nabi muhammad

Rasulku Sungguh Amat Sangat Keren Banget

Posted on

Oleh Edi AH Iyubenu, wakil ketua LTN PWNU DIY.

Halimatus Sa’diyah, ibu susuannya, memberikan persaksian bahwa di kala tak ada lampu penerapan apa-apa di rumahnya sehingga gelap dan legam pekat begitu bertahta menjenterah, wajah Muhammad kecil memendarkan cahaya ke segenap penjuru.

Halimatus Sa’diyah bukanlah ibu susuan yang elit. Tidak. Beliau pun mengambil Muhammad kecil sebagai anak susuannya karena tak ada pilihan lain lagi; artinya, bukan dikarenakan hadiah yang akan diterimanya dari keluarga Muhammad kecil amatlah menggiurkan. Sama sekali tidak. Tetapi sejak adanya Muhammad kecil di rumahnya, air susu untanya selalu penuh, mata air sumurnya selalu jernih cemerlang, dan kehidupannya terasa begitu menyenangkan.

Begitulah berkah Nabiku, Rasulku, sejak kecil begitu rupa. Tentulah, itu dikarenakan beliau Saw adalah sebab utama bagi segala penciptaan Allah Swt, di jagat raya ini, bahkan termasuk keberadaan kita kini.

“Jika bukan lantaranmu, Muhammad, takkan ada kami semua ini,” begitu ratap para pencintanya yang menanggung rindu dan sayang tak terperikan dengan hati berkeping-keping.

Beliau lahir 12 Rabi’ul Awal, bertepatan dengan tahun Gajah. Diangkat jadi rasul di usianya ke-40, lalu mensyiarkan Islam di Mekkah selama 13 tahun dengan sedikit pengikut. Cemooh, hinaan, pelecehan, hingga serangan dihadapinya dengan sangat keras dan brutal selama di Mekkah. Kemudian beliau hijrah ke Madinah dan bersyiar di sana selama 10 tahun dengan hasil yang gemilang.

Ada seorang pembencinya yang tergolong niagawan kaya raya di Mekkah. Ia kerap berkeliling ke negeri-negeri jauh untuk berbisnis. Namanya An-Nadhir bin Haris. Di Persia, ia menemukan sebuah kitab lawas yang berisi nasihat-nasihat kebijaksanaan hidup dengan gaya fabel dan legenda. Judulnya Kalilah wa Dimmah. Ia pun membawanya ke Mekkah, lalu mengisahkan kandungan kitab lawas itu kepada kaumnya. Ia lakukan ini untuk menghinakan ajaran Rasul Saw bahwa semua yang dikatakannya, termasuk ayat-ayat yang disebarkannya, tak lebih dari sekadar mitos-mitos dan legenda-legenda sebagaimana kitab lawas tersebut.

Tentu tak bisa dilupakan kiprah brutal Abu Jahal selama di Mekkah. Ia pernah mengimingi hadiah besar kepada siapa pun yang berani menimpukkan kotoran unta ke tubuh Muhammad. Pas ketika beliau sedang sujud di pelataran Ka’bah, seseorang menimpukinya dengan onggokan kotoran unta. Fatimah Ra, putrinya, yang mengetahui hal tersebut menangis dan membersihkan kotoran dari tubuh ayahandanya.

Rasul Saw hanya berkata kepada Allah Swt, “Urusan Abu Jahal kuserahkan padamu, ya Rabbi….”

Dan, di perang Uhud lah, Abu Jahal yang terus menerornya, menahkodai peperangan dengannya bahkan tatkala beliau telah hijrah ke Madinah, menemui ajalnya. Begitulah doa Rasul Saw dikabulkanNya.

Sebelum beliau hijrah ke Yatsrib, Madinah, beliau mendatangi suku Thaif, yang masih berdekatan dengan wilayah Mekkah. Beliau datang bersama anak angkatnya, Zaid bin Haritsah.

Kepada kepala suku itu beliau mengutarakan niatnya hendak menjalin kerja sama keamanan dalam syiar agama Islam. Jawaban yang didapatnya sungguh mengecewakan. Bukan saja ditolak, beliau bahkan diminta segera meninggalkan wilayah Thaif itu.

Pergilah kembali beliau bersama Zaid meninggalkan kota Thaif. Di tengah jalan, beliau dihujani batu-batu oleh orang-orang Thaif, hingga banyak betul anggota tubuh Zaid yang terluka demi melindungi ayah angkatnya. Tubuh Rasul Saw pun tentulah tak lepas dari lontaran batu itu.

Malaikat Jibril marah dan mengatakan kepada Rasul Saw akan menimpakan gunung-gunung di sekitar Thaif ke kota tersebut. Niscaya merka akan musnah semua!

Apa jawaban Rasulku?

“Janganlah, Jibril, boleh jadi kelak dari darah daging mereka akan lahr orang-orang yang beriman kepadaku dan mencintaiku….”

Begitulah akhlak Rauf dan Rahim beliau Saw. Begitulah beliau pun dipuji secara langsung oleh Allah Swt dalam al-Qur’an sebagai “pemilik akhlak yang agung” dan “pemilik suri teladan yang luhung”.

Hingga tibalah waktu Isra’ dan Mi’raj. Dituturkan bahwa inilah bentuk penghiburan langsung dari Allah Swt kepada beliau atas kepergian orang-orang terdekatnya yang membelanya selama ini.

Beliau pun diangkat ke langit tinggi oleh Jibril. Beliau disambut para malaikat, para nabi, dan seluruh makhluk Allah Swt di langit. Beliau pun diminta memimpin seluruh makhluk langit untuk bersalat jamaah. Dan jadilah beliau imamnya: wataqaddmta lish shalati fashalla kullu man fis sama’i wa antal imamu….

Kemudian, beliau dinaikkan ke Sidratul Muntaha, dan Jibril mengatakan bahwa dia tidak bisa lagi mengkutinya ke tempat paling tinggi itu. Maka naiklah Rasul Saw ke tempatNya, dan mendapat sambutan langsungNya berupa ucapan ’alaikas salam….

Allah Swt mengabadikan ucapan salamNya kepada Rasul Saw dalam al-Qur’an melalui tuturan dan sekaligus perintahNya kepada kita semua: “Sesungguhnya Allah Swt dan malaikat-malaikatNya bersalawat kepada Nabi Muhammad, maka wahai orang-orang beriman berselawatlah kepadanya dan bersalamlah dengan ucapan keselamatan….

Jika Allah Swt sendiri yang seturut melakukannya, dan ini merpakan satu-satunya hal yang kita ketahui dilakukanNya kepada hambaNya, yakni semata Muhammad  Saw, lalu apa gerangan alasan kita untuk tak tekun dan senang melakukannya?

Abu Dawud meriwayatkan bahwa siapa pun yang membacakan selawat kepada Nabi Saw, dia akan diampuni sepuluh dosanya, akan diberikan kepadanya sepuluh pahala, dan akan diangkat dia sepuluh derajat. Dalam redaksi yang agak mirip, tuturan sejenis juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Seorang Arab Baduwi di sebuah majelis Rasul Saw menyela beliau Saw berkali-kali dengan menanyakan “Kapan kiamat akan terjadi?” saat beliau menerangkan tentang hari kiamat dan kehidupan akhirat. Selaan pertama dan kedua diabaikan oleh Rasul Saw. Hingga pada selaan ketiganya, barulah Rasul Saw berkata, “Aku tidak punya pengetahuan tentang kapan akan terjadinya hari kiamat itu….” Lalu beliau Sw melanjutkan, “Mengapa kamu menyelaku berkali-kali, apa gerangan yang telah kamu persiapkan?” Orang itu berkata, “Aku tidak punya persiapan apa-apa, wahai Rasul, aku hanya mencintaimu….” Rasul Saw pun berkata pendek, “Orang yang mencintaiku akan bersamaku di surgaNya.”

Baca Juga >  Memandang Allah SWT Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Jelag wafatnya, beliau dengan memaksakan diri hadir ke masjid, menemui para sahabatnya. Beliau berkhutbah singkat dan mengakhiri dengan pertanyaan: apakah ada di antara kalian yang punya hak kepadaku?

Seseorang bernama Ukasyah mengangkat tangan dan berkata bahwa ia ingin menuntut Rasul Saw atas cambukan yang pernah mengenainya.

Abu Bakar Ash-Shiddiq yang amat mencintai Rasul Saw menyatakan segera untuk menggantikan posisi Rasul Saw. “Cambuklah aku saja, Ukasyah….”

Rasul Saw mencegahnya.

Lalu Umar bin Khattab mengatakan hal serupa, “Ukasyah, cambuklah aku saja, sesukamu….”

Rasul Saw kembali mencegahnya. Beliau meminta Ukasyah maju mendekatinya, ke arah mimbar, dan mempersilakannya untuk mulai mencambuk. Para sahabat menundukkan kepala, menangis, membayangkan tubuh yang telah sepuh itu akan dicambuki.

Sungguh Ukasyah ini keterlaluan!

Ukasyah berkata lagi bahwa dulu ia dalam keadaan tidak pakai baju ketika kena cambuk. Maka ia pun meminta Rasul Saw membuka bajunya agar adil. Rasul Saw pun menurutinya.

Sungguh kau keterlaluan, Ukasyah!

Tepat saat Rasul Saw telah melepas bajunya, Ukasyah membuang cambuk di tangannya dan menghambur memeluk tubuh Rasul Saw. Ia meraung, menangis, meratap, dan bersuara sangat parau gemetar:

Ya Rasul, sungguh aku hanya ingin memelukmu di saat yang rasanya takkan lama lagi ini. Aku ingin sekali kulitku yang hina bersentuhan langsung dengan kulitmu yang mulia. Maafkan aku, Rasul…..

Rasul Saw tersenyum dan memeluk Ukasyah, lalu berkata kepada semua sahabatnya, “Ukasyah ini akan menjadi salah satu sahabatku di sruga….”

Jika kalian mencintai Allah Swt, maka ikutilah aku (Muhammad), pasti Allah Swt akan mencintaimu dan megmpuni dosa-dosamu, begitu janji al-Qur’an.

Di sebuah hadis Qudsi, dituturkan:

Allah Swt bertanya kepada Nabi Muhammad Saw: “Wahai Muhammad, milik siapakah alam raya ini?”

Rasul Saw menjawab, “MilikMu, ya Allah.”

Allah Swt bertanya lagi, “Kamu milik siapa, Muhammad?”

Rasul Saw menjawab: “MilikMu, ya Allah.”

Allah Swt bertanya lagi, “Aku milik siapa, Muhammad?”

Kali ini, Rasul Saw terdiam, tak bisa menjawab. Lalu Allah Swt pun berkata kepadanya, “Aku adalah milik orang-orang yang mencintaimu, Muhammad….”

Duhai Saudaraku semua, sungguhlah masuk akal dan tepat sekali tatkala Abdullah bin Mas’ud mengatakan bahwa siapa pun yang mencintai Rasul Saw hendaknya membacakan selawat dan salam kepadanya, dengan ungkapan apa saja, sepanjang tak bertentangan dengan al-Qur’an dan hadisnya. Seluruh pujian kepadanya adalah baik semua.

Segala puja-puji kepadanya Saw, atas dasar cinta dan rindu tak terperikan, dalam segala ekspresinya, bukankah niscaya takkan melenceng dari langgam cinta, sayang, dan rindu kepadanya Saw semata?

Rasul Saw mengatakan dalam riwayat Bukhari Muslim bahw tatkala beliau sedang dihadapakan pada dua pilihan, maka beliau akan memilih pilihan yang paling mudah selama tidak terkandung dosa di dalamnya; jika ada dosa di dalamnya, dia lah manusia yang paling menjauhinya.

Itu artinya, di antara jubelan pilihan cinta kepadanya Saw, kiranya semua jenis ekspresi cinta kepadanya, rasa sayang, rasa rindu, rasa kangen, dan sejenisnya, sungguh merupakan semata pijar-pijar perasaan tulus dan kasih yang bertahta di dalam hati.

Bagaimana mungkin cinta dalam hati dibatas-batasi dengan definisi dan teknis begini atau begitu belaka?

Bagaimana bisa cinta yang bertahta di hati diwajibkan untuk diam saja atau menekuk kepala saja?

Bukankah cinta sejatinya adalah ekspresi hati yang tiada batasnya, sebab hati musykil benar untuk dibatas-batasi?

Maka biarkanlah bila ada orang yang mengungkapkan derum cintanya kepada Rasul Saw melalui nyanyian, syiiran, tarian, puisi, cerita, lukisan, hingga lengkingan parau, diam mendalam, maupun linangan air mata?

Abu Bakar bertanya kepada putrinya, Aisyah Ra, sepeninggal Rasul Saw. “Apa gerangan amal Rasul Saw yang belum kuamalkan?”

Aisyah Ra berkata, “Sudah semuanya, Ayahku, kecuali satu hal.”

“Katakanlah…..”

“Beliau sering pergi ke pojok pasar untuk menyuapkan makanan kepada seorang pengemis buta Yahudi….”

Berangkatlah Abu Bakar ke lokasi dimaksud. Ditemukannya seseorang yang lusuh, kumal, dan dekil, sedang menengadahkan tangan ke atas, memohon derma kepada siapa pun yang melintas di sekitarnya, dengan mulut yang terus menceracau mengolok-olok Rasul Saw.

“Muhammad itu orang gila, sinting, tukang sihir, jangan dengarkan dia, ajarannya itu sesat, merusak, dan berbahaya….”

Abu Bakar menangis. Bagaimana bisa Rasul Saw rajin dan rutin menyuapkan makanan ke mulut seorang pengemis buta, Yahudi, yang dari mulut itu pula terlontar hinaan-hinaan tanpa henti kepadanya?

Sungguh akhlak yang mengagumkan, tanpa tanding!

Abu Bakar lalu mendekati pengemis itu, dan menyuapkan makanan ke mulutnya. Tiba-tia ia menyergah, “Siapa kamu?”

“Aku yang biasa menyuapimu,” sahut Abu Bakar.

“Kamu bohong! Orang yang biasa menyuapiku tidak melakukannya dengan cara begini. Makanan yang diberikannya sangat lembut dan caranya menyuapkan juga sangat lembut!”

Tangis Abu Bakar kembali pecah. Begitu deras berderak-derak. Ia teringat kekasihnya yang telah pergi….

Dia lalu berkata, “Aku memang bukanlah lelaki yang biasa menyuapimu.”

“Ke mana lelaki itu?”

“Ia telah tiada. Dia lah orang yang kamu hina-hina selama ini.”

Pengemis buta Yahudi itu menangis seketika. Suaranya melengking-lengking. Penuh kesedihan, sekaligus sesal yang mengharu-biru.

Begitulah kerennya Rasulku, kekasihku, wahai Saudaraku semua. Akhlaknya tiada tanding, bahkan tak terbayangkan bakal ada yang bisa mendekatinya –alih-alih menyamainya.

Dia sungguh amat sangat keren, sangat keren banget!

Ya Tuhan, bagaimana aku bisa meniru akhlaknya, meneladaninya, sebagiannya saja?

Isyfa’ lana ya habibana, ya habibaLlah….

Shallu ‘alan Nabi Muhammad wa alihi ajma’in….

9 November 2019