Ketika Kewalian Guru Sekumpul Membuka Mata Batin Wali dari Tarim

Rasulullah Datang, Guru Sekumpul Menangis Saat Pengajian

Posted on

Rasulullah Datang, Guru Sekumpul Menangis Saat Pengajian.

Kisah karomah Abah Guru Sekumpul selalu dikenang para muridnya. Mereka menjadi saksi ihwal kewalian Abah Guru Sekumpul yang memang dirasakan semua kalangan, khususnya para murid. Salah satu muridnya itu adalah Almarhum Guru Ahmad Bakrie. Guru Bakrie mengisahkan karomah dan keistimewaan Abah Guru Sekumpul dengan sepenuh kejujuran dan kesantunan.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Berikut ini kisah Guru Bakrie yang menggetarkan.

Waktu itu aku bertamu ke rumah Abah Guru Sekumpul. Dan aku lihat di depan ada orang tua yang duduk menunggu untuk bertemu Abah Guru. Karena belum dapat izin dari khadam, orang tua itu menunggu di depan pintu rumah saja.

Aku pun masuk bertemu Abah Guru. Waktu kami berbincang-bincang, Abah guru berkata.

“Bakrie, kita betangguhan yu.” (Bakrie, kita main tebak-tebakan yo).

Coba ikam tangguhi (coba kamu tebak), siapa nama orang yang menunggu di depan tu nah beserta bini nya, lalu darimana asalnya dan mau apa dia ke sini?

Lalu Guru Bakrie berkata:

Kada tahu ulun Abah, ulun hanyar hari ini aja betamu lawan urang itu (tidak tahu abah, saya baru pertama kali ketemu dengan orang itu)”

Lalu Abah Guru tertawa sambil baucap (berucap):

Namanya tu Bakrie ae fulan bin si fulan, alamat nya di jalan ini, urang Barabai. Ke  sini handak minta banyu (minta air penawar) soalnya ada keluarganya yang sakit keras.”

Guru Bakrie kembali melanjutkan kisahnya:

Aku lalu menemui orang itu dan bertanya siapa nama dengan binnya, alamat rumahnya dan hajatnya ke sini.  Dan memang benar sekali, apa yang diucapkan Abah Guru itu tepat semua, padahal Abah Guru Sekumpul baru pertama kali bertemu. Itu karena Abah Guru kasyaf dan tahu apa yang ada di dalam hati orang itu.

Pernah juga ada seorang Habaib yang bertamu ke Abah Guru, pakaiannya seperti pakaian orang yang mau ke kondangan pakai baju hem dan celana panjang necis sambil baucap :

Aku ne habaib guru..”

Abah Guru berkata: “Kada usah baucap kaya itu, aku tahu ja orang itu habaib atau kada.” (tidak usah bicara begitu. aku tahu orang itu habib atau tidak)

Maka Habaib itu pun terdiam karena merasa malu kurang adab dengan Abah Guru.

(KH Ahmad Bakrie – akrab dipanggil Guru Bakrie atau Abah Guru Gambut – lahir tahun 1956 di Amuntai (Kab Hulu Sungai Utara, Kalsel)  dan wafat pada tanggal 1 Februari 2013/20 Robi’ul  Awwal 1434 H.  Beliau adalah pendiri Pondok Pesantren Al-Mursyidul Amin, Gambut, Kab Banjar, Kalsel. Beliau adalah murid langsung Guru Sekumpul di Ponpes Darussalam Martapura ataupun mangaji baduduk dengan Abah Guru di kediaman Sekumpul).

Baca Juga >  Kisah Hidup Habib Umar Yaman, Susah dan Terjal!!

Dan Allahyarham Al allimul al alamah Guru Bakrie Gambut berkata: “Munafik bila aku berdusta, aku bertemu dengan Abah Guru dan syaikhona bekata:

Aku Bakrie ai, hari Sabtu kamarian, waktu pengajian ibu-ibu, handak mahimungi  buhan jamaah, jadi aku handak balucu-lucu. Sengaja aku berpakaian kada nang kaya biasanya, aku pakai jas, pakai kopiah hitam dan pakai kacamata hitam, sehingga ibu-ibu tu tatawa malihat penampilan aku.”

(Terjemahan Bahasa Indonesia: “Aku Bakrie ai, hari Sabtu kemarin, waktu majelis pengajian ibu-ibu, bermaksud pengen menyenangkan mereka para jamaah.Jadi aku mau melawak. Sengaja aku berpakaian tidak seperti biasanya, aku pakai jas, pakai kopiah hitam dan pakai kacamata hitam, sehingga ibu-ibu itu tertawa-tawa melihat penampilanku.” )

Tapi kada berapa lawas, aku malihat Rasulullah hadir dan datang kepadaku sambil memeluk dan menciumku.  Aku kaget dan menangis terisak-isak di tengah Majelis ibu ibu, karena aku merasa tidak pantas dipeluk dan dicium Rasulullah. Jadi, aku nang niat awal tadi handak belucu-lucu,  malah manjadi batatangisan di majelis, ibu-ibu itu bingung kanapa aku jadi manangis, buhannya kada tahu akan hadirnya Rasulullah.”

(Bahasa Indonesia: “Tapi tidak berapa lama, aku melihat Rasulullah hadir dan datang kepadaku sambil memeluk dan menciumku.  Aku kaget dan menangis terisak-isak di tengah Majelis ibu-ibu itu, karena aku merasa tidak pantas dipeluk dan dicium Rasulullah. Jadi, aku yang dari awal berniat pengen melucu-lucu, malah menjadi  bertangis-tangisan di majelis, ibu-ibu itu bingung kenapa aku jadi menangis, mereka tidak tahu karena hadirnya Rasulullah.”)

Allahyarham Guru Bakrie berkata:

Aku diizini menceritakan hal ini oleh Abah Guru apabila syaikhona sudah tidak ada lagi, karena akan menjadi fitnah bagi beliau dan aku tergolong orang munafik apabila ceritaku ini dusta belaka.”

Syaikhona Abah Guru Sekumpul berkata:

Sekiranya kalian dibukakan hijab ini, maka kalian akan lebih banyak menangis daripada tertawa, dan lebih banyak begadang (untuk ibadah), sedikit tidur karena yang kalian lihat akan membuat kalian lebih banyak menangis dan sedikit tidur.”

Demikian kisah Rasulullah Datang, Guru Sekumpul Menangis Saat Pengajian. Semoga memberi manfaat.

(Sumber: ayooha.com)