Pagar Nusa UIN Sunan Kalijaga Enam Tahun Berdiri, Sabet Beragam Prestasi

Pagar Nusa UIN SUKA: Enam Tahun Berdiri, Sabet Beragam Prestasi

Diposting pada

Pagar Nusa UIN SUKA: Enam Tahun Berdiri, Sabet Beragam Prestasi

Sekitar 80 orang berdiri menghadap kiblat, berbaris menyerupai shaf sholat. Semuanya mengenakan baju dan celana longgar hitam. Satu orang berdiri di hadapan mereka, mengenakan pakaian sama namun dengan kain hijau terlilit di pinggang. Lantunan lirih sebuah doa terdengar, mengisi suasana pagi hari Minggu di UIN Sunan Kalijaga dengan sedikit berbeda.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Santri Pagar Nusa, begitu mereka mengistilahkan diri. Sebuah organisasi pencak silat yang telah berdiri sejak tahun 1986. Dilatarbelakangi keresahan para kiai melihat budaya pencak silat yang mulai surut di pesantren, organisasi ini berdiri. KH Suhabillah, KH Mustofa Bisri, KH Abdullah Maksum Jauhari, KH Syansuri Badawi, kemudian mendirikan Pagar Nusa di kota Kediri. Selain surutnya budaya pencak silat, tawuran juga acap kali terjadi antar perguruan pencak silat.

“Tawuran seperti itu dapat meresahkan masyarakat,” papar Pagar Nusa UIN Sunan Kalijaga Ahmad Faizal Anis kepada bangkitmedia.com di sebuah warung kopi, Kamis (03/10).

Nama Pagar Nusa sendiri berasal dari kata ‘pagar’, ‘NU’, dan ‘bangsa’ yang berarti pagar Nahdlatul Ulama bangsa. Maksud kata ini adalah agar Pagar Nusa dapat membentengi NU, para kiai, dan juga bangsa Indonesia. Organisasi ini menjadi wadah bagi santri Nahdlatul Ulama untuk mengasah kemampuan, utamanya dalam bidang bela diri. Turun-temurun, dari tahun ke tahun Pagar Nusa terus mengembangkan sayapnya di berbagai daerah di Indonesia.

Tak hanya belajar bela diri, organisasi ini juga mengajarkan kedisiplinan, kekeluargaan, gotong-royong, persaudaraan, dan akhlak. Semboyannya acap kali digaungkan, “la ghaliba illa billah”. Semboyan ini berarti “tidak ada kemenangan kecuali pertolongan Allah”. Maksudnya adalah bahwa tidak ada kemenangan yang bisa diperoleh selain dengan pertolongan Allah.

Usia Pagar Nusa di UIN Sunan Kalijaga saat ini memasuki tahun ke-6. Dirintis oleh As’ari, Syarifudin, Zainal Arifin dan beberapa orang lain yang merupakan lulusan Pagar Nusa Bahrul Ulum Tambak Beras, Jombang. Pada awalnya mereka mendirikan Pagar Nusa karena banyak lulusan Pagar Nusa yang tidak memiliki wadah di Kota Yogyakarta. Selain untuk latihan, Pagar Nusa UIN Sunan Kalijaga kemudian juga menjadi wadah bersilaturrahmi.

“Khususnya dalam ruang lingkup UIN, pada saat itu belum ada Pagar Nusa,” ujar Faizal

Pagar Nusa UIN Sunan Kalijaga telah berkembang pesat hingga saat ini. Jumlah anggota aktif saat ini tercatat 83 orang, dengan jumlah pengurus 15 orang dan santri sekitar 68 orang. Meski tidak semua merupakan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, seluruh anggota mampu bersinergi dengan baik.

Baca Juga >  Tiga Tranformasi NU di Tengah Transisi Era Milenial

“Pagar Nusa UIN ada juga mahasiswa UGM, STTA, UNY, SMA, bahkan SD,” ujar mahasiswa UIN Sunan Kalijaga yang mengambil Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam ini.

Berbagai Penghargaan

Selama enam tahun berjalan, Pagar Nusa UIN Sunan Kalijaga telah beberapa kali menyabet penghargaan dari berbagai lomba. Beberapa penghargaan tersebut di antaranya adalah Solo Championship, Apple Cup, dan Lintang Songo Cup. Juara dua diraih dalam Solo Championship kategori Fighter Putri Kelas B, juara tiga dalam Lintang songo kategori Fighter Putri Kelas B, dan juara tiga Apple Cup kategori Fighter Putri Kelas B.

Prestasi yang didapat, tidak terlepas dari disiplin latihan yang dilakukan setiap tiga kali dalam seminggu. Setiap latihan menghabiskan waktu sekitar empat sampai lima jam. Jadwal latihan putra adalah hari Selasa malam, Kamis malam, dan Minggu pagi. Sementara latihan putri dilakukan sore hari pada hari Jumat, Sabtu dan pagi di hari Minggu.

“Kami latihan bersama setiap hari Minggu,” pungkasnya.

Selain latihan rutin dan mengikuti kejuaraan bela diri, Pagar Nusa UIN Sunan Kalijaga juga rutin mengadakan ziarah ke makam para ulama setiap malam Jumat Kliwon. Beberapa tempat yang pernah dikunjungi adalah Syekh Maulana Maghribi, Syekh Bela-Belu, Sunan Pandanaran, Panembaan Purubaya, dan beberapa tempat lain. Kunjungan ini bertujuan untuk melestarikan tradisi, mempererat tali silatrrahmi, menambah wawasan sejarah.

“Ziarah itu tidak tiba-tiba dilakukan, minimal kita harus mengetahui profil makamnya, sehingga hal itu menjadi pengetahuan baru,” jelasnya.

Pagar Nusa tidak hanya ada di UIN Sunan Kalijaga, tapi juga berkembang di beberapa kampus yang ada di Yogyakarta. Beberapa kampus tersebut di antaranya adalah Universitas Gadjah Mada, Universitas Islam Indonesia, dan STAISPA. Selain latihan di universitas masing-masing, tidak jarang juga Pagar Nusa melakukan latihan bersama-sama. (Fikriyatul Islami Mujahidah/Rn)

*Tulisan ini adalah karya Mahasiswa KPI UIN Sunan Kalijaga yang sedang melakukan kegiatan Magang Profesi di Majalah Bangkit dan Bangkitmedia.com

_______________

Semoga artikel Pagar Nusa UIN SUKA: Enam Tahun Berdiri, Sabet Beragam Prestasi ini memberikan manfaat dan barokah untuk kita semua..

simak artikel terkait di sini

kunjungi juga channel youtube kami di sini