Gusdur dan Gusmiek
Gusdur dan Gusmiek

Nasihat Gus Miek untuk para Hafidz dalam Memilih Jodoh

Posted on

Quffazhul Qur’an jangan sampai melangkah pada perkawinan yang bukan perjuangan, bukan pengabdian, bukan hikmah, dan bukan sarana amar ma ’ruf nahi munkar (perintah kepada kebajikan dan larangan dari yang mungkar),” dawuh K.H. Khamim Djazuli atau kerap disapa Gus Miek.

Nasihat Gus Miek di atas merupakan perintah untuk orang-orang yang dekat dengan beliau. Kekhususan para huffazh (para penghafal Al-Qur’an) yang memiliki peran besar dalam majlis sema’an mengharuskan mereka benar-benar siap uji dan siap dalam menata hati, tidak terkecuali dalam hal pernikahan.

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Setiap orang mampu untuk melakukan pernikahan. Akan tetapi, pernikahan yang bagaimanakah? Pertanyaan inilah yang beliau pertegas untuk para huffazh. Gus Miek memberikan rambu-rambu untuk para huffazh agar dalam melangsungkan pernikahan mereka mengacu pada salah satu dari empat niat: 1) perjuangan, 2) pengabdian, 3) hikmah, dan 4) amar ma’ruf nahi mungkar (perintah kepada kebajikan dan larangan dari kemungkaran). (Nasihat Gus Miek Membangun Keluarga Sakinah: hal 18-20)

Dahulu, jika seorang Ulama ingin mencari menantu, beliau akan mencari menantu yang juga dari kalangan Ulama. Tidaklah mengherankan jika seorang Kiai tersohor mencari besan dari Kiai yang juga tersohor. Maksud beliau mengawinkan putra-putri mereka dari nasab yang jelas kuat tersebut, salah satunya adalah mencari bibit yang unggul yang nantinya unggul dalam medan perjuangan dakwah.

Seperti dikatakan Gus Dur. “Untuk pergulatan sosial budaya adakah yang lebih tepat dari bala bantuan perwira berupa Kiai, sebagai barisan opsir agamawan? Adakah cara lebih tepat dari proses perkawinan dengan mengambil menantu calon Kiai dari pantai Utara? Bukankah bentangan kawasan pesisir dari Cirebon di Jawa Barat hingga Sedayu di dekat Surabaya merupakan sumber penyediaan calon Ulama yang tangguh, dengan rangkaian pesantren-pesantren kunonya? Asy’ari (ayah pendiri Pesantren Tebu Ireng, Hadratus Syeh K.H. Hasyim Asy’ari) berasal dari Demak, diambil menantu Kiai Utsman Jombang. Kakak beradik Ma’sum dan Adlan Ali dari Sedayu juga lalu mangkal di Jombang. Seperti halnya Bisri Syansuri yang berasal dari Tayu (Pati) dan Idris Kamali yang lahir di Cirebon. Mahrus Ali dari Cirebon juga, kini memimpin Pesantren besar di Kediri. Juwaini dan Jauhari adalah pemuda-pemuda Pati yang kemudian bermukim di Jawa Timur juga.” (Kiai Nyentrik Membela Pemerintah, hlm. 3-4).

Baca Juga >  Ini Karomah Gus Dur yang Dirasakan Kang Maman

Nasihat Gus Miek untuk para huffazh tentang empat hal di atas berkaitan dengan kekuatan mental. Diceritakan bahwa Nabi Yunus memiliki istri yang buruk perangainya. Suatu ketika, seorang umatnya melihat Nabi Yunus sedang diumpat oleh istrinya, namun Nabi Yunus hanya diam saja. Orang yang melihat tersebut menjadi heran. Sebelum herannya habis, Nabi Yunus berkata, “Janganlah engkau heran. Saya telah memohon kepada Allah Swt, Sesuatu yang akan Engkau siksakan kepadaku di akhirat, segerakanlah di dunia. Lalu Allah berfirman, Sesungguhnya siksaanmu itu anak perempuan si fulan yang telah engkau nikahi.” Saya mengawininya dan sabar terhadap apa yang kalian lihat darinya.”