhirnya berangkat menuju tanah suci pada tahun 1901. Selama empat tahun berada di tanah suci, sehingga tahun 1904 Kiai Ridwan pulang ke Surabaya. Tapi akhirnya balik lagi ke tanah suci, yakni tahun 1911 sampai 1912.
Sejak pulang lagi ke Surabaya tahun 1912, Kiai Ridwan langsung aktif mengaji dan mengajarkan ilmunya kepada masyarakat. Kiai Ridwan bergaul dengan banyak kalangan lintas sektoral, sehingga akhirnya bertemu dengan Kiai Wahab Chasbullah dan Kiai Mas Alwi Abdul Aziz. Mereka bertiga menjadi penggerak para ulama’ sebelum NU berdiri.
Sepanjang hayatnya, Kiai Ridwan juga dikenal sebagai sosok yang dermawan. Setiap ada anak yang mau berangkat ke pesantren dan sowan di rumah beliau, maka Kiai Ridwan tidak hanya memberikan “sangu” nasehat, tapi juga uang saku yang bisa dijadikan bekal untuk nyantri. Kiai Ridwan sendiri bukanlah kiai yang kaya raya, tetapi beliau sangat yakin dan sangat senang bisa memberikan uang saku kepada masyarakat yang mau ngaji di pesantren. (mm/md)