Akhir 2012, saya dirundung duka. Ayah tercinta wafat secara mendadak setelah 10 jam sebelumnya saya menemuinya di Lamongan. Padahal, jangankan birrul walidain atau membahagiakan beliau, membuat beliau bangga saja belum. Sama sekali belum. Benar-benar berat rasanya.
Tanpa disangka, tak lama berselang Allah melunasi kesedihan saya yang mendalam itu. Atas wasilah seorang sahabat, Gus Zaini Rahman, saya bisa mengenal owner travel umroh Insan Islami Surabaya. Meski baru kenal, saya merasa bisa bersahabat dengan hangat dan dekat. Entah kenapa. Mungkin karena faktor PMII connection. Beliau dari PMII UNEJ Jember dan saya dari PMII IAIN Sunan Ampel Surabaya. Sedangkan Gus Zaini adalah alumni PMII PTIQ Jakarta.
Di saat yang sama Majalah Aula dan travel tersebut menjalin kerjasama iklan. Sehingga saya mendapat barokah diutus berangkat umroh mewakili Majalah Aula melalui Travel Insan Islami (sekarang BE Travel Surabaya). Semua perlengkapan sudah beres, tiket oke, visa aman, bahkan manasik pun sudah. Ndilalah travel mengalami masalah besar karena Batavia Air, maskapai yang hendak mengantar kami, dinyatakan pailit. Umroh terancam gagal.
Situasi darurat. Bos dan seluruh staf siaga 1. Ratusan jamaah umroh bingung. Dengan berbagai cara mereka mencari jalan keluar agar semua bisa berangkat umroh. Di saat itulah bos memanggil saya.
“Afif, saya butuh orang yang bisa bahasa Inggris. Kamu bisa?”
“In syaa Allah bisa, Pak,” jawab saya.
“Bagus. Ya sudah, kamu yang ngawal keberangkatan jamaah umroh via Hongkong dua minggu lagi. Siap ya? Soal bahasa Arab dan pengetahuan agama saya yakin kamu bisa. Kan kamu alumni pondok dan sudah ikut pelatihan tour leader,”
“Si.. si.. siap, Pak” Dueeeeerrrrr. Bagai disambar petir di siang bolong.
Ternyata, ada grup jamaah umroh selain grup Batavia Air yang harus segera berangkat via Hongkong. Jadi tour leadernya harus bisa Bahasa Inggris untuk memandu perjalanan mereka, terutama saat transit. Selebihnya sudah ada mutowif & pembimbing yang siap menjemput di Bandara King Abdul Aziz Jeddah.
Alhamdulillah semuanya lancar dan jamaah puas. Berangsur-angsur bos juga bisa memberangkatkan seluruh jamaah yang keberangkatannya tertunda. Karena itulah saya mendapat kesempatan untuk bisa menjadi tour leader umroh setiap tahunnya. Sampai sekarang. Sudah gratis, dapat sangu lagi. 😊
Saya tidak membayangkan, apa jadinya jika waktu itu saya menjawab “tidak bisa”. Mungkin kesempatan umroh itu akan lewat atau setidaknya tertunda. Mungkin juga saya tidak bisa umroh bolak-balik seperti sekarang karena saya bukan pemilik travel dan tidak punya cukup biaya untuk menanggungnya sendiri.
Jadi kalian harus bersyukur, hari ini dipertemukan oleh Allah SWT di Kampung Inggris dengan fasilitas beasiswa dari NU CARE – LAZISNU. Caranya? Ikuti seluruh kegiatan dengan semangat dan serius. Yakinlah, sedikit atau banyak, kemampuan bahasa Inggris kalian akan membuka berbagai peluang emas di masa yang akan datang. Amin.
…
Cuplikan motivasi yang saya sampaikan kepada para peserta NECS (Nahdliyin English Camp Scholarship) atau Beasiswa Kursus Bahasa Inggris di Kampung Inggris, 7-13 Juli 2019.
Penulis: A Afif Amrullah, Ketua LAZIS PWNU Jawa Timur dan Ketua KPID Jawa Timur.









