Kisah Sayyid Alawi Al-Maliki Diusir dari Rumah Saudagar Kaya Raya.
Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki pernah bercerita kepada para muridnya bahwa pada suatu hari ayahandanya (As-Sayyid Alawi Al-Maliki) mengajak Abuya Sayyid Muhammad mendatangi seorang saudagar terkenal di Arab Saudi yang bertempat tinggal di kota Jeddah bersama seorang lelaki dari Yaman.
Lelaki tersebut memohon kepada Sayyid Alawi Al-Maliki berkenan menyertainya dalam memintakan bantuan dana untuk pembangunan masjid atau lainnya. Tentu saja untuk mengantarkan mereka ke kota Jeddah, Sayyid Alawi Al-Maliki mengajak sopir pribadinya yang bernama Hamid As-Senigali.
Sesampainya di kediaman si saudagar, mereka cukup lama tertahan di luar karena pintunya tidak segera dibuka. Akan tetapi setelah mereka bertemu dan menyampaikan hajatnya, tanpa diduga si saudagar justru menunjukkan sikap tidak pantas kepada Sayyid Alawi hingga berani mengusir Sayyid Alawi secara kasar.
Sayyid Alawi tetap menunjukkan sikap lembut, tak memberikan komentar atau tindakan apapun untuk membalas perlakuan kasar tersebut. Melihat insiden itu, Abuya Sayyid Muhammad merasa sangat jengkel dan marah atas sikap kasarnya si saudagar. Ingin sekali melayangkan tangannya ke arah si saudagar, akan tetapi Sayyid Alawi mengisyaratkan untuk tidak melakukan tindakan apapun.
Begitu mobil yang mereka kendarai meninggalkan rumah si saudagar, Abuya Sayyid Muhammad bertanya kepada ayahandanya atas sikap diam yang ditunjukkannya. Menanggapi itu Sayyid Alawi hanya berkata, “Saya yang salah, saya yang salah”.
Selang beberapa hari dari kejadian, Sayyid Alawi kembali mengajak putra tercintanya (Abuya Sayyid Muhammad) untuk menemaninya pergi ke kediaman si saudagar tadi.
Sesampainya di rumah si saudagar, anehnya adalah si saudagar sangat jauh berbeda dari pertama kali mendatanginya. Ia memberikan penyambutan dengan amat senang, santun dan penuh penghormatan. Terbukti, ia memerintahkan si sopir Hamid As-Sinegali, untuk memasukan mobil yang dinaiki Sayyid Alawi ke halaman rumahnya dan memberhentikannya tepat di depan pintu utama. Dengan tersenyum riang, ia langsung membukakan pintu mobil Sayyid Alawi dan mempersilahkan masuk ke ruang tamu.
Setelah lama duduk di ruang tamu, Sayyid Alawi akhirnya mengutarakan maksud kedatangannya. Si saudagar pun langsung mengiyakan semua keinginan Sayyid Alawi seraya berkata, “Mengapa harus Anda sendiri yang dating kesini, padahal Anda cukup mengirim seorang utusan dan saya pasti mengabulkannya selama utusan itu dikirim oleh Anda”.
Walhasil, ia memberikan apa yang diminta oleh Sayyid Alawi bahkan lebih dari itu. Ia juga memberikan Sayyid Alawi uang yang banyak sebagai hadiah khusus untuk pribadi beliau. Abuya Sayyid Muhammad keheranan melihat kejadian yang ganjil itu dan saat pulang Abuya Sayyid Muhammad memberanikan diri bertanya kepada ayahandanya.
Sang ayah berkata, ”Wahai Anakku, begitulah manusia, ada surut pasangnya. Terkadang kondisi kita tidak tepat saat mendatanginya pertama kali dan sangat tepat saat kedua kalinya atau mungkin ketika kita datang kesini pertama kali, ia sedang mengalami problem dan saat ini tidak. Atau mungkin juga ia belum mendapatkan hidayah saat kita datang pertama dan sekarang ia sudah mendapatkannya dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Jadi kita tidak boleh bosan-bosan dalam berbuat kebaikan, lebih-lebih dalam membantu orang lain”.
Hikmah yang dapat kita petik dari kisah ini amat jelas seperti yang dinasehatkan As-Sayyid Alawi kepada putranya bahwa kita harus sabar dan memiliki hati lapang dalam berdakwah dan membantu orang lain. Kita tidak boleh bersifat egois dan bosan selama hal itu mendatangkan pahala dari Allah subhanhu wa ta’ala.
Demikian Kisah Sayyid Alawi Al-Maliki Diusir dari Rumah Saudagar Kaya Raya, semoga bermanfaat.
15 Juli 2020.
Penulis: Bent Hasan.








