Gus Hilmy

Rahasia Hitam Putih Hati

Posted on

Oleh: Wasna Arif Mahmudi, Penikmat Kajian Keagamaan Tinggal di Bantul

Dalamnya laut biru bisa diukur, dalamnya hati manusia, siapa tahu. Pepatah ini, sangat mendasar dan bisa dibuktikan, bahkan, seorang Ulama besar, yang bergelar Hujjah Islam, Imam Ghozali dalam kitab Ihya nya, membuat pembahasan secara khusus untuk membahas detail tentang hati (القلب), dalam “Kitab Syarh ‘Ajaib al Qalbi”.

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

 

عن ابي هريرة قال قال  رسول الله صلى الله عليه وسلم ان المومن اذا اذنب كانت نكتة سوداء فى قلبه فان تاب ونزع واستغفر صقل قلبه وان زاد زادت حتي تعلو قلبه فذالك الران الذي ذكر الله  عز وجل في، كتابه “كلا بل ران علي قلوبهم ما كانوا يكسبون”

Artinya : Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallahu alahi wasallam bersabda “sesungguhnya orang mukmin ketika berbuat dosa maka muncul titik hitam di dalam hatinya, namun apabila mukmin menindaklanjuti dengan bertaubat, menyesali dan memohon ampun kpd Allah SWT,  maka hatinya akan mengkilap. Kondisi ini akan berbeda, apabila dosa terus bertambah dan meningkat maka titik hitampun juga bertambah sehingga meliputi hatinya. Hati kotor (الران) ini sebagai mana yg disebut dalam al Qur’an (surat al Muthofifin ayat 14), “tidak demikian,  kotoran / berkarat pada hatinya disebabkan oleh perbuatan mereka”.

Maimun bin Mahran berkata: seorang hamba, ketika berbuat dosa maka,  hatinya akan muncul titik hitam, namun ketika hamba ini menindaklanjuti perbuatan dosanya dengan penyesalan dan bertaubat maka hatinya akan menjadi mengkilap. Berbeda halnya, ketika seorang hamba berbuat dosa, kemudian diulangi lagi maka titik hitam itu akan terus bertambah bahkan sampai meliputi seluruh hati,  kondisi ini disebut dengan hati yang gelap atau kotor.

Baca Juga >  Kisah yang Perlu Diangan-angan dalam Peperangan Khandaq

Taat kepada Allah Swt,  dengan menentang, melawan dan menghindari keinginan kesenangan nafsu akan menjadikan hati kinclong (mengkilap) dan berbuat dosa atau maksiat akan menggelapkan hati. Lain lagi, berbuat dosa kemudian segera mengikuti dengan perbuatan baik maka hatinya tidak akan menjadi gelap, hanya saja cahaya hati akan menjadi meredup.

Yahya bin Mu’adz berkata: sakit pada jasad itu disebabkan oleh penyakit dan penyakit hati itu disebabkan dosa. Orang yang tubuhnya sedang sakit maka ia tidak akan merasakan nikmatnya makanan bahkan hilang nafsu makan, begitu pula hati, ketika sedang sakit juga tidak bisa merasakan nikmat atau manisnya beribadah.

Sebagian ahli hikmah, berkata: ketika hati tidak digunakan sebagaimana mestinya seperti berfikir didalam meraih kemaslahatan baik dunia maupun akhirat, menghindari keburukan maka hati akan nampak indah seperti mutiara namun sebaliknya apabila hati didekatkan dengan perbuatan yg menggelapkan hati, seperti meminum khamr, banyak tidur, banyak lupa kpd Allah SWT maka hati akan seperti besi yg berkarat.

Imam Ghozali menegaskan,  ketika berbuat dosa, hati akan menjadi buta untuk menggapai kebenaran, kebaikan beragama,  menganggap ringan urusan akhirat dan menganggap agung urusan dunia.

Demikian, bahwa hati manusia mengalami perubahan sesuai perbuatan yang dilakukan.