Kisah Syekh Wiro Padi Taklukkan Brandal Kek Noyo Ireng

Kisah Syekh Wiro Padi Taklukkan Brandal Kek Noyo Ireng.

Kisah Syekh Wiro Padi Taklukkan Brandal Kek Noyo Ireng.

Mbah Padi adalah tokoh pejuang agama Islam di desa Pasucen. Beliau ikut terlibat babad alas Pasucen yang terkenal angker bersama Rama beliau Mbah Dipa Wira Kusuma dan Mertua beliau Mbh Dipa Leksana (Mbh Panggeng).

Mbah Dipa Wira Kusuma dan Mbah Panggeng adalah dua sahabat yang terpisah. Sama-sama murid khos Pangeran Diponegoro, bersama tujuh murid yang lain (disebut; Dipo Songo) telah berbaiat mewakafkan dirinya untuk melawan penjajah Belanda sampai titik darah penghabisan.
Pada akhirnya Pangeran Diponegoro dan Patihnya Sentot Prawira Dirja tertangkap belanda, murid-murid beliau (Dipo Songo) melarikan diri, Mbah Wira Kusuma melarikan diri sampai Langgenharjo Juwana, sedangkan Mbah Dipa Leksana sampai Asempapan Trangkil dan menyamarkan namanya menjadi Kyai Panggeng.

Singkat cerita akhirnya dua sahabat ini bertemu di alas pasucen, alas yang terkenal dengan keangkeran dan sebutan “Jalmo Moro Jalmo Mati”, yang artinya siapapun yang berani mendatangi dan masuk kedalam alas (hutan) Pasucen, maka ia tidak akan bisa kembali lagi. Mbh Wira Kusuma masuk dan babad alas Pasucen dalam rangka melanjutkan persembunyiannya, sedangkan Mbh Panggeng mengikuti sayembara babad alas oleh Bupati Pati.
Dua sahabat ini, akhirnya menjodohkan putra putrinya. Mbh Wira Kusuma mempunyai putra yang tampan dan gagah bernama Supadi, sedangkan Mbh Panggeng mempunyai putri yang cantik bernama Roihanah. Selanjutnya bersama-sama berjuang melanjutkan babad alas Pasucen, berdakwah menyebarkan agama Islam, dan mampu menggerakkan ekonomi masyarakat dari sektor pertanian hingga Pasucen yang dulunya alas belantara menjadi desa yang agamis dan gemah ripah loh jinawi.

Kemajuan dan ke-gemah ripah loh jinawi-an desa pasucen menyebar sampai ke daerah-daerah lain, termasuk juga terdengar sampai ke telinga dedengkot rampok bernama Naya ireng. Hingga Kek Naya ireng berniat merampok ke Pasucen.

Keunikan zaman dulu para perampok jika akan merampok pada para tokoh-tokoh masyarakat justru menyurati dan memberi tahu bahwa akan merampok ke rumahnya. Mendapat surat tersebut Mbh Panggeng memberi tahu Mbh Padi:

“Anakku, Rama dapat surat dari Ki Naya ireng, yang isinya dia dan teman-temannya akan merampok ke sini.” Terang Mbh Panggeng
“Bismillah, Rama, engkau tenang dan tetap di dalam rumah saja, biar ini menjadi urusan yang muda. Rama cukup mendo’akan saja” Jawab Mbh Padi menegaskan kesiapannya menghadapi Kek Naya ireng yang akan membuat kerusuhan di Pasucen.

Setelah sampai waktu yang ditentukan akan kedatangan Kek Naya ireng, Mbah Padi mengitari pekarangan rumah dengan do’a dan zikir sebagai japa mantra (Asma’ Kun Fayakun) untuk melindungi dari ulah Kek Naya Ireng. Alhamdulillah berkat pertolongan Allah swt, Kek Naya Ireng yang datang bersama 40 gerombolannya lumpuh sebelum sampai memasuki pekarangan rumah Mbah Panggeng dan Mbah Padi.

Bahkan mereka semua tertidur (tersirep) sampai pagi. 40 orang tergeletak di tanah, sedangkan Kek Naya Ireng tertidur di atas daun pohon pisang. Mereka baru bangun setelah Mbah Padi membangunkannya. Mbah Padi dengan santunnya membangunkan mereka:

Kisah Syekh Wiro Padi Taklukkan Brandal Kek Noyo Ireng.

“Lho.. Alhamdulillah.. ini tadi ternyata ada tamu banyak ya? Ayo bangun, bangun silahkan masuk, mari semuanya saja.” Mbh Padi mempersilahkan Kek Naya Ireng dan 40 gerombolannya dengan tenang dan hormat, dan di dalam rumah sudah disambut oleh Mbah Panggeng.

Merasa kalah dan melihat sikap Mbh Padi dan Mbah Panggeng, akhirnya 40 gerombolan tadi mohon ampun dan insyaf mengakui kesalahannya, dan bahkan berbai’at dan berjanji akan mengabdi serta menjadi murid Mbh Padi dan Mbah Panggeng berikut membantu perjuangan dan dakwah di desa Pasucen.

Sadarnya 40 gerombolan ini ternyata tidak diikuti oleh Kek Naya Ireng, merasa dipermalukan ia justru kembali dan melanjutkan tapa brata ke lereng gunung muria demi keinginannya membalas kekalahannya dari Mbah Padi dan Mbah Panggeng.

Menurut cerita, setelah tapa brata ini Kek Naya Ireng mendapatkan dua pusaka. Pertama berbentuk Udet (Stagen) yang bisa berubah menjadi ular besar. Kedua berbentuk Kenthes (Cemeti) yang juga tak kalah sakti. Kedua pusaka inilah yang akan dijadikan bekal untuk kembali melawan Mbah Padi dan Mbah Panggeng.

Biidznillah, Mbah Panggeng dengan ilmu hikmahnya, mengetahui bahwa Kek Ireng yang telah kembali dari pertapaanya akan datang ke Pasucen lagi, sehingga beliau kembali berpesan kepada Mbah Padi, akan tetapi berbeda dengan pesan yang pertama, Mbah Panggeng justru memberikan wejangan kepada Mbah Padi agar membiarkan Kek Naya Ireng bertindak sesuka hatinya, dibiarkan mengambil yang dia inginkan.

Di sini bukan berarti Mbah Panggeng dan Mbah Padi kalah dari Kek naya Ireng, tetapi Mbah Panggeng sedang mengajak Mbah Padi untuk menghadapinya dengan “Ilmu Hikmah” khas orang ahli tasawwuf (Sufi), yakni menyadarkan orang yang dzalim atau berbuat jahat dengan kesantunan dan membawanya dalam munajat dan do’a supaya diberikan hidayah oleh Allah SWT. Inilah yang disebut “ilmu sir” dibiarkan lahirnya tetapi dusulang bathiniyahnya.

Allahu Akbar, benar saja, dengan izin Allah swt, Kek Naya Ireng yang semenjak kedatangannya kembali dibiarkan berbuat sesuka hatinya akhirnya justru merasa malu, merasa hina dengan ulahnya sendiri, dan ini kemudian menghantarkan beliau untuk taubat, mohon maaf kepada Mbah Padi dan Mbah Panggeng. Kek Naya Ireng akhirnya bergabung dengan 40 gerombolan. Berbai’at dan akan setia mengabdi berikut menjadi murid Mbah Padi dan Mbah Panggeng.

Akhir cerita, akhirnya Mbah Padi, Mbah Panggeng, Kek Naya Ireng dan 40 orang tadi bersama-sama menjadi tokoh di garda terdepan berdakwah menyebarkan agama Islam dan menggerakkan ekonomi masyarakat, sehingga pasucen menjadi Desa yang agamis, tanahnya subur, gemah ripah loh jinawi dan masyarakatnya makmur sejahter. Adapun Mbah Panggeng sesuai wasiatnya, wafat dan dimakamkan di desa Asempapan.

Demikian Kisah Syekh Wiro Padi Taklukkan Brandal Kek Noyo Ireng. Semoga bermanfaat.

Penulis: Kang Abdul Rouf NR, Guru dan Pemerhati Sejarah tinggal di Pati.

Berikut foto-foto Makam Syekh Wiro PAdi di Desa Pasucen Kecamatan Trangkil Kabupaten Pati.

Makam Syekh Wiro Padi

Makam Syekh Wiro Padi

Makam Syekh Wiro Padi

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar