Mengapa Kebanyakan Putera Ulama Jadi Ulama Juga?

Posted on

Mengapa kebanyakan (tentu tidak semua) putera ulama, jadi ulama juga? Mengapa kebanyakan Gus jadi Kyai juga?

Tidak ada ilmu yang bisa diturunkan melaui gen. Tidak ada sifat alim yang bisa dibagikan sebagai harta waris.

“Beliau para ulama telah mewakafkan seluruh hidupnya untuk mengurus ummat dan anak anak ummat. Mendidik mengajar dan mendoakan anak anak ummat. Hingga tak jarang keluarga beliau sendiri kurang mendapat perhatian penuh. Maka Allah membalas keikhlasan beliau, dengan putera puterinya diurus sendiri oleh Allah.” (Walidi)

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Siapa yg ingin punya anak sholih? Siapa yg ingin menjadi orang sholih? Siapa yg ingin keluarganya lebih diurus oleh Allah? Maka usahakan untuk ikut memikirkan kesalehan orang orang sekitar, ikut prihatin melihat kemunkaran di sekitar lalu berusaha merubahnya. Ikut menasehati orang orang dekat, dan lebih penting selalu mendoakan kebaikan mereka tanpa mereka ketahui.

Tidak harus menjadi kyai untuk mengajarkan ilmu. Tidak harus menjadi wali untuk mengajak amal shaleh. Tidak harus suci dari dosa untuk melarang kemungkaran.

لينفق ذو سعة من سعته ومن قدر عليه رزقه فلينفق مما آتاه الله لا يكلف الله نفسا إلا ما آتاها سيجعل الله بعد عسر يسرا
(الطلاق: ٧)

Orang yang sedikit rizkinya (lmunya), hendaklah menyampaikan apa yg dia punya (asal benar benar valid). Allah tidak menuntut seseorang melebihi apa yg telah Dia berikan kepadanya.

Termasuk juga fi medsos. Jika tidak pandai menulis, setidaknya ikut membagikan tulisan para kyai alim. (Tapi teliti dulu jangan sampai itu tulisan dari ustad kelompok menyimpang, atau hoax tanpa dalil). Setidaknya kita pernah menjadi sebab kesalehan orang lain. Sekecil apapun tak ada yang disia siakan Allah.

Penulis: Gus Najih Ibn Abdil Hameed.