Bangkitmedia.com, YOGYA – Ketua PWNU DIY Dr. KH. Ahmad Zuhdi Muhdlor, yang membagikan pengalamannya bersama KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, dalam Tasyakuran Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional untuk KH Abdurrahman Wahid dan Diskusi Publik: Mengenang Pemikiran dan Perjuangan Gus Dur di Kantor DPW PKB DIY, Kamis (13/11). Antara lain pengalamannya menerima surat pribadi berisi apresiasi atas konsistensinya memimpin majalah Bangkit.
Pada kesempatan ini Kyai Zuhdi juga menjelaskan secara rinci pandangan Gus Dur tentang hubungan NU dan PKB. “Gus Dur mengatakan bahwa PKB didirikan secara resmi oleh PBNU. Hubungan antara NU dengan PKB adalah hubungan organik, bukan hubungan organisasi. Hubungan organik ini mengandung konsekuensi bahwa satu sama yang lain tidak bisa hidup tanpa yang lain,” tandasnya.
Hal ini, lanjutnya, erat kaitannya dengan sikap Gus Dur yang sangat anti terhadap populisme agama, yakni upaya memanfaatkan sentimen agama untuk kepentingan politik atau menyerang pihak lain. Sikap inilah yang mendasari Gus Dur dalam menggelorakan gagasan Pribumisasi Islam, yang sempat menimbulkan perdebatan, seperti ketika ia mengusulkan ucapan salam bisa diganti dengan “Selamat pagi” atau “Selamat siang”.
Kegiatan ini juga menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang, yaitu Wawan Mas’udi, Ph.D. (Dekan FISIPOL UGM), dan Dr. Romo Martinus Joko Lelono (Imam Projo Keuskupan Agung Semarang, Dosen Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta). Acara dihadiri KH. Mas’ud Masduki (Rois Syuriyah PWNU DIY), H. Agus Sulistiyono, S.E., M.T., (Ketua DPW PKB DIY), Umaruddin Masdar, S.Ag., (Sekretaris DPW PKB DIY), Anggota DPRD FPKB DIY, Anggota Fraksi PKB DPRD se Kabupaten/Kota se-DIY, Pengurus DPW PKB DIY, Pengurus DPC PKB Kabupaten/Kota se-DIY, para tokoh dan umat lintas agama, para pecinta Gus Dur, aktivis mahasiswa dan peserta umum lainnya. (Harmin)








