Rahasia Keramat Gandul Pondok Pesantren Darul Falah Amtsilati Jepara

Rahasia Keramat Gandul Pondok Pesantren Darul Falah Amtsilati Jepara

Rahasia Keramat Gandul Pondok Pesantren Darul Falah Amtsilati Jepara

Saya mondok di Darul Falah Amtsilati Bangsri Jepara, yang diasuh oleh beliau Abah KH Taufiqul Hakim, hanya sekitar 6 bulan saja, yaitu mulai bulan Juli 2003 sampai bulan Januari 2004, durasi yang singkat untuk ukuran mondok di pesantren pada umumnya. Meskipun hanya sebentar, waktu 6 bulan itu sangat berkesan dalam kehidupan saya. Waktu yang hanya 6 bulan itu, bagi saya terasa panjang, karena banyak hal baru yang saya temukan, dan banyak kesan yang terkenang dalam ingatan dan fikiran. Ini lah mungkin yang dimaksud “Thûl az-Zamân” dalam perspektif Abah KH Taufiqul Hakim, bahwa yang dimaksud Thûl az-Zamân atau lamanya belajar yang menjadi syarat dalam mencari ilmu —sebagaimana yang tertuang dalam syair Alâ lâ tanâlu al-‘ilma illâ bisittatin— bukan berapa lama kita mondok, namun berapa lama kita mengaji dan belajar.

Banyak yang mondoknya lama, namun kualitas waktu mondoknya masih rendah, karena dalam waktu yang panjang itu, mereka jarang-jarang mengaji dan belajar, sehingga panjangnya atau lamanya waktu mondok sangat tidak produktif bagi seorang santri. Sebaliknya, ada yang mondoknya sebentar, namun karena intensitas mengaji dan belajarnya tinggi, maka hasil yang didapatkan pun memuaskan, karena dalam durasi waktu yang singkat itu, banyak ilmu telah selesai dikaji, diserap dan didapat. Thûl az-Zamân yang dipahami sebagai durasi lamanya belajar dan mengaji, bukan lamanya mondok, merupakan sebuah indikasi keberkahan laku seorang pencari ilmu. Dalam sebuah adagium arab, dikenal sebuah pernyataan:

اَلْبَرَكَةُ جُنْدٌ مِنْ جُنُوْدِ اللهِ يُرْسِلُهَا لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ، فَإِذَا أَحَلَّتْ فِي الْمَالِ أَكْثَرَتْهُ، وَفِي الْوَلَدِ أَصْلَحَتْهُ، وَفِي الْجِسْمِ قَوَّتْهُ، وَفِي الْوَقْتِ عَمَّرَتْهُ، وَفِي الْقَلْبِ أَسْعَدَتْهُ.

“Berkah adalah salah satu pasukan dari pasukan-pasukan Allah, yang dikirimkan-Nya kepada para hamba-Nya siapapun yang Dia kehendaki. Ketika berada di dalam harta, maka berkah akan menjadikannya banyak. Ketika berada di dalam anak, maka berkah akan menjadikannya shalih. Ketika berada di dalam badan, berkah akan menjadikannya kuat. Ketika berada di dalam waktu, maka berkah akan menjadikannya lama. Ketika berada di dalam hati, berkah akan menjadikannya bahagia.”

Rahasia Keramat Gandul Pondok Pesantren Darul Falah Amtsilati Jepara

Dan yang saya rasakan di Darul Falah Amtsilati, saya belajar untuk mengaji secara produktif. Dengan waktu sesingkat mungkin, bagaimana saya bisa mendapat sebanyak mungkin. Inilah prinsip Thûl az-Zamân yang diajarkan oleh Abah KH Taufiqul Hakim. Di Pondok Pesantren Darul Falah Amtsilati ini lah, saya mulai mengenal dasar-dasar ilmu alat Nahwu-Shorof, melalui kitab-kitab Amtsilati, kitab metode cepat membaca kitab bagi para pemula. Sebelum di Darul Falah Amtsilati, sebenarnya saya pernah belajar Nahwu-Shorof di Madrasah Diniyyah —di tempat saya disebut sebagai “sekolah Arab”— yang berada di bawah naungan organisasi LP Ma’arif Nahdlatul Ulama’.

Namun, meskipun saya pernah mempelajarinya, saya tidak begitu faham. Ilmu Nahwu-Shorof ini dalam pandangan banyak orang, termasuk anggapan saya kala itu juga, terkenal sebagai ilmu yang sulit, menakutkan dan —meminjam bahasa Abah Yai Taufiq— menegangkan syaraf. Banyak yang mengkaji ilmu ini selama bertahun-tahun, baik di madrasah atau pun di pondok pesantren, akan tetapi masih banyak pula yang belum paham. Kemudian lahirlah Amtsilati, metode cepat baca kitab kuning pertama di Indonesia, memupus kemomokan yang ada dalam Ilmu Nahwu-Shorof.

Pengalaman yang saya dapatkan selama mondok 6 bulan di Pondok Pesantren Darul Falah Amtsilati, setelah belajar kitab Amtsilati, alhamdulillah saya tidak merasa bahwa Nahwu-Shorof adalah momok yang menegangkan syaraf. Amtsilati, bagi saya seperti “alat scanner” yang mendeteksi unsur-unsur momok yang menakutkan yang ada dalam ilmu Nahwu dan Shorof, sehingga kerumitan-kerumitan Nahwu-Shorof bisa dinetralisir, kemudian disajikan serta dipahami secara mudah oleh para pemula.

Dalam hal ini, Abah Yai Taufiq telah melakukan apa yang disebut sebagai simplifikasi daripada Ilmu Nahwu-Shorof yang terbilang sulit dan rumit. Orang-orang yang besar, pada dasarnya adalah mereka yang mampu menyederhanakan hal-hal yang sulit, supaya dapat dicerna oleh orang awam. Bukan malah sebaliknya, membikin atau mempergunakan istilah-istilah yang rumit dan sulit dipahami oleh banyak orang. Dan Abah Yai Taufiq telah melakukan hal itu.

Selain kesan bahwa belajar Nahwu-Shorof telah berubah menjadi mudah lantaran belajar Amtsilati di Darul Falah, dalam waktu mondok yang cukup singkat 6 bulan itu, kesan lain yang tak kalah penting adalah pengalaman nderekke Abah KH Taufiqul Hakim dalam acara seminar Amtsilati kemana-mana. Dulu, saya bersama satu santri Darul Falah yang lain, biasa diajak Abah Yai Taufiq untuk mengisi seminar Amstilati, dimana kami menjadi obyek demonstrasi serta bukti riil bahwa amtsilati bisa mengantarkan anak-anak pemula untuk memahami Nahwu-Shorof, pelajaran yang justru sering dianggap menakutkan bagi orang dewasa.

Pengalaman nderekke Abah Yai Taufiq ini sangat berkesan, karena saya bisa sering berinteraksi langsung dengan Abah Yai, bisa langsung belajar dan melihat langsung bagaimana keseharian Abah Yai, serta mendengar cerita, nasehat dan wejangan dari beliau. Alhamdulillah, sebuah nikmat yang sangat agung bagi seorang santri pemula seperti saya, bisa sering bersanding dengan kiainya. Dawa’ul qulub liqa’ul mahbub, obat hati adalah bertemu dengan orang yang dicintai, dan kekasih sejati yang dicintai oleh para santri tak lain adalah kiainya sendiri.

Pada awal tahun 2004, Abah Yai Taufiq menunaikan ibadah haji. Sebelum beliau berangkat, atas kehendak orang tua yang menganggap bahwa saya sudah cukup belajar di Amtsilati lantaran sudah diwisuda —kala itu belum ada program pasca—, saya pun pamit kepada Abah Yai Taufiq sekaligus memohon doa restu untuk meneruskan sekolah dan mondok ke Kajen Margoyoso Pati, tempat dimana Abah Yai Taufiq juga pernah menimba ilmu di sana. Beliau merestui dan memberikan nasehat agar terus belajar dimana pun dan kapan pun.

Setelah perjalanan singkat 6 bulan yang sangat berkesan di Pondok Pesantren Darul Falah Amtsilati, saya pun hijrah ke Kajen untuk meneruskan belajar secara formal di Perguruan Islam Mathali’ul Falah yang kala itu dipimpin oleh beliau Dr. KH MA Sahal Mahfudh, dan mondok di Pondok Pesantren Mathali’ul Huda Pusat Kajen dibawah asuhan Romo KH Ahmad Nafi’ Abdillah. Saat masuk ke Perguruan Islam Mathali’ul Falah untuk yang pertama kali, saya merasakan, apa yang saya sebut sebagai “Kramat Gandul Amtsilati”. Biasanya, ketika masuk ke Perguruan Islam Mathali’ul Falah, ada tes masuk yang menentukan siswa/i baru diterima di kelas berapa. Placement tes ini sering disebut dengan tes persamaan.

Apabila yang mendaftar adalah calon siswa/i baru lulusan SD/MI, kemudian mengikuti tes persamaan, maka kemungkinan bisa diterima di kelas 1 Tsanawiyyah, atau kelas persiapan (i’dad) 2 Diniyyah Ula yang setingkat dengan kelas 6 SD/MI, atau bisa juga diterima di kelas persiapan (i’dad) 1 Diniyyah Ula yang setingkat dengan kelas 5 SD/MI. Dan apabila yang mendaftar adalah calon siswa/i baru lulusan SMP/MTs, kemudian mengikuti tes persamaan, maka kemungkinan bisa diterima di kelas 1 Aliyah, atau di kelas persiapan (i’dad) 2 Diniyyah Wustho yang setingkat dengan kelas 3/9 SMP/MTs, atau bisa juga diterima di kelas persiapan (i’dad) 1 Diniyyah Wustho yang setingkat dengan kelas 2/8 SMP/MTs. Semuanya tergantung hasil daripada tes persamaan tersebut, yang menentukan tempat seharusnya para calon siswa/i baru itu berada di mana.

Rahasia Keramat Gandul Pondok Pesantren Darul Falah Amtsilati Jepara

Saat saya mendaftar ke Perguruan Islam Mathali’ul Falah, sembari membawa ijasah SD dan Syahadah Amtsilati, bapak guru yang menerima calon peserta didik baru menawari saya, untuk langsung masuk Aliyah, dengan mengikuti ujian tes persamaan seleksi penerimaan siswa baru tingkat Aliyah/SMA. Mendengar tawaran itu, saya pun kaget bukan kepalang, bagaimana mungkin lulusan SD bisa langsung masuk kelas 1 Aliyah? Melompat tiga tingkat di atasnya? Saya kira bapak guru itu hanya bercanda, tetapi ternyata tawarannya serius.

Kemudian, setelah dimusyawarahkan dengan berbagai pertimbangan, antara saya, orang tua dan bapak guru yang menerima calon peserta didik baru tadi, akhirnya kami putuskan untuk meneruskan di tingkatan Tsanawiyyah saja. Dan bapak guru tersebut memberikan tawaran yang kedua, yaitu supaya saya masuk di kelas 3 Tsanawiyyah langsung. Tawaran kedua itu lah yang akhirnya kami setujui. Saya pun mengikuti tes persamaan siswa baru untuk masuk ke kelas 3/9 Tsanawiyyah.

Waktu itu, setelah hasil ujian diumumkan, dan saya diterima di kelas 3 Tsanawiyyah, saya merasa seperti mimpi. Karena tiba-tiba, saya melompat dua tingkatan, di sekolah yang terkenal mengajarkan materi-materi agama dengan standar yang tinggi pula. Setelah saya renungi, saya bisa berhasil bukan karena saya pintar, akan tetapi saya berhasil diterima langsung di kelas 3 Tsanawiyyah Perguruan Islam Mathali’ul Falah biidznillah karena keramat gandul Amtsilati, berkah restu dari Abah Yai Taufiqul Hakim.

Sebagai lulusan amtsilati yang memiliki syahadah Amtsilati, saya dianggap sebagai calon siswa baru yang sudah mahir kaidah-kaidah bahasa Arab utamanya Nahwu-Shorof dan sudah bisa membaca banyak kitab, —padahal sama sekali tidak!—, sehingga saya dianggap pantas langsung masuk ke tingkatan Aliyah. Oleh karena saya menolak, saya pun diterima di kelas 3 Tsanawiyyah. Baru lulus SD di tahun 2003, masuk Amtsilati 6 bulan dan diwisuda pada tahun 2003, kemudian meneruskan di Perguruan Islam Mathali’ul Falah langsung kelas 3 Tsanawiyyah dan lulus pada tahun 2004. Praktis, saya menjalani studi di tingkatan Tsanawiyyah hanya dalam waktu satu tahun saja. Semua ini, saya yakin, tak lain dan tak bukan, lantaran berkah dan keramat gandul Amtsilati. Terima kasih Amtsilati, terima kasih Abah Yai.

Demikian Rahasia Keramat Gandul Pondok Pesantren Darul Falah Amtsilati Jepara. Semoga bermanfaat.

Penulis: Oleh: Sahal Japara, Alumnus PP Darul Falah Amtsilati angkatan ke-III tahun 2003, khadim SMP Al-Qur’an Terpadu Yanbu’ul Qur’an 1 Pati.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *