Kisah Kiai Hamid Pasuruan Sembunyikan Kewaliannya di Makam Sunan Ampel

Kisah Kiai Hamid Pasuruan Sembunyikan Kewaliannya di Makam Sunan Ampel

Diposting pada

Kisah Kiai Hamid Pasuruan Sembunyikan Kewaliannya di Makam Sunan Ampel.

Di balik kemasyhurannya, Kiai Hamid Pasuruan ternyata risau dengan banyaknya orang yang hendak bersalaman dengannya. Tentu saja itu wujud tawadlu’nya sang wali Allah yang tak ingin memamerkan dirinya kepada publik. Karena itu, Kiai Hamid Pasuruan seringkali menyembunyikan diri di saat orang-orang berebut untuk mendekat dan bersalaman dengannya.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Kisah ini terjadi saat di Makam Sunan Ampel Surabaya. Kisah ini terkait dengan sahabat Kiai Hamid, yakni KH Syarwani Abdan (biasa disapa Guru Bangil) Pasuruan.

“Saya ingin sekali seperti Kyai Syarwani abdan . Dia itu alim tapi mastur (tertutup) tidak masyhur (terkenal). Kalau saya ini sudah terlanjur Masyhur, jadi saya ini sering kerepotan karena harus menemui banyak orang. Menjadi orang masyhur itu tidaklah mudah, bebannya itu berat. Kalau Kyai Syarwani itu enak, jadinya tidak banyak didatangi orang orang,” kata Kiai Hamid.

Kisah ini diceritakan Gus Muhammad Baihaqi, putra dari Haji Muhdor Maksum (Ampel Surabaya). Haji Muhdor Maksum adalah tuan rumah tempat pertemuan bersejarah tersebut sekaligus juru potret fotonya. Gus Baihaqi bercerita yang didapat dari ayahnya, Haji Muhdor.

KH Syarwani Abdan kebiasaannya itu kalau Haul Kanjeng Sunan Ampel di bulan Sya’ban, maka beliau ziarahnya di pagi hari, sebelum acara puncak Haul yaitu bakda asar, sedangkan KH. Abdul Hamid datangnya sebelum waktu sholat asar.

Pada waktu itu, KH. Abdul Hamid datang ke Masjid Ampel untuk menghadiri Haul Agung Kanjeng Sunan Ampel. Beliau datangnya bertepatan dengan waktu orang orang mau sholat ashar dan rencananya setelah itu mau hadir di makam Sunan Ampel. Kenyataannya justru tidak bisa, karena sejak Kyai Hamid masuk wilayah Masjid Ampel, sudah banyak orang orang berebut minta salaman karena kemasyhurannya, sehingga untuk menghindari orang orang salaman, maka sama Kyai Hamid beliau buat sholat sunnah 2 rokaat, kalau ada yang mau salaman beliau sholat sunnah 2 rokaat lagi, sambil terus menunggu sholat asar dimulai.

Ketika sholat Asar dimulai dan jamaah pada mengisi shof-shof sholat, ketika itu kyai Hamid bersiasat bergegas keluar dari Masjid Ampel untuk pulang dan memutuskan tidak jadi menghadiri Haul Kanjeng Sunan Ampel.
Di dalam perjalanan beliau pulang dari masjid Ampel ke jalan raya Ampel, mau menuju mobil, ketika itu Haji Hasan (adik dari Haji Muhdor) berhasil salaman dan memberui tahukan ke Kyai Hamid bahwa Guru Syarwani ada di rumah kakak nya (Haji Muhdor) yang dekat saja dari Ampel.

Dan langsung seketika Kyai Hamid minta ke Haji Hasan agar diantarkan menemui Guru Syarwani Bangil.

Maka, masuklah KH. Hamid masuk ke rumah kakak dari Haji Hasan yakni Haji Muhdor dengan diikuti beberapa ulama yaitu Al-Hafizh KH Dahlan Peneleh, KH. Abdurrahim bin KH. Syadzily (kyai pendem) Malang, KH. Busthomi bin KH. Husnan Surabaya dll.

Seketika itu Haji Muhdor segera memberitahukan ke Guru Syarwani bahwa sekarang ada Kyai Hamid di ruang tamu depan, maka langsung lah Guru Syarwani Bangil bergegas menemui Kyai Hamid yang sedang menunggu beliau. Maka terjadilah pertemuan kedua ulama tersebut di rumah Haji Muhdor. Saat itu Kyai Hamid dan Guru Syarwani Bangil mereka saling merangkul dan mencium tangan.

Momen-monen Indah saat itu antara lain:

Pertama, Kyai Hamid meminta agar Guru Syarwani bersedia bertukar Selendang surban. Surban putih yang di pakai Guru Syarwani d tukar sama surban beliau Kyai Hamid…. maka bertukarlah surban kedua ulama tersebut.
Surban bekas Guru Syarwani oleh kyai Hamid d pakai imamah di atas kepala), dan sedangkan surban bekas Kyai Hamid oleh Guru Syarwani di selempangkan diletakkan di pundak leher. Setelah itu dibawa lah Kyai Abdul Hamid dan Gurub Syarwani menuju ke dalam ruang keluarga Haji Muhdor.

Baca Juga >  Rahasia Dibalik Tanggal 10 Suro, Hari Asyura’

Kedua, setelah itu Kyai Abdul Hamid meminta siwak bekas yang baru saja di pakai Guru Syarwani bangil agar diberikan kepada beliau (Kiai Hamid).

Ketiga, Kyai Hamid tidak mau minum kopi yang baru, malahan justru meminum bekas kopinya Guru Syarwani, setelah tahu kopi nya di minum, Guru Syarwani meminum kembali kopi yang bekas diminum KH. Hamid.
Di saat perbincangan kedua wali tersebut, Haji Muhdor mengabadikan momen tersebut dengan di foto-foto, tapi alangkah terkejutnya kamera tidak bisa d pencet (seperti macet). Melihat Haji Muhdor kebingungan, maka Kyai Hamid berkata kenapa? apakah kamera nya rusak ya?

“Iya macet kyai.”

Lalu Guru Syarwani bilang ke Kyai Hamid buat kenang-kenangan foto, lalu beliau kyai Hamid menyuruh Haji Muhdor untuk menyerahkan kamera agar bisa dipegang sama Kyai Hamid, lalu sambil dipegang dan diputar-putar, kamera yang ada d tangan beliau Kyai Hamid, setelah itu baru menyerahkan kembali kamera kepada Haji Muhdor.
Haji Muhdor menyuruh keponakannya untuk mencoba kembali foto dan ternyata kamera tidak macet lagi,
lalu sambil berkata kyai Hamid: ” gawe kenangan ya …”

Ketika kyai Hamid mau pamit pulang, maka guru Syarwani minta doa kepada Kyai Hamid dan bilang kepada Haji Muhdor saudara dan keluarganya yang hadir di rumah itu, bahwa kyai Hamid ini Waliyyullah.

Mendengar ucapan tersebut dibalas langsung sama Kyai Hamid.

“Yang Wali itu ya yang ada di sampingku ini.” sambil menunjuk ke Guru Syarwani Abdan.

“Makanya, minta doanya sama beliau aja ya.”

Karena kedua ulama ini saling tawadhu dan tidak mau berdoa, akhirnya Haji Muhdor memberanikan diri menengahi.

“Kalau gitu bergantian saja yang mendoakan, kita- kita yang di sini ikut mengamini saja.”

Akhirnya mereka berdua bersedia berdoa bergantian.

Kemudian Kyai Hamid minta kalau ada pintu keluar yang lain, maka beliau maunya keluar dari selain pintu masuk yang awal, maka oleh Haji Muhdor, Kyai Hamid diantarkan keluar rumah bersama Guru Syarwani dari pintu belakang rumah sesuai permintaan kyai Hamid.

Karena di pintu depan sudah penuh orang orang menunggu Kyai Hamid keluar rumah hanya untuk sekedar bersalaman. Di tengah perjalanan mengantarkan Kyai Abdul Hamid menuju mobil, beliau kyai Hamid memberitahukan kepada Kyai  Busthomi bahwa Guru Syarwani ini bagaikan “Rumah yang pagarnya terbuka lebar”.

Maka Kyai Busthomi bertanya, “apa maksudnya yai berkata itu?”

“Maqam derajatnya Guru Syarwani itu tinggi tetapi tidak mau dikenal orang, tapi siap menerima tamu kapan saja,” kata Kiai Hamid.

Akhirnya berpuluh tahun kemudian, ketika kedua wali besar ini telah wafat, terjadi ikatan kekerabatan (besanan) antara kedua wali ini. Yakni cucunya Kyai Hamid (putranya Gus Nasih ) menikahi cucunya Guru Syarwani (putrinya Guru Kasyful Anwar).

Demikian Kisah Kiai Hamid Pasuruan Sembunyikan Kewaliannya di Makam Sunan Ampel, semoga manfaat.

(Mukhlisin)