abah guru sekumpul

Rahasia Foto Guru Sekumpul Boleh Dijual dengan Berbagai Warna

Posted on

Kalau berjalan di berbagai makam Wali Songo, apalagi berjalan di Kalimantan, foto Abah Guru Sekumpul terpajang di berbagai toko dengan berbagai warna dan variasi harga. Bagi masyarakat, memiliki foto Abah Guru Sekumpul bukan sebatas memajang foto semata, melainkan sebuah media untuk mengenang jejak hidup beliau yang penuh perjuangan dan kasih sayang kepada sesama. Semua ingin mengais berkah dan meneladani perilaku agung Abah Guru yang luar biasa.

Dulu, Abah Guru Sekumpul sebenarnya tidak berkenan apabila gambar atau foto beliau dijual orang. Akan tetapi beliau dinasehati Guru Badaruddin agar membiarkannya saja.

“Kita sudah tidak bisa membantunya atau memberi sedekah segala macam, jadi lewat foto yang dijual itu kita membantu nya.”

Dengan nasehat itu, aalu akhirnya Abah Guru Sekumpul pun menyetujui dan mengizinkan foto beliau dijual.

Kita semua pencinta Abah Guru Sekumpul Sudah bisa dipastikan punya foto-foto beliau baik yang sekarang maupun foto-foto beliau yang dulu yang masih hitam putih atau yang sudah berwarna. Foto-foto itu bukan hanya sekedar foto tapi banyak menceritakan perjuangan seorang Wali Allah yang kita cintai.

Bila kita punya foto-foto beliau yang bahari atau yang dulu sampai yang sekarang maka kita melihat betapa berwibawanya beliau, betapa karismatik beliau dan betapa gagahnya beliau dengan memakai jubah gamis yang beraneka warna dengan memakai imamah atau surban dan selendang yang menambah kharismatik kekaguman dan kecintaan kita kepada beliau.

Akan tetapi pernah kah kita benar-benar mengamati dan bepikir merenungi saat-saat melihat foto-foto beliau bahari atau yang dulu hingga sekarang?

Bukan hanya sekedar foto-foto biasa yang menjadi kenangan terus hilang. Akan tetapi foto-foto tersebut adalah gambaran yang nyata sebuah kisah atau bahkan riwayat yang menceritakan perjuangan beliau sehingga bisa untuk mendapatkan gelar Anta Habibun Nabi.

Bila kita mengamatinya, maka foto itu akan membuat kita menitikan air mata dan mengatakan ‘begini kah dulu perjuangan beliau? Banyak pelajaran dan hikmahnya yang bisa kita dapatkan dari mengamati foto-foto itu dengan sangat jelas terlihat kesederhanaan dan ketawaduan beliau. Saat kita melihat foto beliau masih sangat muda dengan baju koko dan sarung dengan foto hitam putih maka terlintas perjuangan beliau selama belajar di pondok pesantren Darussalam.

Akankah kita menitikan air mata bila melihat foto itu karena ingat apa yang terjadi dengan beliau. Abah Guru Sekumpul pernah berkata, “Saat aku belajar di pondok dulu, aku hanya punya satu baju dan satu sarung. 2 sampai 3 hari baju dan sarung itu barulah di cuci. Setiap kawan yang mendekat atau lewat pasti menutup hidung karena bau dan mereka sering iseng melului menarik sarungku karena tahu aku tidak pakai celana dalam. Aku diam aja karena aku tahu aku tidak punya apa-apa.”

Baca Juga >  Tiga Pesan Kiai Asyhari Marzuki untuk Pengurus NU

Bagaimana tidak menitikkan air mata bila melihat foto itu. Lalu kita pun bisa lihat foto beliau dahulu dalam suasana beliau mengajar di Ponpes Darussalam dengan pakaian tahun 60-70 an.

Bercerita lagi beliau tentang perjuangan beliau saat berhenti mengajar di pondok karena difitnah dan beliau membuka majelis pertama dengan murid berjumlah 4 orang,2 orang santri dari pondok. Abah Guru selalu memasakkan nasi dan lauk untuk 2 santri ini agar saat santri ini pulang mondok bisa dengan tenang belajar dengan beliau tanpa capek mengurusi harus makan lagi.

Sekali lagi, foto itu bercerita tentang adab beliau.

Mari kita lihat lagi foto dulu dimana beliau dikelilingi para habaib dan ada 1 sampai 2 mikropon di situ. Foto itu bercerita lagi tentang ketawaduan beliau dan para Habaib dimana saat dimintakan membaca doa mikropon itu muter keliling tidak ada yang mau baca doa karena merasa diri masing-masing tidak alim dan tidak pantas baca doa sehingga mikroponnya muter.

Kita lihat lagi foto beliau dengan gamis yang sangat sederhana dengan kacamata beliau berfoto dengan latar bangunan yang belum jadi di penuhi pohon-pohon yang banyak dan itu adalah Sekumpul sebelum dibangun. Foto itu menceritakn bagaimana beliau berjuang menjadikan Sekumpul yang dulu berupa lahan yang penuh rumput ilalang menjadi tempat yang berkah sekarang ini.

Banyak sekali foto-foto dulu yang memperlihatkan ketawaduan dan kesederhanaan dan perjuangan beliau. Maka saat kita melihat foto-foto beliau baik yang zaman dulu sampai foto yang sekarang maka foto- foto itu bercerita tentang perjuangan beliau hasil perjuangan beliau. Dengan melihat foto-foto dulu Abah guru maka kita tau bagaimana perjuangan beliau sehingga beliau mendapat gelar Anta Habibun Nabi.

Dan Kecintaan kita terhadap beliau sebagai umatnya Rasulullah.

“Sekarang tugas kitalah yang harus menjaga nama baik dan kehormatan Abah Guru Sekumpul dan guru-guru kita yang lainnya.”

Ingatlah akan perkataan Rasulullah Saw.

 ﺃﻛْﺮِﻣُﻮﺍ ﺍﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀَ ﻓﺈﻧَّﻬُﻢْ ﻭَﺭَﺛَﺔُ ﺍﻷَﻧْﺒِﻴَﺎﺀِ، ﻓَﻤَﻦْ ﺃﻛﺮَﻣَﻬُﻢْ ﻓَﻘَﺪْ ﺃَﻛْﺮَﻡَ ﺍﻟﻠﻪ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ

“Hendaknya kamu semua memuliakan para ulama, karena mereka itu adalah pewaris para Nabi, maka barangsiapa memuliakan mereka berarti memuliakan Allah dan Rasul Nya.” HR. Al Khatib Al Baghdadi dari Jabir Ra.

Semoga menambah kecintaan kita semua kepada beliau. Dan mudahan kita dikumpulkan bersama beliau di akhirat nanti. Barakat cinta ke kepada beliau.

Penulis: Nuria Huda, Kota Banjarmasin.