Kiai dan Kisah Keutamaan Memuliakan Tamu

Keutamaan Memuliakan Tamu
Keutamaan Memuliakan Tamu

Kiai dan Kisah Keutamaan Memuliakan Tamu. Apakah anda pernah merasa rumah sepi jarang ada tamu? Apa yang kemudian dirasa? Gelisah atau biasa saja? Banyak di antara kita tahu, bahwa tamu adalah pembawa rahmat Allah.

Beberapa waktu lalu, seorang keponakan dari istri wisuda. Sudah menjadi tradisi, pengiring keluarga selalu menginap di rumah kami. Alhamdulillah, rezeki selalu dicukupkan Allah, sehingga kami dapat memuliakan tamu. Tapi kali ini sungguh ‘mantap’.

Yang wisuda 1 orang, diiringi kedua orang tuanya dan ditambah penggembira. Tidak banyak kok, hanya…. 36 orang!

Ada saudara dari ayah si wisudawan, saudara dari ibunya, belum tetangga kanan-kiri rumah, pak lurah juga bisa ikut, lengkap dengan anak-anaknya. Logis memang. Kapan lagi bisa ke Jogja kalau tidak pas momentum wisuda?

Maka kami pun harus menjamu 40 orang dalam waktu dua hari-tiga malam. Mantap!

Saya ikhlas kok, suer saya ikhlas. Tapi ngendikane Gus Mus: Ikhlas kok dikandak-kandakno…! Wehehehe…

Di tengah ‘keikhlasan’ seperti itu, tetiba, tiada angin tiada hujan (wong pas kemarau panjang), Pak Kiai kirim WA japri ke penulis. Dalam WA-nya Pak Kiai (ini masih Kiai yang sama dalam tulisan kami kemarin) mengirim pesan tentang adab memuliakan tamu. Alamak…. kok ya bisa paaasssss ini…

Pak Kiai menulis:

Suatu saat, Rasul mendapat aduan dari seorang wanita yang mengeluhkan banyaknya tamu suami yang kerap berkunjung ke rumahnya. Rasul tidak menjawab, namun keesokannya beliau bertamu ke rumah pasutri itu. Betapa tuan rumah terkejut dan gembira. Lalu mereka berdua memuliakan tamu agungnya itu.

Ketika Rasul akan pergi dari rumah pasutri itu, dimana beliau mendapatkan kemuliaan dan merasa bahagia dengan keridloan pasangan itu, Rasul bersabda:

قال للزوج عندما أخرج من بيتك دع زوجتك تنظر إلى الباب الذي أخرج منه

“Ketika aku akan keluar nanti dari rumahmu, panggil istrimu dan perintahkan dia untuk melihat ke pintu tempat aku keluar.”

Maka sang istri melihat Rasul keluar dari rumahnya diikuti oleh binatang-binatang melata, seperti kalajengking dan berbagai binatang yang berbahaya lainnya di belakang Rasul Saw.

Terkejutlah sang istri dengan apa yang dilihat di depannya.

فقال لها رسول الله هكذا دائما عندما يخرج الضيوف من بيتكِ يخرج كل البلاء والضرر والدواب من منزلكِ

Maka Rasul Saw bersabda, “Seperti itulah yang terjadi. Setiap kali tamu keluar dari rumahmu, maka keluar pula segala bala, bahaya dan segala binatang yang membahayakan dari rumahmu.”

Jleb! Dan penulis tak mampu lagi berkata. Apa ini yang dinamakan ketersambungan kiai dengan muridnya? Hubungan yang takkan lekang bahkan hingga kelak berpisah alam sekalipun?

Ngoto, Juli 2019

Demikian Kiai dan Kisah Keutamaan Memuliakan Tamu

Bramma Aji Putra, Humas Kemenag DIY dan Pengurus LTN PWNU DIY

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *