Doa Masuk Masjid dan Doa Keluar Masjid

Makna dan Hakekat Membangun Masjid

Posted on

Semalam, menghadiri undangan dari masjid desa sebelah untuk ngisi kajian khusus imam, khotib, dan pengurus takmir. Saya hanya mengajak pengurus takmir untuk fokus membangun masjid, bukan membangun infrastruktur masjid, tetapi membangun masjid. Kalau hanya mengurus bangunan, serahkan ke arsitek dan CV hasilnya lebih keren. Gak perlu ada takmir apalagi ustadz kyai.

Berikut poin poin yang saya sampaikan semoga bermanfaat.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

1. Ketika hendak membangun sebuah negara, daulah islamiyah, Rasulullaah ﷺ yang baru saja datang hijrah di Madinah segera menancapkan tiga pondasi penting. Dari tiga pondasi inilah Darul Islam bisa berdiri kokoh dan ajarannya menyebar ke seluruh penjuru bumi, sampai juga ke desa kita terpencil ini.

2. Tiga asas yang Beliau ﷺ bangun adalah (1) masjid, (2) cinta dan persaudaraan sesama muslim, (3) undang undang yang diantaranya mengatur toleransi antar umat muslim dengan non muslim, yahudi, dan nasrani.

3. Langkah awal, Beliau ﷺ ikut turun tangan membangun masjid seluas 100×100 hasta, dengan bahan sederhana. Tiang dari batang kurma, dinding dari batu dan lumpur, atap dari pelepah kurma, dan lantai beralaskan pasir dan kerikil kerikil kecil.

4. Bangunan dibiarkan seperti itu tanpa renovasi sampai Rasulullah ﷺ wafat, sampai Abu Bakar ra wafat, dan baru diadakan renovasi perluasan pada masa Umar ra.

5. Dari sini saja kita sudah melihat bahwa membangun dan memakmurkan masjid bukanlah sekedar urusan bangunan fisik. Jika iya, maka Rasulullah ﷺ dan Abu bakar dianggap kalah telak dalam memakmurkan mesjid dibanding DKM zaman now yang masjidnya glowing menjulang tinggi.

6. Mengapa Rasulullaah ﷺ lebih mendahulukan masjid, sebelum pondasi kedua dan ketiga?

7. Ada ruh di dalam masjid yang menjadikan masjid hidup sebagai pondasi utama dan pertama bagi pembangunan masyarakat Islam.

8. Pertama ruh ilmu. Agama Islam bukan sekedar identitas melainkan sebuah ajaran komplek tentang kehidupan. Nilai nilai akidah dan syariah ini harus diajarkan oleh Nabi kepada ummatnya secara kontinyu sedikit demi sedikit sampai tuntas. Masjid adalah tempat paling tepat untuk ummat Islam berkumpul mendalami ajaran Sang Nabi. Dilanjutkan juga para ulama.

9. Membangun masjid tanpa menjadikannya sebagai pusat kajian keilmuan, sama dengan menjual kardus kosong tanpa isi. Yah kardus sekilo 2 ribu rupiah.

10. Kedua ruh cinta. Islam bisa terbangun jika ikatan cinta dan persaudaraan antar umat Islam diperkuat. Masjid adalah tempat paling tepat untuk menumbuh kembangkan cinta dan persuadaraan. Bayangkan seluruh umat Islam bertatap muka bertegur sapa lima kali setiap hari di rumah Allah, otomatis tembok tembok pemisah yang berupa kedudukan harta dan jabatan akan runtuh dengan sendirinya.

11. Membangun masjid tanpa berusaha mengumpulkan seluruh muslim sekitar untuk datang sholat jamaah setiap hari, sama dengan jomblo mengirim chat romatis ke WA tanpa nomor tujuan. Gak bakalan terkirim mblo…

Baca Juga >  Merasakan Nikmatnya Shalat Jama'ah Masjid Kampung di Arab Saudi

12. Ketiga ruh keadilan dan kesetaraan. Ia hanya bisa diwujudkan di dalam masjid. Sebab hanya masjid lah satu satunya tempat berkumpul manusia yang di sana semua orang berstatus sama sebagai hamba Allah. Di tempat lain, institusi apapun itu, interaksi terbangun di atas strata. Ada boss dan karyawan, guru dan murid, pemimpin dan rakyat, penjual dan pembeli, yang tak jarang pertemuan di tempat itu justru memicu kebencian dan kedengkian bahkan kezaliman. Di masjid, semua merendah sebagai hamba, Allah satu satunya boss.

13. Membangun masjid tanpa mampu meghadirkan pejabat dan boss sujud satu shof barisan merendah dilantai yang sama dengan karyawan dan kuli setiap hari, tidak akan berguna menghapus keangkuhan sosial.

15. Membangun infrastruktur masjid dengan kokoh kuat dan bersih rapi sangat dianjurkan oleh agama.

16. Sedangkan menghias dan mengukir dinding masjid untuk bermewah mewah, ulama ada yang mengharamkan dan ada yang memakruhkan, bila dana yang dipakai bukan dari wakaf.

17. Baik yang mengharamkan maupun yang memakruhkan, telah sepakat haram menggunakan dana wakaf untuk sekedar ukir ukiran hiasan masjid, maka pengelola harus mengganti senilai dana itu, dan digunakan sebagaimana mestinya.

18. Selain mengganggu kekhsuyukan, hiasan dan ukiran masjid sedemikian rupa sebagaimana yang terjadi saat ini, hanya akan membuat fakir miskin semakin tersiksa. Di luar masjid hati mereka dikacaukan oleh persaingan kemewahan tetangga sekitar, di masjid yang mestinya tempat menghibur diri, masih dicolok juga dengan duniawi.

19. Sepinya aktifitas masjid, yang kontras dengan mewahnya bangunan masjid, terkadang desebabkan karena persepsi pengurus takmir bahwa dana masjid hanya boleh digunakan untuk bangunan permanen, tidak boleh untuk lainnya.

20. Dana wakaf bangunan masjid memang hanya boleh dipakai untuk bangunan tapi dana kemaslahatan masjid (kotak amal) boleh dipakai untuk gaji imam, muadzin, marbot petugas kebersihan, bisyaroh pengisi kajian, dan lain lain yang maslahat untuk keperluan masjid.

20. Juga ada banyak cara untuk menarik minat warga datang ke masjid mengikuti sholat jamaah dan kajian ilmiyah. Selain dengan mengundang pemateri yang ilmunya kompeten dan penyampaiannya menarik, juga bisa dengan menyediakan kopi atau minuman ringan.

21. Rasulullah ﷺ sendiri telah mengabarkan bahwa akan datang suatu masa, umat berlomba lomba dalam kemewahan masjid tetapi tidak memakmurkannya kecuali sedikit.

22. Boleh dishare biar nyampek ke DKM masjid sebelah.

Bojonegoro, 5 Februari 2020.

Penulis: KH Najih Ibn Abdil Hameed, Bojonegoro Jawa Timur.