Mengapa Radikalisasi akan Terus Terjadi di Kampus Negeri? #1
Barusan kita dibuat tercengang dengan twit viral dari netizen Mabrur L Banuna bagaimana sistematisnya radikalisasi di kampus Kendari: terutama IAIN Kendari dan Unhalu.
Mabrur membongkar bagaimana 8 tahun HTI mengelola dan menyunat keuangan bidikmisi serta mengindoktrinasi mahasiswa.
Permasalahan sebab-sebab radikalisasi di PTN sejatinya sudah seterang matahari, hanya saja penanganannya sangat lambat dan tidak lebih dari jargon jargon anti radikalisme. Sementara radikalisasi di kampus terus terjadi.
Di tulisan ini saya ingin memperjelas mengapa radikalisasi akan terjadi di kampus umum terutama PTN dan mengapa dakwah NU atau Muhammadiyah sulit berkembang di kampus umum.
Sebab utamanya adalah karena radikalisasi itu dilaksanakan dengan memanfaatkan fasilitas dan anggaran negara, melalui lembaga dakwah kampus (LDK).
Lembaga dakwah kampus (LDK), secara de facto menjadi kepanjangan dari Ikhwanul Muslimin di Indonesia: materinya, sistem kaderisasinya semuanya 100 persen Ikhwanul Muslimin. Dan para pelatihnya adalah para aktivis ikhwanul muslimin yang terkait dengan partai tertentu.
Setiap kampus, ada penanggung jawab dari aktivis Ikhwan partai tertentu, yang bertanggung jawab memastikan kaderisasi berjalan dengan baik. Kepada merekalah aktivis LDK memberikan kesetiaan. Bukan kepada universitas atau pimpinan kampus. Ikhwan menjadi qiyadah (pimpinan) bagi LDK dan sangat mewarnai visi misi LDK.
Hal demikian sudah berjalan hampir 20 tahun, dakwah dan kaderisasi Ikhwanul Muslimin di Indonesia dibiayai dengan uang negara dengan menggunakan fasilitas-fasilitas negara.
Baca juga: Mengapa Radikalisasi akan Terus Terjadi di Kampus Negeri? Bagian Dua
Melalui anggaran yang diberikan kepada Unit Kegiatan Mahasiswa mereka mengundang aktivis ikhwan untuk datang ke kampus guna merekrut anggota baru dan menggerakkan militansi.
Melalui organ intra kampus, Ikhwanul Muslimin bisa menggunakan uang negara dan mewajibkan mahasiswa untuk mengikuti kegiatannya sehingga dengan gampang bisa merekrut anggota baru dan mencekokkan ideologi ikhwanul muslimin, yang ditandai dengan tiga hal yaitu tab’id (pembid’ahan amalan ahlus sunnah wal jamaah dengan dalih pemurnia), penguasaan dan pergantian pemerintahan dengan pemerintahan islam versi Ikhwanul Muslimin, dengan berikutnya mendirikan khilafah. (Lihat Gambar)
Dakwah radikal Ikhwanul Muslimin gampang merekrut anggota baru karena dilaksanakan dengan fasilitas dan anggaran negara.
Sedang NU maupun muhammadiyah kesulitan mencari peserta dan anggaran untuk support kegiatan karena hanya organisasi ekstra yang tidak punya akses langsung terhadap mahasiswa, anggaran atau fasilitas kampus.
Penguasaan Ikhwanul Muslimin di Kampus
Hampir semua kegiatan LDK adalah untuk dakwah Ikhwanul Muslimin. Visi misi tujuan LDK, materi dan kaderisasi 100 persen Ikhwanul Muslimin. Meski dibiayai negara, tujuannya untuk kepentingan ikhwanul muslimin.
Saat mahasiswa baru masuk seperti sekarang ini, dengan anggaran kampus, LDK dan anasir anasirnya badan eksuktif mahasiswa akan mengadakan kegiatan orientasi mahasiswa baru dengan mengundang aktivis ikhwanul muslimin.
Yang dihadirkan LDK bukanlah kiai atau ulama yang ahli agama, melainkan adalah aktivis ikhwan. Tujuannya adalah untuk menarik mahasiswa baru ke ikhwan.
Kemudian LDK juga mengadakan kajian rutin dengan anggaran dan fasilitas kampus seperti Kuliah Ahad Pagi atau nama yang lain yang menghadirkan tokoh-tokoh ikhwan untuk memobilisasi dan ideologisasi kader mereka secara lebih jauh. Kuliah umum ini wajib diikuti oleh mahasiswa baru yang mengambil makul pendidikan agama Islam.
Mereka juga mengadakan mentoring (asistensi pendidikan agama Islam) yang juga wajib diikuti oleh mahasiswa yang mengambil mata kuliah Pendidikan Agama Islam.
Mahasiswa takut tidak mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut karena takut nilai mata kuliah PAI jelek atau bahkan tidak lulus.
UGM adalah contoh kampus yang meniadakan kegiatan asistensi agama Islam. UGM telah mengambil keputusan yang benar.
Cara lain adalah dengan penguasaan melalui bidikmisi. Mengelola bidikmisi dan mengambil dana bidikmisi untuk membiayai kaderisasi ikhwan seperti membeli gedung atau menyewa kos binaan.
Jadinya mereka mempunyai banyak kos binaan, melalui kos binaan ini mereka merekrut mahasiswa dengan membayar lebih murah daripada kos pada umumnya. Inilah yang menjadikan radikalisasi semakin menguat dan ikhwan selalu memenangkan pemilihan umum mahasiswa.
Apa yg terjadi di UNHALU Sultra sebagaimana yang ditwitkan Mabrur bisa menjadi contoh bagaimana melalui bidikmisi radikalisasi terjadi.
1. Setiap hari pengelola Bidikmisi mengadakan liqo/majlis untuk mendoktrin tentang Khilafah. Ini dilakukan selama 1 tahun selama maba tinggal di asrama
2. Pendanaan HTI di Sultra bahkan nasional jg berasal dr beasiswa bidikmisi ini. gmn caranya? Dana beasiswa bidikmisi masuk ke rekening masing-masing mahasiswa. tapi ATM mahasiswa dipegang oleh pengelola. dana bidikmisi ini lalu dipotong dgn dalih keperluan loundry, makan dll. nah dana potongan inilah yg jg dipake untuk danai kegiatan2 HTI.
Kabarnya, dana yg dipotong mencapai 1,9 jt dari dana utuh yg masuk kisaran 6 jt. coba dikalikan deh, 800 mahasiswa dikali 1,9 jt. maka didapatkan angka 1,5 M. cukuplah untuk operasional organisasi 6 bulan. Hehe”
(bersambung)
Penulis: Dr. Abdul ‘Alim (Peneliti pada Pusat Kajian Deradikalisasi Perguruan Tinggi)
_________________
Semoga artikel Mengapa Radikalisasi akan Terus Terjadi di Kampus Negeri? #1 ini memberikan manfaat dan barokah untuk kita semua, amiin..
simak artikel terkait di sini
kunjungi juga channel youtube kami di sini








