Kisah Waliyullah yang Mengguncang Hati Khalifah Bani Umayyah

Kisah Waliyullah yang Mengguncang Hati Khalifah Bani Umayyah

Kisah Waliyullah yang Mengguncang Hati Khalifah Bani Umayyah.

Ketika duduk santai, Sulaiman bin Abdul Malik (Kelak menjadi Khalifah bani Umayyah ke 7) melihat ada orang lewat dengan memakai baju bagus dan berjalan terlihat bergaya.

“Melihat lagaknya, kalau bukan orang Iraq, ya orang Kuffah atau Hamdan nih manusia” katanya. Lalu, menyuruh pengawalnya. “Panggil dia ke sini!”.

Setelah di hadapannya, “Sampeyan dari mana?”

“Ruwet, Sampeyan! Biarkan aku sendiri!” kata yang dipanggil tegas.

Karena kaget (masak Pengeran diacuhkan?!), Sulaiman bin Malik, diam sesaat lalu bertanya kembali: “Sampeyan ini lho, dari mana?!”

“Iraq!” jawabnya tetep acuh.

“Iraqnya mana?”

“Kuffah!”

“Bagian mana?”

“Hamdan!”

Sulaiman bin Malik tambah takjub dengan orang ini. (Bagaimana tidak?! Dia yang keturunan Sayyidina Muawiyyah, jelas sangat kontra dengan penduduk Hamdan yang konon rata-rata pengikut Sayyidina Ali karramallahu wajhah. Tapi orang ini tenang-tenang saja di hadapannya), lalu dia bertanya:

“Menurutmu, Abu Bakar itu gimana?”

“Wallahi, Aku tak menemui masanya, dan diapun tak menemui eraku! Namun masyarakat mengatakan dia baik. Insya Allah diapun memang benar-benar baik.”

“Kalau Umar?”

“Yah, seperti Abu Bakar”.

“Utsman?” cecar Sulaiman bin Malik.

“Wallahi, Aku tak menemui masanya, dan diapun tak menemui eraku! Ada yang mengatakan baik, pun pula ada yang segelintir orang mengatakan buruk. Tapi, Allahlah yang mengetahui kesejatiannya.”

“Kalau Ali?”

“Dia?! Wallahi! Ya seperti Utsman.”

Tiba-tiba Sulaiman bin Malik menyuruhnya berbuat ruwet.

“Pisohi (Caci) Ali!”

“Ndak mau!” tegas lelaki itu.

“Demi Allah! kamu pasti mau mencacinya!”

“Ndak bakalan!”

“Pisohi? Atau kupenggal lehermu?!” gertak Sulaiman bin Malik menampakkan jati dirinya.

Kemudian dia memanggil pengawal untuk memenggal kepala lelaki itu. Dan berdirilah si pengawal dengan membawa pedang terhunus sambil menggoyang-goyangkan besi tajam itu hingga kilatan menerangi tangannya.

“Wallahi! Kau akan mencaci Ali, atau Aku memenggalmu?!” desis Sulaiman bin Malik.

“Wallahi! Aku tak akan mencaci Ali!”, lalu dengan tenang, lelaki itu berkata: “Sampeyan memang ruwet, Sulaiman bin Malik. Coba dekatkan aku padamu.” Kemudian Sulaiman bin Malik menyuruh pengawalnya untuk mendekatkan lelaki itu padanya.

“Hei, Sulaiman!” katanya sehening malam, “Kenapa kau tidak merelakan diriku sebagaimana keridhaan dzat yang lebih baik darimu; yang mengabulkan permintaan orang yang lebih baik dariku, untuk orang yang lebih buruk dari Ali.”

“Apa itu?!” tanya Sulaiman bin Malik penasaran.

“Gusti Allah Ta’ala ridha dengan Nabi Isa yang lebih baik dariku ketika berkata tentang Bani Israil yang lebih jelek dari Ali:

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ. المائدة: 118

‘Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. QS al-Maidah 118’.”

Terlihat pancaran kemarahan dan kegeraman di wajah Sulaiman bin Malik, hingga hidungnya kembang kempis. Kemudian dia berkata: “Lepaskan dia!”. Dan lelaki itu pergi berlenggang biasa, meninggalkan sang pangeran.

Kata Imam al-Kala’ bin Kariz sang periwayat kisah diatas: “Tidak pernah kulihat lelaki sebaik itu, bahkan kebaikannya melebihi seribu orang selain dia. Dan ternyata, dia adalah Thalhah bin Musharrif (Seorang tabi’in, periwayat hadis, serta guru besar masyarakat Kuffah!)”

Imam Abu Nuaim al-Asfahani, ketika menutup kisah itu di Hilyatul Auliya’nya 5/15, menuturkan satu riwayat lagi tentang beliau:

كَانَ طَلْحَةُ بْنُ مُصَرِّفٍ يَقُولُ فِي دُعَائِهِ: «اللهُمَّ اغْفِرْ لِي رِيَائِي وَسُمْعَتِي»

“Talhah bin Musharrif ketika berdoa, berkata: ‘Ya Allah. Ampuni riyakku (Pamer ibadah selain Allah Ta’ala), dan sum’ahku (Ingin ibadahnya terdengar orang lain)’”. Semanten ugi kulo, Gusti. Amin amin amin.

Wallahu a’lam bis-shawaab.

*Tulisan Kisah Waliyullah yang Mengguncang Hati Khalifah Bani Umayyah ini diterjemahkan dari Hilyatul Auliya’ Syaikh Abu Nuaim al-Asfahani 15/5 Syamilah, dengan sedikit penyesuaian bahasa.

Penulis: Gus Robert Azmi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *