kh achmad siddiq

Saat Khusyuk Mengaji, Kiai Shiddiq Jember Didatangi Rasulullah SAW

Posted on

Setiap hari di sepertiga malam, beliau selalu keliling membawa tongkat penjalin, damar ublik (obor) dan teko berisi air. Dengan tongkatnya, beliau ketok pintu-pintu kamar pondok santri. Tak jarang pula bleg gembreng (kaleng bekas) beliau tabuh supaya gaduh. Para santri yang tertidur lelap pun akhirnya terusik lalu terbangun. Bahkan, tak segan-segan pula, guyuran air teko menyasar ke wajah para santri agar mereka segera beranjak untuk sholat malam.

Ya itulah kebiasaan yang kemudian menjadi pola KH Muhammad Shiddiq dalam mendidik kedisiplinan santri-santrinya. Kiai Shiddiq memahami betul bahwa kedisiplinan adalah kunci utama untuk melahirkan generasi santri (pesantren) yang tangguh. Maka, tak heran jika Kiai Shiddiq dikenal sebagai bapaknya para kiai. Berkat keistiqamahan dan ketelatenan, semua putra-putranya di usia yang masih relatif muda sudah mejadi kiai.

Sebut saja, KH. Mansur, KH. Achmad Qusyairi (mertua Kiai Hamid Pasuruan), KH Machmud, KH. Mahfudz Shiddiq, KH Abdul Halim Shiddiq, KH. Abdullah bin KH. Umar, KH. Muhammad bin KH. Hasyim dan KH. Dhofir Salam. Demikian pula para menantunya. Mereka menjadi kiai tentu dipengaruhi oleh pola hidup disiplin sehari-hari dimasa hayatnya. Pola kehidupan Kyai Shiddiq inilah yang kemudian dari Allah diberikan karunia keturunan bagaikan mutiara-mutiara.

Kiai Shiddiq sendiri lahir pada 1453 H/ 1854 M di pedukuhan Punjulsari Desa Waru Gunung Kecamatan Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Beliau meninggal di Jember, Jawa Timur, pada 1353 H./9 Desember 1934 M. Setelah nyantri di sejumlah pesantren, beliau abdikan ilmunya itu dengan mendirikan pesangtren di Lasem. Tahun 1884, Kiai Shiddiq hijrah ke Jember dan mendirikan pesantren di kampung Gebang Jember.

Saat usia 64 tahun beliau pindah ke kampung Talangsari Jember dan mendirikan pesantren, sekarang dikenal sebagai Pesantren Ash-Shiddiqi Putra (PPI ASHTRA). Pendirian pesantren-pesantren ini menjadi embrio berkembangnya Islam di Jember. Selain mengajar, Kiai Shiddiq juga melakukan strategi pengkaderan santri dan mendirikan masjid-masjid sebanyak kurang lebih 15 masjid yang tersebar diberbagai wilayah Jember, termasuk Masjid Jamik Al-Baitul Amin dijantung kota Jember. Dalam pengajian kitab kuning ini, Kyai Shiddiq banyak menggunakan cara weton atau bandongan.

Cara Weton adalah cara pengajian kitab yang berasal dari istilah jawa, karena pada umumnya waktu pengajian disesuaikan dengan waktu-waktu tertentu seperti usai waktu sholat, dan sebagainya. Secara teknis, dalam pengajian cara weton ini, kiai membaca dan menerangkan kitab yang diperuntukkan secara massal. Para santrinya memperhatikan kitabnya sendiri sambil membuat catatan-catatan (tentang arti maupun keterangan dari kyai). Suatu saat ketika sedang memimpin pembacaan (pada malam Senin) itu, tiba-tiba Kyai Shiddiq melihat kehadiran Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan berdiri di pintu.

Baca Juga >  Ngaji Tanpa Pengeras Suara, Kisah Karomah Mbah Mangli Magelang

Spontan, Kiai Shiddiq mengubah bacaannya dengan Diba’. Maka sejak peristiwa inilah, pembacaan Diba’ dilakukan setiap malam Senin dan Setelah itu beliau kemudian membaca Rotibul Haddadi.

Aktivitas mengajar Kiai Shiddiq yang sangat padat itu dilakukan tatkala telah banyak santri yang ngaji pada beliau. Sebelumnya, Kiai Shiddiq membagi waktunya dengan berdagang sebagai ma’isahnya (mata pencahariannya hidupnya). Kegiatan mengajar yang full tersebut membuat Kiai Shiddiq harus mengalihkan perhatian, aktivitas berdagang pada santrinya dan putra-putranya.Kiai Shiddiq adalah seorang wiro’i, menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tercela, yang jelas dilarang.

Namun agar adil maka akhirnva dilotre/diundi sebanyak 3 kali. Ternyata undian jatuh pada tanah H. Samsul Arifin di Turbah – Condro. Ribuan orang melayat Mbah Shiddiq menuju peristirahatannva di turbah Condro Jember. Hingga sekarang, banyak kaum muslimin ziarah di maqam Kyai Shiddiq. Para penziarah selalu membaca Al-Qur’an. Tahlil dan bertawassul pada beliau. Kiai Shiddiq bagaikan “mutiara”, yang menurunkan banyak mutiara, menyinari kegelapan kota Jember. (Joko wahyono)

 

Advertorial: 1926_Store Menjual Kaos Santri

Bagi pembaca yang belum mendapatkan/ memiliki koleksi Kaos Santri terkeren kami
silahkan  segera menghubungi customer service kami via Whatsapp di 085772333814
Rincian Harga
Size : S, M, L, dan XL     = Rp 65.000
Size : XXL                       = Rp 70.000
Size : XXXL                     = Rp 75.000
Lengan Panjang tambah  = Rp 5000.