Dengan segala ketegasannya, ternyata ada perempuan yang berani menasihati Umar bin Khattab. Ini kisah yang perlu menjadi renungan para pemimpin, untuk tetap rendah hati, apapun jabatannya.
Umar Bin Khattab dikenal sebagai sosok pemimpin yang adil dan tegas serta memiliki kasih sayang yang mendalam terhadap rakyatnya. Selain itu, Umar juga memiliki integritas dan bersikap terbuka terhadap saran, nasihat, bahkan kritik dari siapa pun.
Hal ini tercermin dalam sebuah kisah yang diceritakan oleh Pengajar di Pesantren Al-Mukhtariyyah Al-Karimiyyah, Subang, Jawa Barat, Muhammad Aiz Luthfi di laman NU Online. Suatu hari, seorang perempuan bijak mengungkit masa lalunya sekaligus memberikan nasihat pada Umar Bin Khattab.
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Al-Ishabah fi Tamyizis Shaḫabah (Beirut, Darul Kutub al-‘Ilmiyah, 1415 H/VIII:115-116) mengisahkan, suatu hari Umar bin Khattab keluar dari masjid bersama Aljarud Al-Abdi. Di tengah jalan, tiba-tiba keduanya bertemu dengan seorang perempuan bijaksana yang terlihat tegas.
Umar pun menyapa perempuan itu dan mengucapkan salam yang kemudian dibalas dengan tenang oleh perempuan itu. Setelah memperhatikan laki-laki yang berdiri di hadapannya, perempuan itu menyadari bahwa dia adalah Umar bin Khattab, seorang Amirul Mu’minin.
Dengan nada penuh keyakinan, perempuan itu kemudian berkata, “Wahai Umar, dulu aku mengenalmu ketika kamu masih dipanggil Umair di Pasar Ukazh, saat itu kamu menakut-nakuti anak kecil dengan tongkatmu. Waktu pun berlalu hingga saat ini kamu dipanggil Umar dan menjadi seorang Amirul Mukminin.”
Umar pun terdiam dan memberi kesempatan kepada perempuan itu untuk melanjutkan perkataannya.
“Maka bertakwalah kepada Allah dalam mengurus rakyatmu, wahai Umar. Ketahuilah, siapa saja yang takut pada ancaman Allah, dia akan merasakan sesuatu yang jauh menjadi terasa dekat. Siapa saja yang takut pada kematian, dia akan takut kehilangan kesempatan,” tambah perempuan itu.
Melihat perempuan tersebut terus berbicara, Aljarud yang ada di samping Umar merasa tak tahan dan mencoba untuk menegurnya. “Wahai perempuan, kamu telah berbicara terlalu banyak kepada Amirul Mukminin,” tegas Aljarud.
Saat itu, Umar meminta Aljarud untuk diam dan tidak bersikap kasar pada perempuan tersebut. “Biarkan saja, apakah kamu tidak mengenalnya? Dia adalah Khaulah binti Hakim, ucapan perempuan ini didengar oleh Allah. Demi Allah, seorang Umar lebih berhak mendengar ucapannya,” tegas Umar pada Aljarud.
Hikmah yang Dapat Diambil
Kisah ini bisa memberi pelajaran tentang hubungan antara pemimpin dengan rakyatnya. Idealnya, seorang pemimpin bisa memiliki kerendahan hati sehingga bisa mendengarkan nasihat, saran, atau pun kritik dari siapa pun, termasuk dari rakyatnya.
Sikap ini tidak hanya mencerminkan kebesaran jiwa seorang pemimpin, tetapi juga bisa menjadi langkah penting untuk terus memperbaiki diri dan memastikan bahwa kebijakan yang diputuskan dapat memberi manfaat kepada masyarakat.
Seorang pemimpin juga perlu mengingat bahwa semua yang ada di dunia ini, termasuk jabatan, hanya bersifat sementara, sebagaimana diingatkan oleh perempuan bijak dalam kisah ini.
Untuk itu, mestinya seorang pemimpin bisa memanfaatkan waktu, pikiran, dan tenaganya dengan sebaik mungkin, sehingga tindakannya tidak hanya membawa manfaat bagi masyarakat, tetapi juga bisa menjadi bekal untuk kehidupan di akhirat.
Selain itu, kisah ini juga menggambarkan tentang pentingnya peran masyarakat dalam menyuarakan kebenaran dan keadilan kepada pemimpinnya. Partisipasi masyarakat ini tidak hanya membantu pemimpin dalam memperbaiki diri dan memberikan kemasalahatan kepada bangsa dan negara, tetapi juga menjadi wujud pengamalan nilai-nilai agama, yaitu menjalankan perintah untuk saling menasihati dalam kebenaran (wa tawâshau bil-ḫaqqi), sebagaimana yang tercantum dalam surat Al-Ashr.
–
Penulis: Antariksa Bumiswara