umar bin abdul aziz

Renungan Gus Ghofur Maimoen: Umar bin Abdul Aziz dan Kyai

Umar bin Abdul Aziz dan Kyai

Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah Umawiyyah yang super adil sehingga sering diberi gelar Khalifah Ar-Rasyid yang kelima. Syiah yang biasanya melaknat para khalifah pun segan melaknatnya. Dialah yang membersihkan nama Imam Ali bin Abi Thalib sehingga tak dihujat dalam mimbar-mimbar jumah.

Ia diangkat menjadi khalifah kedelapan Bani Umayyah pada tahun 99 H. setelah sejumlah khalifah sebelumnya melakukan kezaliman-kezaliman sehingga kezaliman itu sendiri manjadi seperti sebuah sunnah. Ia harus menghadapi kerusakan-kerusakan ini dan mengembalikan kekhalifahan seperti sediakala sebagaimana era khulafaaurrasyidin. Tapi, dia tidak boleh grusa-grusu, karena bisa kontraproduktif.

Mulailah dia membalikkan keadaan. Hak-hak yang diambil paksa ia kembalikan pada pemiliknya yang sah. Ia tolong orang-orang teraniaya. Ia bantu para dhuafa. Ia lakukan itu dengan pelan-pelan dan dengan tangan dingin. Ia tak menghiraukan berbagai celaan dan rintangan, namun tetap hati-hati dan penuh permisi.

Putranya, Abdul Malik, yang masih muda dan penuh gelora ketakwaan tak sabar. Ia gemas melihat Ayahandanya yang tampak pelan gemulai. Ia ingin ayahnya cepat dan segera. Di siang hari, melihat ayahnya tidur istirahat (qaylulah) ia tak hapis pikir. Ia pun membangunkannya.

“Apa gerangan yang membuatmu begitu tenteram dalam tidur, sementara banyak kezaliman-kezaliman dilaporkan padamu dan engkau belum lagi menuntasakan pengembalian hak-hak Allah kepada pemiliknya?” kata Sang Putra.

Baca Juga >  Mengapa Khalifah al-Ma’mūn Menjatuhkan Perintah Miḥnah?

“Anakku,” kata Sang Ayah, “jiwaku adalah kendaraanku. Jika aku tak mengasihinya maka ia tak akan mampu mengantarkanku. Jika aku membuat diriku dan juga pembantu-pembantuku lelah maka baru berjalan sebentar saja aku akan jatuh dan pembantu-pembantuku juga jatuh. Sungguh, saya mengharapkan pahala dari Allah dalam tidurku sebagaiana saya mengharapkan itu dalam bangunku. Seandaninya Allah berkehendak menurunkan Al-Quran sekali tempo, niscaya Allah akan menurunkannya demikian. Akan tetapi, Allah menurutkan satu ayat dan dua ayat (saja) sehingga iman kokoh di hari mereka.”

Saya melihat banyak sekali kyai-kyai yang perilakunya memiliki kemiripan dengan Umar bin Abdul Aziz rahimahullah. Mereka dengan cirikhasnya melakukan banyak perubahan-perubahan. Pelan-pelan akan tetapi banyak berkiprah. Namun, sejumlah kalangan semangatnya melebihi kearifannya sehingga gemas dan menganggap kyai-kyai itu tak lagi punya ghirah amar makruf dan nahi munkar.

Wallaahu a’lam.

(KH Dr Abdul Ghofur Maimoen, Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang)