Muhammad

Kisah Seorang Perindu Baginda Nabi

Posted on

KISAH SEORANG PERINDU BAGINDA NABI.

Ia adalah orang biasa, tak mempunyai banyak ilmu, juga tak memiliki amal ibadah yang istimewa. Ia sama seperti kita, umat Rasulullah yang meski memiliki niat yang kuat untuk beristiqomah dalam meniti jejak baginda Rasul, tapi apa daya, hawa nafsu dan kelalaian masih sering menjerumuskannya pada lembah-lembah dosa.

Ia begitu berharap kelak bisa memandang dari dekat wajah Kanjeng Nabi, mengecup tangannya, bersimpuh meminta maaf atas dosa-dosa yang selama ini dilakukannya. Atas sunnah dan kewajiban yang selama ini sering ia abaikan. 

Setiap malamnya, Lelaki itu tak pernah tidur kecuali setelah air matanya mengalir karena rasa rindunya ingin berjumpa dengan Rasulullah.

Hingga Suatu malam ia bermimpi. Dalam mimpi itu, ia merasa seolah berada di padang mahsyar. Di sana ia melihat kumpulan manusia memenuhi padang mahsyar, mereka saling berdesakan, saling tindih satu sama lain. Semuanya terlihat dalam keadaan sangat bingung. Ketika itulah tiba-tiba barisan para malaikat melintas, lalu lewat pula rombongan Rasulullah saw. Lelaki itu hanya bisa melihat dari kejauhan dan tidak bisa mendekat kepada Rasulullah karena desakan para malaikat yang menghalangi orang-orang untuk bisa mendekat.

Baca Juga >  Berkah Air Cuci Tangan Kiai Munawwir Krapyak

Lelaki itu juga tidak bisa mendekat, apalagi berbicara dengan beliau. Maka ia, dalam mimpi itu, berkata kepada orang yang berada di sebelahnya :

“Jika kelak kamu bertemu dengan Rasulullah maka sampaikan salamku bahwa aku rindu kepadanya. Dulu di masa hidupku di dunia, aku selalu merindukan Rasulullah. Dan jika aku masuk neraka, sampaikan pula kepada beliau, bahwa aku telah berada di tempat yang layak untukku (neraka), sebagai seorang pendosa.”

Tak lama setelah berkata demikian, barisan yang melintas tadi tiba-tiba berhenti karena Rasulullah berhenti, kemudian beliau berbalik menuju lelaki itu, Rasulullah tersenyum indah lantas berkata:

“aku tidak akan pernah melupakan orang-orang yang merindukanku.” .

Diceritakan oleh Habib Mundzir Al-Musawa