Rezeki Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani (02)

Makna Fana Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani (2)

Oleh Edi AH Iyubenu, wakil ketua LTN PWNU DIY.

Di bagian lanjutan tentang rezeki ini, saya nukilkan tuturan Syekh Abdul Qadir al-Jailani dariSirrul Asrar Fima Yahtaj Ilaihi al-Abrar, perihal cara menyikapi rezeki yang apang dan sempit. Beliau menasihatkan bahwa bagi rohani yang cemerlang secara hakikat keadaan lapang atau sempit rezeki adalah sama saja, yaitu sama-sama sebagai ujianNya.

Kedua keadaan tersebut merupakan sama-sama kehendak, keputusan, dan karunia Allah Swt. Mutlak!

Keadaan tersebut juga mesti lalu diyakini dengan haq sebagai anugerah terbaikNya kepada kita –yang boleh jadi kita belum bisa memahami dan mengetahui saat ini. Bukankah sangat sering kita sendiri merasakan bahwa suatu keadaan sempit di masa lalu ternyata kini tampak jelas sebagai sebuah keuntungan dan kebaikan? Itulah buktinya.

Maka tiada kepantasan bagi hambaNya untuk meragukan KeadilanNya, mencemaskan Kasih SayangNya, dan menggerutui KemahatahuanNya.

Bagi mereka yang sedang dikarunia keluasan rezeki, Syekh Abdul Qadir al-Jailani mengingatkan hal tersebut sebagai kerawanan yang lebih besar bagi ujian rohaninya ketimbang mereka yang diuji dengan kesempitan rezeki. Ini logis sekali, sebab tatkala sedang memegang uang yang banyak, godaan nikmat kemaksiatan-kemaksiatan begitu mudah untuk menyergap.

Bukankah untuk berzina, Anda mesti memiliki uang yang cukup banyak? Bukankah untuk berjudi, Anda juga memerlukan uang yang banyak? Bukankah untuk mabuk-mabukan, Anda pun memerlukan uang yang banyak?

Cara praktis bagi mereka yang berlimpah rezekiNya ialah dengan mensyukurinya melalui ungkapan syukur kepadaNya secara langsung, memperbanyak ibadah kepadaNya, dan mengeluarkan sebagia  hartanya di jalan yang haq, seperti sedekah, infak, dan sumbangan apa pun yang memberikan kesenangan(manfaat) pada orang lain.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani` memberikan penekanan pada kata “menyenangkan” orang lain melalui harta, yakni selama tidak bertentangan dengan syariat Allah Swt. Jika ini dilakukan, niscaya hartanya akan diberkati oleh Allah Swt dan kenikmatan yang telah diperolehnya akan terus mengalir dalam bentuk yang berlimpah. Insya Allah.

Bila amal luhur demikian tak dijalankan, pertanda ia melupakan kemahakuasaan Allah Swt, maka ia termasuk orang yang tidak tahu berterima kasih. “Akhirnya  Allah akan murka kepadanya. Bila Allah Swt telah murka, maka rugilah ia, serugi-ruginya,” tegas Syekh Abdul Qadir al-Jailani.

Adapun mereka yang diuji dengan kesempitan rezeki, tutur Syekh Abdul Qadir al-Jailani, hendaknya menjadikan kesabaran sebagai perisainya. Hendaklah ia meyakini benar bahwa semua kesulitan itu adalah kehendak Allah Swt. Di baliknya, terdapat hikmah yang tak seorang pun dapat mengetahuinya, selain Allah Swt. Maka terimalah takdir itu dengan hati lapang agar tenang.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani lebih lanjut menasihatkan supaya ekspresi kesabaran itu diiringi dengan sebanyak-banyaknya mengingat Allah Swt (dzikrulLah), berdoa, dan memohon padaNya (dengan diiringi amal/usaha). Boleh jadi, kesulitannya lalu dilonggarkan oleh Allah Swt sebagai tanda dikabulnya doa-doanya di dunia. Boleh jadi pula, Allah Swt menakdirkannya untuk lama atau tetap berada dalam kondisi sempit tersebut. Jika sabar yang beriring dzikir itu terus didawamkan, maka ia akan menerima kenikmatan yang jauh lebih agung dibanding segala kenikmatan duniawi.

Cara Allah Swt menguji hambaNya dengan kelapangan atau kesempitan rezeki ini, tutur Syekh Abdul Qadir al-Jailani, merupakan bentuk pendidikan Allah Swt langsung kepada hamba-hambaNya agar senantiasa meminta pertolongan dan perlindungan hanya kepadaNya, Dzat Yang Maha Memberi dan Maha Menahan.

Mau dalam keadaan sekemilau apa pun kesuksesan dan kekayaan seseorang, bila Allah Swt berkehendak menahan rezekinya, maka tiada kekuatan apa pun yang mampu mencegah kejadian tersebut. Pasti terjadi, kun fayakun! Ia pasti jatuh, jatuh, dan jatuh. Maka jangan pernah pongah dan berbangga hati hanya sedang kaya raya….

Sebaliknya, mau sesulit apa pun kondisi kesempitan atau masalah yang meliliti, bila Allah Swt berkehendak untuk menjadikannya sukses, jaya, dan kaya raya, tiada kekuatan apa pun yang mampu mencegahNya. Pasti terjadi, kun fayakun! Ia pasti melesat, menjulang, dan berkemilau. Maka jangan pernah berputus asa dari pertolongan Allah Swt….

Mari teruslah bertakwa dengan selalu mengetuk pintuNya dalam keadaan apa pun. Lapang atau sempit rezeki, sekali lagi, pada hakikatnya secara rohani sama belaka: sama-sama kehendak terbaikNya dan sama-sama ujianNya kepada kita. Kita tak tahu saja hikmahnya, tetapi Allah Swt Yang Maha Mengetahui niscaya memutuskannya dengan Mata Maha AdilNya.

Wallahu a’lam bish shawab.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *