Perjuangan Bertemu Habib Lutfi, Kisah Nyata MenyejukkanAyahanda Habib Lutfi Hafal Quran, Kitab Kuning dan Mahir 27 Bahasa Asing

Perjuangan Bertemu Habib Lutfi, Kisah Nyata Menyejukkan

Posted on

Perjuangan Bertemu Habib Lutfi, Kisah Nyata Menyejukkan.

Kisah ini terjadi pada Bulan November 2017.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Kala itu adalah momen indah yang tidak akan pernah terlupakan dalam hidupku, berbekal niat yang baik berbuah hasil yang baik, inilah Kisah Perjuangan Spiritualku, Selamat Mengikuti…..

**

Saya punya sahabat… dia orang asli Lampung, Abahnya sahabat saya itu dulu adalah sahabat dekat Habib Lutfi Bin Yahya (Pekalongan) saat masih sama sama Berjuang, Nyantri di Pondok Pesantrennya Al Maghfurllah Mbah Kyai Abdul Malik (Purwokerto). Lama tidak berjumpa, tiba tiba teman saya itu inbox, dia bertanya :

“Apakah Habib Lutfi akan ke Jogja Mas Haris?”

Saya jawab :

“Sepertinya iya, Insya Allah bulan ini Beliau rawuh ke Jogja, kalo tidak salah di Stadion Sultan Agung Bantul”

Sahabatku :

“Saya ingin sekali menyampaikan pesan Abah saya, bisakah engkau menyampaikan pesan Abah saya kepada Maulana ?”

Saya :

“Insya Allah”

Sahabatku :

“Abah saat ini sedang dirundung kesusahan disini, Beliau sangat Rindu dengan Maulana, sampaikan salam Abah untuk Maulana”

Saya :

“Insya Allah Kawan, Doakan saya semoga bisa bertemu langsung dengan Beliau, nanti akan saya sampaikan”

**

Ndilalah, pada Hari H acara berlangsung, dari pagi hingga malam Jogjakarta di guyur hujat lebat, sangat lebat, padahal acaranya sangat ditunggu tunggu karena kita akan Bersholawat dan Berdoa Bersama untuk Bangsa, Cancut Taliwondo, karena membawa sebuah amanah, Saya tetap bertekad berangkat, apapun yang terjadi, sekalipun hujan pada malam itu sangat lebat sekali, saking lebatnya bahkan jalan yang saya lalui dari rumah menuju Stadion Sultan Agung Bantul tidak tertembus oleh mata, harus pelan pelan sekali naik motor agar bisa tetap berjalan, Alhamdulillahnya saya dari rumah tidak jadi menggunakan payung, tapi Mantol Baju dan Celana, jadi aman, tidak kehujanan, kalo saja saya pakai payung sudah hampir pasti basah kuyub, belum lagi ditambah angin yang saat itu berhembus sangat kencang.

Pukul 20.00 WIB sebelum berangkat terlebih dahulu saya bertawasul, kirim Surat Al Fatihah, saya Khushushkan untuk Nabi Muhammad Saw lebih khushush lagi untuk Para Dzuriyyah, lebih Khushush lagi teruntuk Maulana Al Habib Lutfi Bin Yahya Wa Ahla Baitih, tidak usah bertanya mengapa saya harus mengirim Surat Al Fatihah terlebih dahulu, jika kalian Warga Nahdliyin pasti sudah mengerti dengan ritual yang saya lakukan diatas, Surat Al Fatihah menurut Guru saya adalah “Password” yang disadari oleh Muslim sebelum bertemu dengan siapapun, terlebih orang orang Sholih, terlebih lagi Kekasih Allah Swt, mendoakan adalah bagian dari sebuah Adab, selain kita niatkan Tabarrukan. Setelah selesai bertawasul, hati saya makin yakin dan mantab bahwa malam itu saya akan bertemu dengan Beliau, meskipun keadaan di lapangan secara nalar sangat jauh dari mungkin, bagaimana tidak, waktu saya sampai di Stadion Sultan Agung (Pukul 20.15 WIB) keadaan sangat sepi (karena hujan yang sangat lebat) tidak ada pengunjung, kalaupun ada itu hanya Para Banser yang berjaga jaga.

**

Dalam hati saya bertanya tanya “Kok Bisa Sepi Begini” padahal acaranya Tabligh Akbar yang rencana dihadiri oleh Maulana Al Habib Lutfi Bin Yahya (Pekalongan) dan Al Habib Muthohar (Semarang) sekitar 10 menit saya berdiri di samping Stadion, Alhamdulillah lambat laun jamaah berduyun duyun hadir ke Stadion, hampir semuanya menggunakan Mantol, karena kondisi pada saat itu hujan lebat, tidak ada tikar, hampir seluruh jamaah berdiri, ada yang duduk sebagian, disamping panggung menggunakan tikar dari plastik yang dijual oleh para pedagang, saya memilih berdiri karena pikiran saya terus bekerja, satu yang saya pikirkan pada waktu itu “Bagaimana caranya saya menemui Maulana?”

Baca Juga >  Karomah Gus Baha’ Muncul, Pegang Kitab Syaikhona Kholil

**

Setelah lama berfikir, akhirnya muncul ide, akhirnya segera saya menemui Banser yang berjaga jaga di luar Stadion, saya bertanya kepada Banser “Apakah Habib Lutfi sudah Rawuh ?” Banser itu menjawab “Belum, coba jenengan langsung ke Ruangan itu saja (sambil menunjuk sebuah ruangan di samping Stadion) disana nanti Habib Transit” saya pun berterima kasih “Matur Suwun Sanget Pak”

Tanpa menunggu lama saya langsung meluncur ke Ruangan yang dimaksud Banser tadi, di luar Ruangan sudah berjaga jaga Puluhan Polisi lengkap dengan senjata laras panjangnya, karena niat saya baik saya beranikan diri bertanya kepada Pak Polisi “Pak, Apakah Habib Lutfi sudah Rawuh?” Pak Polisi itu menjawab “Saya tidak tahu Mas, coba bertanya langsung sama Banser yang berada di dalam Gedung situ” inilah hebatnya Banser, dimanapun tempat sekalipun Banser bukan Polisi tapi posisinya tetap Istimewa (Ring Satu) jika sudah menyangkut keselamatan Ulama’ dan hebatnya lagi Polisi dan Banser keduanya saling Menghormati, Pokoknya I Love U deh buat Mas Mas Banser dan Bapak Bapak Polisi.

**

Setelah saya ingin mencoba masuk, ternyata ditahan lagi oleh Polisi yang berjaga jaga tepat di depan pintu masuk, setelah saya sampaikan baik baik maksud dan tujuan saya akhirnya saya diantar oleh Polisi tadi menghadap salah seorang Banser, oleh Banser saya diantar lagi menghadap Ansor yang bersiap menyambut Maulana di sebuah ruangan. Kepada salah seorang panitia (Pemuda Ansor) itu saya sampaikan maksud dan tujuan saya kenapa saya ingin sekali Sowan, bertemu langsung dengan Beliau, Panitia mengabarkan “Malam ini Maulana tidak bisa Rawuh, yang Rawuh adalah Keluarganya” saya sampaikan kepada Panitia “Bagaimana agar saya bisa bertemu langsung dengan Keluarga Beliau?” akhirnya oleh panitia saya di berikan petunjuk dan arahan, yang intinya nanti setelah usai acara.

**

Akhirnya saya langsung bergegas mengikuti acara, ndilalah tepat didepan saya berdiri ada salah seorang Yik Muda yang juga berdiri posisi hujan hujanan, karena merasa tak nyaman “mosok saya pakai mantol yik itu tidak” begitulah batin saya bergemuruh, saya dekati Beliau, setelah jaraknya sangat dekat lakok saya di Awe Awe oleh Yik Muda itu “Sini Sini” kata Beliau. “Ini Rokok, Ayo Ambil” tiba tiba saja saya dipaksa oleh Beliau mengambil sebatang Rokok, “Matur Suwun Sanget Yik” setelah saya mengambil Rokok, Yik itu masuk mobil, disusul oleh Yik yang lain, seketika saya ingat akan amanah teman saya, saat mobil mulai berjalan pelan, saya lari mengejar Mobil Hitam Panjang itu, Alhamdulillah berhenti, saya sampaikan ke Yik tadi “Saya membawa amanah teman saya, jika Jenengan ingin ke Pekalongan bisakah saya menitip sesuatu untuk Maulan Al Habib Lutfi Bin Yahya ?” Yik itu menjawab “Bisa, Bisa” lalu saya berikan selembar kertas berisikan amanah teman saya persis seperti yang dia tuliskan di Inbox FB saya, sebelum beliau berangkat saya bertanya kembali “Mohon Maaf Yik, bolehkah saya berkenalan dengan jenengan?” Beliau menjawab “Boleh, Perkenalkan nama saya Husein, Putra Habib Lutfi, Insya Allah nanti saya sampaikan ke Abah” lalu beliau menutup jendela Mobil dan melaju cepat, kembali ke Pekalongan.

**

Batin saya… “Alhamdulillaaaaah Plong”

**

Satu kesyukuran yang tidak akan pernah terlupakan, yaitu peristiwa pada saat hujan lebat di Awe Awe oleh orang yang sama sekali belum saya kenal, dan saya dipaksa oleh Beliau mengambil Rokok kesukaan Maulana, yaitu Rokok Diplomat Filter.

Penulis: Gus  Abdul Haris Bin Abdul Hamid, Pengasuh Pesantren Nurul Istadz Wonokromo Bantul.