Masjid Siti Djirzanah, Simbol Akulturasi Islam dan Tionghoa di Jogja

Masjid Siti Djirzanah (Sumber instagram Masjid Siti Djirzanah)
Masjid Siti Djirzanah (Sumber instagram Masjid Siti Djirzanah)

JOGJA—Harmonisasi budaya bisa terlihat dari rumah ibadahnya. Di deretan pertokoan Malioboro, terdapat masjid unik, yang menjadi simbol akulturasi Islam dan Tionghoa.

Namanya Masjid Siti Djirzanah. Di waktu-waktu salat, rumah ibadah berwarna dominan biru ini ramai oleh jemaah. Mereka berasal dari wisatawan, karyawan pertokoan, hingga pedagang kaki lima (PKL) di kawasan tersebut.

Pengurus Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) DIY, Lie Sioe Fen, mengatakan pembangunan Masjid Siti Djirzanah diinisiasi oleh mantan Wali Kota Jogja Hery Zudianto. Masjid dibangun dengan menggunakan konsep pecinan dan indische. “Letaknya sangat strategis. Di Malioboro dan dekat juga dengan Ketandan,” kata Lie, dikutip dari Harianjogja.com, beberapa waktu lalu.

Lie menambahkan bahwa peran mantan Wali Kota Jogja itu terhadap Masjid Siti Djirzanah memang sangat besar. Terbukti, nama masjid itu pun diambil dari mendiang ibunda Hery Zudianto.

Kehadiran masjid di tengah-tengah pertokoan Malioboro memang jadi angin segar bagi umat muslim, khususnya yang keturunan Tionghoa. Bahkan PITI DIY, lanjut Lie, juga pernah merayakan malam pergantian tahun dalam budaya Tionghoa yang merupakan perayaan yang cukup sakral untuk dilakukan.

“Kami juga pernah merayakan Imlek di Masjid Siti Djirzanah dengan dibalut dengan acara pengajian dan keagamaan,” kata Lie.

Masjid seluas 120 meter persegi yang berada di antara toko alat-alat elektronik Sumber Cahaya dan gerai batik Soenardi itu dari depan tampak tidak seperti masjid biasanya. Terdapat tulisan berbahasa mandarin Qingzhensi yang artinya masjid di tengah-tengah tulisan masjid dalam bahasa Arab di sebelah kanan dan masjid dalam bahasa Inggris (mosque). Di bawah tulisan itu, terdapat atap berwarna merah hijau dan biru yang biasa dijumpai di bangunan kelenteng.

Di bagian dalam, lantai marmer putih menjadi alas bagi masyarakat yang beribadah di masjid. Tembok masjid di dalam didominasi dengan warna biru yang tidak mengurangi kekhasan budaya Tionghoa. Untuk tempat wudu bagi laki-laki di ada sisi kiri, sedangkan untuk wanita di sebelah kanan. Masjid itu dibuka untuk umum mulai pukul 11.00 WIB dan ditutup bakda Salat Isya.

“Biasanya yang salat di sini kebanyakan adalah umat muslim keturunan Tionghoa. Tetapi banyak juga warga sekitar masjid yang datang beribadah. Semoga masjid ini memudahkan masyarakat yang sedang berada di Malioboro untuk beribadah,” kata Lie.

Lie juga berharap Masjid Siti Djirzanah menjadi simbol akulturasi dari toleransi masyarakat Jogja. Dengan begitu masyarakat juga diharapkan bisa lebih terbuka melihat perbedaan.

Koordinator Staf Operasional Masjid Siti Djirzanah, Muhammad Yunus, menjelaskan masjid yang tersebut merupakan masjid wakaf yang diatasnamakan mendiang ibunda Hery Zudianto yang bernama Siti Djirzanah. “Masjid dibuka pada 10 Agustus 2018, langsung dimanfaatkan untuk ibadah bagi masyarakat maupun pedagang yang ada di sekitar Malioboro,” kata Yunus.

Penulis: Antariksa Bumiswara

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *