Kisah Haru Tanah Suci: Demi Khadijah, Ia Tinggalkan Masjidil Haram

Kisah Haru Tanah Suci: Demi Khadijah, Ia Tinggalkan Masjidil Haram

Kisah Haru Tanah Suci: Demi Khadijah, Ia Tinggalkan Masjidil Haram.

KH Helmi Hidayat, dosen UIN Syarif Hidayatullah yang sedang jadi petugas haji.

Bacaan Lainnya

Demi Khadijah, Rahman rela meninggalkan Masjid Haram meski ia tahu, Rasulullah SAW pernah menjanjikan 100.000 kali lipat pahala dari Tuhan bagi siapa saja yang salat di masjid itu dibanding salat di masjid-masjid lain di muka Bumi. Demi Khadijah, lelaki ini rela membatalkan niatnya bersujud di ubin marmar masjid terbesar di dunia itu, asalkan ia bisa mengantar perempuan yang baru dikenalnya ke hotel tempatnya menginap.

Jangan salah paham. Ini bukan kisah asmara model Qays yang jatuh cinta pada Laila dalam novel Persia abad 12 berjudul ‘’Laila Majnun’’. Jika Qays dalam novel Nizami Ganjavi itu dilukiskan sebagai lelaki yang tergila-gila pada lawan jenis – hingga dijuluki sang ‘’majnun’’ — Rahman adalah sesosok hamba Allah asal Lampung yang justru jatuh cinta pada Tuhannya. Ia meluapkan cintanya pada Allah dalam bentuk kepeduliannya pada Khadijah, anak manusia yang tak bisa bangun di emperan Masjid Haram akibat kakinya bengkak!

Kisah ini bermula ketika sore itu saya tergesa-gesa meninggalkan terminal bus Sheb Ameer menuju Masjid Haram bersama Bimbad Sektor II Madinah Arif Rahman dan Nidyawati, petugas yang baru tiba di Mekkah untuk nantinya diperbantukan ke Madinah. Kami harus segera bergabung dengan semua petugas haji Sektor II Madinah sebelum maghrib tiba untuk melakukan survei lapangan.

Selama tinggal di Mekkah menunggu musim haji tiba, kami memang mendapat tugas baru mendukung Sektor Khusus Masjid Haram dengan tugas pokok menyelamatkan jemaah haji Indonesia yang tersesat, kehilangan alas kaki, kehausan, kelaparan, bahkan jadi korban pencurian atau perampokan.

Tapi, saya nyaris tak pernah bisa cepat mencapai masjid setiapkali mengenakan seragam petugas. Tidak di Masjid Nabawi tidak di Masjid Haram, selalu saja orang mengejar petugas berseragam seperti saya saat melintasi emperan kedua masjid suci itu. Kebanyakan mengaku tersesat atau tak mampu melanjutkan perjalanan seperti Khadijah yang siang itu memelas memohon bantuan kami. ‘’Pak, petugas ya? Tolong ada perempuan terkapar gak bisa jalan,’’ sapa lelaki berseragam pekerja bangunan asal Indonesia kepada saya. Rupanya dia adalah buruh yang sedang bekerja merenovasi Masjid Haram.

Itulah awal perjumpaan kami dengan Khadijah, perempuan 70 tahun asal Lampung, yang ketika kami jumpai tengah duduk di lantai kotor dengan kedua kaki berselonjor. Mukanya memelas penuh harap. Orang-orang tampak berkerumun di sekitar perempuan itu ketika kami datang, lalu pergi satu per satu setelah melihat seragam kami. Setelah mengobrol sebentar dengannya, kami tahu Khadijah sakit. Lebih parah lagi, dia tak tahu nomor bus yang harus ia tumpangi, bahkan tak tahu hotel tempatnya menginap. Orang-orang semodel Khadijah ini bertebaran di sekeliling Masjid Haram dan Masjid Nabawi. Karena itulah Kementerian Agama membentuk sektor khusus untuk menyelamatkan mereka.

Umumnya, orang-orang tua yang terbang ke Arab dari sudut-sudut kampung di Indonesia seperti Khadijah ini tidak akrab dengan data yang seharusnya mereka bawa, minimal kartu nomor bus dan kartu nama hotel. Dalam kasus Khadijah, satu-satunya harta karun yang membuat kami senang adalah gelang identitas yang ia kenakan. Di situ semua data tentang dirinya terekam. Dalam banyak kasus, orang-orang tersesat yang kami jumpai biasanya sudah tak bawa data, tak pakai gelang, eh tak pandai berbahasa Indonesia pula!

‘’Besok bawa kartu bus dan kartu hotel ya bu,’’ jelas saya pelan-pelan. ‘’Nanti kalau ibu tersesat lagi tinggal tunjukkan kartu bus atau kartu hotel kepada orang yang nolong.’’

Dari gelang yang dipakainya saya tahu kota asal Khadijah di Indonesia dan di mana dia tinggal di Mekkah. Kami bisa saja mengantar dia pulang ke hotel, tapi kawan-kawan satu sektor menunggu di Masjid Haram. Di tengah dilema, kawan saya Arif Rahman berlari cepat menuju posko sektor khusus dekat terminal Sheb Ameer meminta bantuan. Saya menelepon Arif agar ketika kembali membawa kursi roda karena Khadijah tak bisa berjalan. Tak lama Arif dan personel sektor khusus datang membawa kursi roda.

Tapi persoalan tak segera tuntas. Ternyata personel sektor khusus itu tinggal sendiri. Kawan-kawannya yang lain sedang mengantar jemaah tersesat, padahal posko tak boleh kosong. Ini sungguh dilematis. Jika kami mengantar Khadijah ke hotel atau menjagai posko selama kawan tadi mengantar Khadijah, itu sama saja bahwa kami tak bisa segera bergabung dengan tim survei di Masjid Haram. Padahal mereka sudah menunggu kami. Kendati demikian, jika harus memilih, kami bertekad mengantar Khadijah ke hotel dan meninggalkan tim survei. Toh alasan bisa kami sampaikan lewat alat komunikasi.

Untunglah, ketika kami sedang bingung menentukan sikap, pertolongan Allah datang. Ada tiga hamba Tuhan, satu perempuan dua laki-laki, tiba-tiba datang menghampiri kami, lengkap dengan pakaian shalat. Salah satu lelaki di antara mereka bilang bahwa Khadijah adalah rekan mereka satu hotel meski dia sendiri tidak mengenalnya. ‘’Saya yakin dia tinggal satu hotel dengan saya pak, tapi beda lantai. Seragam bajunya sama dengan seragam saya,’’ katanya polos.

Betapa senang kami mendengar pengakuannya. Semua data di gelang Khadijah lalu kami verifikasi untuk menambah keyakinan. Salah satu dari kami juga siap mengantar Khadijah ke hotel. Tapi, tanpa kami duga, lelaki yang baru tiba itu sekonyong-konyong bilang: ‘’Tidak usah Pak, biar kami saja pulang ke hotel. Kami antar dia … ‘’

Subhanallah … Saya langsung memeluk lelaki berusia sekitar 60 tahun itu yang kemudian kami beri nama Rahman – bukan nama sebenarnya. Nama itu kami berikan justru karena kebaikan dan kelembutan hatinya menolong anak manusia bernama Khadijah – juga bukan nama sebenarnya. ‘’Terima kasih Pak, saya yakin Allah memberi bapak pahala satu juta, bukan seratus ribu lagi,’’ kata saya masih memeluk lelaki itu.

Maka, ketika beribu-ribu orang sore itu justru turun dari bus menyerbu Masjid Haram untuk salat magrib, Rahman dan dua kawan-kawannya justru melawan arus lautan manusia meninggalkan Masjid Haram. Mereka tinggalkan iming-iming 100.000 pahala yang dijanjikan Rasulullah SAW padahal maghrib satu jam lagi tiba, demi menyelamatkan satu nyawa manusia.

Buat saya, Rahman dan dua kawannya telah menangkap esensi paling dasar dari tujuan diturunkannya agama-agama, yakni menyelamatkan kemanusiaan (hifdz al-nafs). Mereka bertiga telah menangkap esensi paling dasar dari salat, yakni mencegah ‘’fahsya’’ dan ‘’munkar’’. Mereka yakin Allah sebagai Tuhan Maha Hebat tak akan sakit, apalagi mati, hanya karena mereka bertiga sore itu tidak menyembah-Nya di Masjid Haram, tapi menyembah-Nya di atas bus saat melindungi Khadijah dari seribu kemungkinan buruk.

Ketika banyak ahli fiqih memperdebatkan apakah boleh jemaah haji selama di Mekkah menjamak-qashar salat mereka karena mereka sudah dianggap penduduk Mekkah, atau orang-orang yang membunuh Usman bin Affan memvonis salah khalifah ketiga itu karena tidak melakukan qashar saat salat zuhur dan ashar di Mina seperti yang dilakukan Rasulullah, orang-orang seperti Rahman tak ingin terjebak dalam perdebatan fiqih seperti itu. Ia justru memilih untuk menangkap tujuan paling dasar dari diturunkannya perintah salat yaitu menyelamatkan kemanusiaan.

Saya yakin, saat memutuskan meninggalkan Masjid Haram lalu mengantar pulang Khadijah yang tak berdaya, di mata Allah yang Maha Pengasih, Rahman dan kedua kawannya sesungguhnya sedang salat 10.000 rakaat atau bahkan 100.000 rakaat.

___________________________

Semoga artikel Kisah Haru Tanah Suci: Demi Khadijah, Ia Tinggalkan Masjidil Haram ini memberikan manfaat dan barokah untuk kita semua, amiin..

simak artikel terkait di sini

simak video terkait Kisah Haru Tanah Suci: Demi Khadijah, Ia Tinggalkan Masjidil Haram di sini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *