Kisah Perjumpaan Habib Mundzir dengan Rasulullah

Habib Umar dan Habib Mundzir

Kisah Perjumpaan Habib Mundzir dengan Rasulullah.

Habib Mundzir Bin Fu’ad Al Musawwa dikenal dengan sebutan Sulthonul Qulub. Habib Mundzir merupakan salah satu murid Pesantren Darul Musthafa (Tarim Hadramaut) yang diasuh oleh Guru Mulia Al-Habib Umar bin Hafidz. 

Pernah ketika, Habib Mundzir dalam satu pengajian / ta’lim sedang tertidur dan Habib Umar memperhatikannya sambil tersenyum. Teman sekelasnya ingin membangunkan Habib Mundzir, tapi dengan bijak Habib Umar melarang membangunkannya.

“Biarkan dia dalam keadaannya (tidur) karena dia tengah asyik bersama Rasulullah (dalam mimpinya),” kata Habib Umar.

Lain lagi cerita dari Habib Nabiel Husein Assegaf. Saat beliau duduk beristirahat bersama Habib Mundzir di Masjid At Taqwa Tarim, tiba-tiba mereka didatangi oleh seorang Habib Sepuh bermarga Al-Haddad yang dikenal memiliki karamah yang tinggi.

“Orang yang ingin bermimpi bertemu Rasulullah, harus memiliki akhlak yang baik dan menjaga hati setiap saat, tak pernah berhenti beristigfar dan bershalawat,” kata Habib Sepuh itu dengan tatapan mata yang penuh kesejukan.

Habib sepuh lalu menatap Habib Mundzir dalam-dalam dan kembali berkata, “Maukah kau katakan kepadaku, sudah berapa kali kau bermimpi bertemu Nabi atau harus aku yang menyebutkan jumlahnya?”

Dengan menunduk Habib Mundzir menjawab: “Sudah Lebih dari 80× Ya Habib”

Itulah sosok Habib Mundzir. Akhlaqnya sungguh luar biasa, hatinya sangat lembut. Kisah Habib Mundzir bertemu Rasulullah menjadi kisah perjumpaan yang sangat mengagumkan dan menjadi inspirasi bagi semua umat Islam.

(Mukhlisin)

_______________

Semoga artikel Kisah Perjumpaan Habib Mundzir dengan Rasulullah ini memberikan manfaat dan keberkahan untuk kita semua, amiin..

simak artikel terkait di sini

simak video terkait di sini

BONUS ARTIKEL TAMBAHAN

Kisah Habib Luthfi Muda Terdiam Karna Sebutir Nasi

Dalam perjalanan mencari ilmu, Maulana Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan berjumpa dengan seorang kiai sepuh. Habib Luthfi terkagum menyaksikan akhlak kiai sepuh yang luar biasa. Yakni ketika dhahar (makan), ada butiran nasi yang terjatuh lalu dipungut dan dikembalikan ke piring untuk dimakan kembali.

“Kenapa harus diambil Yai, kan cuma sebutir Nasi?” Ujar Habib Luthfi Muda penasaran.

“Lho…jangan dilihat sebutir nasinya, Yik. Apa kamu bisa bikin nasi sebutir ini, bahkan seperti seribu menir saja?”Deg…. terdiamlah Habib Luthfi Muda.

Kiai Sepuh melanjutkan: “ketahuilah Yik, pada saat kita makan nasi, sesungguhnya Gusti Allah telah menyatukan banyak sekali peran. Nasi itu namanya Sego bin Beras bin Gabah Al Pari. Mulai dari  mencangkul, Menggaru, Meluku, menanam benih, memupuk, menjaga hama, hingga memanen ada jasa banyak sekali orang. Kemudian mengolah gabah menjadi beras, dari beras menjadi nasi juga banyak sekali peran hamba Allah disana.”

“Ketika ada satu butir nasi, atau menir sekalipun yang jatuh ambillah. Jangan mentang-mentang kita masih punya banyak cadangan nasi. Itu bentuk dari takabbur, dan Gusti Allah tidak suka dengan manusia yang takabbur. Selama jatuh tidak kotor dan tidak membawa mudharat bagi kesehatan kita ambillah, satukanlah dengan nasi lainnya, sebagai bagian dari syukur kita.”

Habib Luthfi Muda pun menyimak lebih dalam: “Karena itulah ketika akan makan, diajarkan doa Allahumma bariklana (Yaa Allah Semoga Engkau memberkahi kami). Bukan Allahumma barikli (Yaa Allah Semoga Engkau memberkahiku) walaupun sedang makan sendirian.”

“maka dari itu maknanya untuk semuanya, mulai petani, pedagang, pengangkut, pemasak hingga penyaji semuanya termaktub dalam doa tersebut, merupakan ucapan syukur serta mendoakan semua orang yang berperan dalam kehadiran nasi yang kita makan.”

Nasi hanyalah washilah, sejatinya yang memberi rasa kenyang hanyalah Allah semata.

Demikian Kisah Habib Luthfi Muda Terdiam Karna Sebutir Nasi

10 juli 2020

Penulis: Ahmad Hasan Mashuri

___________________

Simak juga artikel terkait di sini

simak juga video terkait di sini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *