Perlawanan Pesantren Terhadap Penjajah Kok Dihilangkan Dari Sejarah?

Posted on

YOGYAKARTA, BANGKITMEDIA.COM

Perlawanan kalangan pesantren terhadap penjajah itu sangat intens, tapi kok dihilangkan dari sejarah? Dasarnya jelas. Man tasyabbaha bi qaumin fahuwa minhum: Siapa saja yang menyerupai suatu kaum/bangsa maka dia termasuk salah seorang dari mereka (HR Abu Dawud, Ahmad dan Tirmidzi). Maka kalangan pesantren melawan dengan  menolak memakai jas waktu itu tapi menggunakan sarung, menolak  pendidikan formal dengan membentuk pendidikan pesantren.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Demikian disampaikan oleh Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) KH. Ng. Agus Sunyoto dalam acara Bedah Buku karyanya yang berjudul Fatwa dan Resolusi Jihad di Aula UNU Jogja, Selasa (07/11).

Pada kesempatan tersebut, Agus Sunyoto juga menjelaskan bahwa perlawanan kaum santri tidak hanya melalui simbol-simbol saja, tetapi juga perlawanan fisik.

“Sejarah menunjukkan bahwa kalangan pesantren terlibat dalam pertempuran 10 November dengan pasukan Hizbullah-nya dan sebagian masuk menjadi TKR. Bukti bahwa para Kyai dan santri terlibat itu ada di cacatan-catatan keresidenan dan bupati,” jelasnya.

Fatwa Jihad yang dikeluarkan KH. Hasyim Asyhari, lanjut Agus Sunyoto juga amini oleh presiden Soekarno waktu itu. Akan tetapi, ia menyayangkan penulisan sejarah yang tidak menuliskan tentang hal itu.

Baca Juga >  Virus Corona Merebak, PBNU Tunda Munas dan Konbes 2020 di Sarang

“Penulisan sejarah di Indonesia banyak kekurangan didalamnya karena tidak menyebutkan bahwa Resolusi Jihad telah dikumandangkan oleh Kiai Hasyim,” tegasnya

Buku Fatwa dan Resolusi Jihad ditulis olehnya melalui pendekatan emik, merekontruksi sejarah berdasakan kacamata lokal bukan dari produk kolonial, maka logika yang dibangun akan dibalik dengan menghadirkan fakta-fakta baru tadi.

“Penegasan tentang Resolusi Jihad ini menjadi penting mengingat perdebatan sejarah telah sedemikian rupa diplintir oleh orang-orang yang tidak suka dengan pesantren,” ungkapnya.

Agus Sunyoto menegaskan bahwa buku tersebut dihadirkan sebagai bagian dari historiografi Indonesia dalam menyusun sejarah bangsa melalui prespektif NU. Buku tersebut meurpakan  edisi pertama yang akan dilanjutkan edisi berikutnya dengan harapan menjadi rujukan dunia pendidikan dan masuk membawa fakta-fakta baru sehingga dapat melengkapi buku sejarah yang telah dipelajari.  (Anas Tolhah/Rokhim)