Perbuatan Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Makna Fana Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani (2)

Oleh Edi AH Iyubenu, wakil ketua LTN PWNU DIY.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani menukil hadis Rasulullah Saw dalam kitabnya, Adab al-Suluk wa al-Tawashul ila Manzil al-Mulk, “Berbuat bajiklah, mendekatlah, dan luruskanlah dirimu, sebab semua telah dimudahkan bagi sesuatu yang memang diciptakan untuknya.

Hadis tersebut oleh beliau dijadikan dasar pijakan untuk meneguhkan ajarannya bahwa pada hakikatnya segala perbuatan manusia merupakan kehendakNya dan perbuatanNya. Allah Swt yang Maha Memberi dan Maha Menahan dalam urusan rezeki, misal, takkan pernah terbendung oleh persekutuan seluruh manusia jika Dia telah berkehendak.

Begitu hakikatnya, prinsip rohaninya. “Jika engkau melempar, pada hakikatnya Allah Swt lah yang melempar….

Sebelum lebih jauh, mari berhati-hati dulu kepada kemungkinan munculnya pertanyaan di pikiran kita tentang perbuatan-perbuatan buruk atau maksiat yang kita lakukan.

Apakah itu pun bagian dari kehendak Allah Swt dan perbuatanNya pula?

Syekh Abdul Qadir al-Jailani memberikan nasihat begini:

“Bagaimana kau mau berbangga dan pamer atas kebajikanmu serta menuntut balasan terhadapnya? Sedangkan semua kebaikan tersebut berasal dari kekuatan yang dianugerahkan oleh Allah Swt kepadamu, melalui taufik, pertolongan, daya, kehendak, dan karuniaNya? Begitu juga dengan penyingkiran maksiat terhadapNya. Semua laku ini hanya berkat perlindungan dan pertolonganNya terhadapmu. Maka perbaikilah lakumu. Syukur dan pujian hanya bagi yang menolong. Nisbatkanlah segala sesuatu padaNya dalam segala kondisi kecuali keburukan, maksiat, dan celaan. Semua itu (perbuatan buruk) harus kau nisbatkan kepada dirimu sediri. Dirimu lebih berhak untuk dialamati laku kezaliman dan  kekurangajaran sebab ia (hawa nafsumu) adalah tempat keburukan dan ia memerintahkan segala keburukan dan kesia-siaan.”

Mari kita bedakan terlebih dahulu antara Yang Hakiki (al-Haq) dengan yang non-hakiki (ghairul haq). Saya sengaja menuliskan dengan huruf kapital untuk yang pertama dan tidak kapital untuk yang kedua, semata untuk menunjukkan bahwa Kehakikian Allah Swt jangan sampai kita pertukarkan maupun campur-adukkan dengan ketidakhakikian diri kita yang cuma manusia fana ini.

Pertama, Allah Swt adalah Dzat Maha Suci, Maha Mengatur, Maha Berkehendak, dan Maha Memutuskan. Ini mutlak kita imani!

Mari pikirkan, bagaimana mungkin KesucianNya tidak lekat semata dengan keluhungan, kemuliaan, dan kebaikan? Bagaimana mungkin kemungkaran, kemaksiatan, dan kefasikanbisa bersanding dengan KesucianNya?

Mustahil sekali.

Karenanya, tiada kepantasan akhlak dan logika sama sekali untuk beran-beraninya kita membenarkan perbuatan-perbuatan buruk kita dengan menghadapkannya kepada Kehendak dan Perbuatan Allah Swt.

Kedua, Allah Swt jelas-jelas mengutus para RasulNya kepada manusia dan kitab-kitab suciNya untuk kita jadikan pedoman dalam menjalani hidup ini. Di dalam al-Qur’an, misal, jelas sekali ayat-ayat yang memperlihatkan KehendakNya Yang Maha Mengatur dengan memisahkan antara yang haq dan yang batil, kebaikan dan kemungkaran. Ini kita kenal sebagai syariatNya.

Syariat yang telah terang benderang ini dan diperintahkanNya untuk kita ikuti, bagaimana mungkin akan kita campakkan  begitu saja dengan mengatasnamakan Kehendak Allah Swt atas keburukan-keburukan yang kita lakukan?

Bagaimana mungkin perintah-perintah Allah Swt untuk tidak berdusta dan khianat, misal, kita nyatakan sebagai Perbuatan Allah Swt pula tatkala kita terjatruh pada perbuatan dusta dan khianat itu padahal kita telah dibekaliNya pengetahuan syariat?

Sungguh mustahil sekali.

Ketiga, Allah Swt menjanjikan keputusan maha adil kelak di yaumul hisab. Siapa yang berbuat kebaikan akan dibalas surgaNya dan siapa yang berbuat kemaksiatan akan dibalas nerakaNya. Jika kita menyatakan perbuatan-perbuatan buruk kita adalah pula perbuatan hakiki Allah Swt, maka pemikiran ini menyalahi sifat Maha Suci, Maha Memutuskan, dan Maha Adil Allah Swt secara langsung.

Itu pun mustahil sekali! Itu jelas terlarang!

Bahwa secara hakiki semua perbuatan dan kejadian memang merupakan kehendak dan keputusan Allah Swt, itu seyogianya kita nyalakan selalu di derajat al-Haq tadi. Jangan diseret-seret ke derajat rendah manusiawi dan duniawi kita.

Artinya, mesti semata kebaikan-kebaikanlah yang kita nisbatkan kepadaNya. Ini sekaligus menerakan ihwal kewajiban kita sebagai hambaNya untuk “menjagaNya” dengan semata mematuhiNya dan menghadiahiNya dengan laku kebaikan-kebaikan, sesuai perintah-perintahNya, bukan mencampuradukkan dengan laku keburukan-keburukan.

Adapun di derajat yang non-hakiki, yakni ranah manusiawi dan duniawi kita, menjadi kewajiban bagi kita untuk selalu menjaga diri agar terhindarkan (berkat pertolonganNya) dari kemaksiatan-kemaksiatan yang dibenciNya.

Bagian (berkat pertolonganNya), saya maksudkan sebagai keyakinan yang haq dalam rohani kita bahwa terhindarnya kita dari jerat-jerat kemaksiatan di dunia ini pun sesungguhnya semata merupakan kehendakNya dalam bentuk pertolongan dan taufik dariNya.

Maka, jika kita sedang berbuat kebajikan dan kebaikan, seperti peribadatan shalat atau sedekah, sesungguhnya secara hakiki itu adalah berkat pertolongan Allah Swt semata. Allah Swt lah yang ‘berbuat’ demikian sehingga kita bisa berbuat demikian.

Pun tatkala kita terselamatkan dari iming-iming syahwat yang menghampar di depan mata, misal, itu pun semata berkat pertolongan dan taufik Allah Swt kepada kita. Sehingga berkat ‘berbuatnya’ Allah Swt yang demikian –menyelamatkan kita—menjadikan kita pun berbuat yang demikian –selamat dari jerat maksiat yang dilarangNya.

An-Nisa’ ayat 79 menjelaskan hal ini dengan jernih: “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah Swt dan apa saja keburukan yang menimpamu adalah dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi rasul kepada seluruh manusia dan cukuplah Allah Swt menjadi saksi.

Inilah bukti nyata Kasih Sayang Alah Swt dan sekaligus KemahaadilanNya. Semata berkat limpahan Kasih SayangNya, kita termungkinkan untuk bisa berbuat sesuai syariatNya denganmenebar kebaikan-kebaikan di dunia ini. Dan berkat keadilanNya (yang buahnya akan diputuskanNya kelak di yaumul hisab), kita masih diberi ‘ruang diri’ olehNya tatkala kita kadung terjatuh pada perbuatan-perbuatan mungkar.

Maka diisyaratkan melalui doa Nabi Adam As yang juga tercantum dalam al-Qur’an, “Rabbana dzalamna anfusana…., ya Tuhan kami sungguh kami telah menzalimi diri kami sendiri….”, bahwa kezaliman-kezaliman yang kita lakukan adalah kezaliman-kezaliman pada diri sendiri dan itu mustahil dinisbatkan kepada Allah Swt untuk berbuat zalim kepada kita sebab Allah Swt Maha Adil dan pula Maha Tak Berbuat Zalim.

Man ja-a bis sayyiati fala yujza illa mitslaha wahum la yudhlamun, siapa yang berbuat keburukan maka dia akan dibalas sesuai amal buruknya dan mereka tak dizalimi.”

Ruang diri’ yang kadung berzalim itu masih saja diberiNya Kasih Sayang melalui jalan taubat.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani menuturkan: “Jika memang kau mengakui bahwa Allah ‘Azza wa Jalla adalah Pencipta Kebajikan melalui segala usahamu, maka kau hanyalah media yang berusaha, sementara Dia lah yang menciptakannya….”

Maka bersyukurlah selalu kepadaNya….

Wallahu a’lam bishshawab.

Jogja, 30 Juli 2019

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *