Rahasia Keberkahan Ilmu Kyai Mufid Mas’ud Pandanaran

Rahasia Keberkahan Ilmu Kyai Mufid Mas'ud Pandanaran

Rahasia Keberkahan Ilmu Kyai Mufid Mas’ud Pandanaran.

KH Mufid Mas’ud adalah pendiri Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta. Beliau dikenal ulama ahli Al-Qur’an dan juga menantu Mahaguru Qur’an Nusantara KH Muhammad Munawwir Krapyak.

Salah satu putra Kyai Mufid yang saat ini menjadi Pengasuh Pesantren Sunan Pandanaran, yakni KH Dr Mu’tashim Billah menceritakan bahwa ayahandanya tidaklah meraih kesuksesan tanpa kerja keras semasa kecil. Kyai Mufid adalah orang tak berpunya, bukan pula dari kalangan pesantren. Kyai Mufid adalah anak dari seorang buruh batik.

“Kiai Mufid Mas’ud kecil selalu nderek dan tak pernah mempunyai uang saku semasa menghafalkan Al-Qur’an.   Makanya, berdiri, tumbuh dan besarnya Pesantren Sunan Pandanaran tak lepas dari usaha dan riyadhah KH Mufid Mas’ud yang seolah ‘berdialog’ dengan Allah swt lewat Al-Qur’an dan Nabi Muhammad saw melalui Dalailul Khairat,” kisah Gus Tasim, sapaan akrab KH Mu’tashim Billah saat acara ijazah kubro Dalail Khairat di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Komplek 3 Putra, Selasa, 6 September 2021.

Setiap ulama mempunyai amalan khusus atau awrad. Amalan ini tak jarang disebut sebagai ‘senjata’ karena digunakan untuk menyelesaikan berbagai problematika yang dihadapi umat. Tak terkecuali pendiri Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Yogyakarta, KH Mufid Mas’ud.

Ditegaskan oleh Gus Tasim, senjata dari KH Mufid Mas’ud yakni tilawatil quran dan shalawat. Karena itu, ia selalu berpesan kepada santri agar mengutamakan Al-Qur’an, bershalawat, selain memohon doa kepada kedua orang tua.

“Bershalawatlah sekuatmu. Puncaknya shalawat adalah Dalailul Khairat,” tegas Gus Tasim.

Saat acara ijazahan dipimpin langsung KH Mu’tashim Billah berikut doa penutup. Sebelum itu, acara dibuka dengan pembacaan kitab Dalailul Khairat dipimpin KH Arif Hakim (Gus Arif), cucu dari KH Mufid Mas’ud.

Di sela-sela acara, Gus Arif berpesan agar Kitab Dalail Khairat ini dibaca sepekan sekali khatam, atau satu bulan, atau setahun, atau paling tidak seumur hidup khatam sekali.

“Dalam membacanya juga dipahami maksudnya, supaya tambah mahabbah (cinta) kepada Nabi Muhammad,” terangnya.

Terkait Rahasia Keberkahan Ilmu Kyai Mufid Mas’ud Pandanaran, KH Mustahim Billah juga kembali mengatakan Al-Qur’an dan Dalailul Khairat tidak bisa dilepaskan dari sosok KH Mufid Mas’ud.

Dalam berbagai kesempatan, ia menekankan secara eksplisit bahwa dalam menjalani kehidupan.

“Al-Qur’an menjadi senjata di tangan kanan, sholawat di tangan kiri. Kalimat tersebut menjadi kiasan bahwa keduanya harus dipegang teguh; dipelajari dari guru yang sanad-nya berkesinambungan sampai kepada Nabi Muhammad saw dan diamalkan semaksimal mungkin,” jelasnya.

Berdasarkan Kitab Dalailul Khairat edisi cetakan Pesantren Sunan Pandanaran, KH Mufid Mas’ud menghafalkan Al-Qur’an kepada KH Abdul Qodir Munawwir, KH Muntaha dan KH Dimyati (Comal). Ia juga menerapkan dawuh dari KH Mukhlash (Pemalang) bahwa seorang penghafal Al-Qur’an harus memperbanyak bacaan shalawat.

Sedangkan sanad lengkap Dalailul Khairat KH Mufid Mas’ud adalah sebagai berikut.

“KH Ma’ruf dari KH Abdul Mu’id dari KH Muhammad Idris dari Sayyid Muhammad bin Ahmad al-Maghriby dari Sayyid Muhammad bin Ahmad bin Ahmad al-Mutsana dari Sayyid Ahmad bin al-Hajj dari Sayyid Abdul Qodir al-Fasiy dari Sayyid Ahmad al-Muqri dari Sayyid Ahmad bin Abbas ash-Shum’i dari Sayyid Ahmad Musa as-Simlaliy dari Sayyid Abdul Aziz at-Tiba’i dari Sayyid Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli (penulis kitab Dalailul Khairat)..”

Penulis: Joko Susanto.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *