Refleksi KH Henry Sutopo: Ngelmu Teka Dhewe.
Ngelmu Teka Dhewe
Suatu saat saya sowan kyai yang punya pesantren cukup luas peninggalan almarhum ayahnya. Setelah keperluan selesai, saya segera pamit pulang karena ada tamu lain yang antri sowan beliau.
Begitu pamit mau keluar saya digandeng pak kyai untuk diajak ke garasi mobil beliau. Sebenarnya saya tidak enak, tapi untuk ikroman dan idkholussuruur, saya ngikut ajakan beliau. Di garasi mobil yang cukup luas, berjajar beberapa mobil terparkir rapi. Pak Kyai lantas satu persatu menjelaskan kepada saya asal usul mobil tersebut.
Ada yang dari pejabat ini itu dan pengusaha ini itu dan seterusnya. Beliau mengatakan semua mobil itu datang sendiri tanpa diminta.
Dalam perjalanan pulang dalam hati saya ber-takon-takon, apa betul semuanya datang sendiri?
Ah… Pertanyaan itu saya jawab sendiri. Ya mesti benar to, wong yang ngendiko seorang kyai. Barangkali itulah yang dimaksud wayarzuqhu min khaetsu la yakhtasib, karena ketakwaan kyai kepada Allah SWT.
Sebenarnya bukan hanya kali itu. Saya sering sowan ke beberapa kyai dan mirip-mirip diceritani seperti itu bahwa beliau bikin rumah, bangun gedung, pingin ini itu semuanya datang sendiri. Anak-anak Pak Kyai butuh sepeda motor semuanya juga datang sendiri dan sebagainya.
Tapi pernah saya diceritani seorang kyai yang lain, bahwa cerita-cerita serba datang sendiri itu tidak semuanya benar, sebab beliau pernah dicurhati pejabat dan pengusaha yang diaku sebagai jamaah santri seorang kyai untuk menyediakan sesuatu yang diminta lewat utusan, surat atau proposal.
Kembali saya bertakon dalam hati: “Apakah Kyai yang tadi saya sowani itu dalam rangka tahaddus bin nikmah atau manas-manasi dan bikin mumet kepala saya?”
Sebab saya itu tidak pernah ketamuan pejabat atau pengusaha, paling tamu yang sering datang adalah tamu orang stres bermasalah tanpa bawa apa-apa, bahkan tidak sedikit tamu yang mau pinjem duit sama minta sumbangan.
Padahal saya sendiri tidak punya pekerjaan dan penghasilan tetap, malah punya hutang dan banyak masalah. Wong kemarin isteri minta duit saya suruh sabar nunggu ntar pulang tahlilan kalau ada yang ngasih amplop.
Jujur saya sebenarnya pingin ngaji dan tambah ilmu. Adakah panjenengan yang membaca tulisan ini berkenan membagi ilmu atau ijazah agar saya juga bisa opo-opo teka dhewe?
(KH Henry Sutopo, Krapyak Yogyakarta)
_______________
Semoga artikel Refleksi KH Henry Sutopo: Ngelmu Teka Dhewe ini memberikan manfaat dan barokah untuk kita semua, amiin..
simak artikel terkait di sini
simak video terkait di sini








