Kisah Jenazah Ditolak Warga di Masa Nabi Musa

Kisah Jenazah Ditolak Warga di Masa Nabi Musa

Posted on

Ada seorang laki-laki wafat era Nabi Musa. Masyarakat membencinya karena ulahnya yang selalu membuat onar dan meresahkan. Mereka tidak memandikan dan tidak mengubur jenazah tersebut. Akhirnya masyarakat menyeret mayit ini dan melemparnya ke tempat pembuangan sampah.

Allah kemudian memerintahkan Nabi Musa:

NU Care LazisNU Jogja KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

يا موسي مات رجل في محلة فلان في المزبلة وهو ولي من اوليائي ولم يغسلوه ولم يكفنوه ولم يدفنوه فاذهب انت فاغسله وكفنه وصل عليه وادفنه

“Wahai Musa, ada seorang laki-laki meninggal di perkampungan orang yang diletakkan di tempat pembuangan sampah. Ia adalah kekasih di antara kekasih-kekasihKu, mereka tidak memandikan, mengkafani, dan menguburnya, maka pergilah kamu, lalu mandikan, kafani, shalati, dan kuburlah orang tersebut”

Atas perintah Allah, Nabi Musa berangkat menuju kampung yang ditunjukkan Allah, lalu Nabi Musa bertanya kepada masyarakat tentang laki-laki yang meninggal tersebut. Mereka menjawab bahwa laki-laki tersebut orang yang berbuat keonaran (kefasikan) secara terang-terangan.

Nabi Musa bertanya, di mana tempatnya, sesungguhnya Allah memberikan wahyu padaku tentang laki-laki tersebut, maka tunjukkan padaku tempatnya? Mereka kemudian berangkat menuju tempat yang dimaksud, yaitu tempat pembuangan sampah.

Ketika Nabi Musa melihatnya dan mendengar cerita masyarakat kampung tentang kejelekan perilakunya, Nabi Musa berbisik kepada Allah:

الهي أمرتني بدفنه والصلاة عليه وقومه يشهدون عليه شرا فأنت اعلم منهم بالثناء والتقبيح

“Wahai Tuhanku, Engkau memerintahkan aku mengubur dan menshalatinya, sedangkan kaumnya bersaksi tentang kejelekannya. Maka Engkau lebih tahu dari pada mereka untuk memberikan pujian dan mencelanya”

Allah kemudian menjawab bisikan Nabi Musa:

“Wahai Musa, benar apa yang diceritakan kaumnya tentang perbuatannya yang jelek, tapi menjelang wafatnya ia memohon pertolongan padaKu tiga hal di mana jika semua orang yang berdosa dari makhluk-Ku memohonnya pasti aku memberikannya, mengapa Aku tidak menyayanginya, sedangkan ia telah meminta dengan dirinya sendiri, sedangkan Aku adalah Dzat Yang Paling Kasih Sayang”.

Nabi Musa bertanya, “wahai Tuhanku, apa tiga hal itu”?

Allah menjawab:

“Ketika dekat ajalnya, laki-laki itu berkata:

“Wahai Tuhanku, Engkau Tahu dari pada aku bahwa saya telah melakukan kedurhakaan (kemaksiatan), namun hatiku membenci kedurhakaan. Tapi dalam jiwaku terkumpul tiga hal sehingga aku melakukan kedurhakaan meskipun aku membencinya dalam hatiku.

Yang pertama adalah hawa nafsu, kedua teman yang jelek, dan ketiga Iblis La’natullahi Alaihi. Tiga hal ini yang menjatuhkan aku dalam kedurhakaan, sesungguhnya Engkau tahu dari pada aku apa yang aku katakan, maka ampunilah aku.

“Yang kedua, ia berkata: Wahai Tuhanku sesungguhnya Engkau tahu bahwa aku telah melakukan kedurhakaan dan tempatku bersama orang-orang fasiq, tetapi saya mencintai berkumpul dengan orang-orang shaleh dan kezuhudan mereka. Bersama mereka lebih aku cintai dari pada bersama orang-orang fasiq.”

“Yang ketiga, ia berkata: wahai Tuhanku, sesungguhnya Engkau tahu dari pada aku bahwa orang orang-orang shaleh lebih aku cintai dari pada orang-orang fasiq, sehingga ketika ada dua orang yang menghadap padaku, orang baik dan orang jelek, maka pasti aku dahulukan kebutuhan orang baik dari pada orang jelek”.

Baca Juga >  Masjid Jin dan Kisah Bangsa Jin Berbaiat Kepada Rasulullah Saw

Dalam riwayat Wahab bin Munabbih ditambahkan bahwa laki-laki tersebut berkata :

“Wahai Tuhanku, jika Engkau memaafkan dan mengampuni dosa-dosaku, maka kekasih-kekasihMu dan Nabi-NabiMu gembira dan syetan yang menjadi musuhku dan musuh-Mu sedih, dan jika Engkau menyiksaku sebab dosa-dosaku, maka syetan dan pembantu-pembantunya gembira, sedangkan para Nabi dan para kekasih sedih, dan sesungguhnya aku tahu bahwa kegembiraan kekasih-kekasih lebih Engkau cintai dari pada kegembiraan syetan dan pembantu-pembantunya, maka ampunilah aku Wahai Tuhanku, sesungguhnya Engkau Tahu apa yang aku katakan dari pada aku, maka sayangilah aku dan ampunilah aku”.

Allah menjawab:

“فرحمته وغفرت له وتجاوزت عنه فاني رؤوف رحيم خاصة لمن أقر بالذنب بين يدي وهذا أقر بالذنب فغفرت له وتجاوزت عنه، يا موسي افعل ما أمرتك فاني اغفر بحرمته لمن صلي علي جنازته وحضر دفنه”

“Maka Aku menyayanginya dan mengampuninya, sesungguhnya Aku Maha Kasih Sayang, khusus bagi orang yang mengakui dosanya dihadapanKu, dan orang ini mengakui dosanya, maka Aku mengampuninya, wahai Musa, lakukan perintahKu, sesungguhnya Aku mengampuni dengan kemuliaan laki-laki ini pada orang yang menshalati jenazahnya dan menghadiri pemakamannya”.

Pelajaran Berharga

Kisah ini ada dalam kitab Al-Mawa’id al-Ushfuriyah. Kisah ini sangat berharga bagi kita, umat Islam dan bangsa Indonesia, agar tidak menghakimi seseorang secara sepihak dengan penilaian lahir saja.

Saat ini sedang ramai penolakan sejumlah masyarakat terhadap jenazah covid 19 di berbagai daerah. Hal ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam dan budaya luhur bangsa.

Dalam Islam, orang yang meninggal dalam kondisi ada Thaun (wabah) seperti sekarang dikatakan mati syahid akhirat jika dihadapi dengan sabar dan mengharap ridla Allah Ta’ala. Mati Syahid posisinya mulia di sisi Allah dan sangat berdosa jika penguburannya ditolak.

Menurut budaya luhur bangsa kita, sikap gotong royong, empati, dan simpati sudah mendarah daging Karena merupakan warisan leluhur yang turun temurun sampai sekarang dan harus kita lestarikan.

Maka, masyarakat justru harus senang dan bangga jika ada jenazah covid 19 yang dimakamkan di pemakaman umum kampungnya karena ada syahid akhirat yang dimakamkan di kampungnya.

Dalam urusan penyakit, pihak pemerintah, dalam hal ini dinas kesehatan sudah mempunyai standard protokol kesehatan dalam pemakamannya sehingga masyarakat tidak usah khawatir. Dinas kesehatan lebih tahu dari pada masyarakat umum.

Jika masyarakat menerima jenazah covid 19, maka hal itu akan mengurangi beban berat keluarga dan sekaligus memberikan suntikan semangat yang sangat bermanfaat setelah ditinggal salah satu anggota keluarganya.

والله اعلم بالصواب

Sabtu, 10 Sya’ban 1441 – 4 April 2020

Penulis: Jamal Ma’mur Asmani, IPMAFA Kajen Pati.