Kesaksian Gus Miek atas Kewaliyan Mbah Marzuqi Giriloyo

mbah marzuqi
Kiai Marzuqi Giriloyo

KH. Hamim Tohari Djazuli atau yang akrab dipanggil Gus Miek, semasa hidup begitu dikenal di kalangan guru sufi, seniman, birokrat, preman, bandar judi, kiai-kiai NU, dan para aktivis. Hal ini karena dakwahnya lintas batas dan lintas profesi. Memang, putra dari KH. Jazuli Usman ini dikenal sebagai kiai nyentrik yang penuh dengan kisah-kisah unik dan kadang tidak masuk akal. Meski aktif di jalur kultural, namun kedekatannya dengan orang-orang struktural NU seperti KH. Achmad Siddiq dan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) begitu luar biasa.

Dakwah Gus Miek dibangun dengan pendekatan tariqat, yakni melalui majlis mujahadah dzikrul ghofilin dan simakan Al-Qur’an Jantiko Mantab atau Jantiko man taba. Terkait nama ini, ada yang mengartikan Mantab sebagai Majlis Nawaitu Tapa Brata. Dikatakan juga man taba itu berarti siapa bertaubat. Jantiko Mantab ini kemudian berkembang ke berbagi daerah.

Bacaan Lainnya

Dalam kegiatan dakwahnya, Gus Miek bertemu dengan banyak kiai, guru sufi, bahkan para wali. Karena itu, tak jarang Gus Miek menyaksikan sendiri karomah-karomah para wali tersebut. Salah satu kesaksian Gus Miek ketika itu, yakni tentang trio wali tanah Jawa. Kisah ini dituturkan kepada tim bangkitmedia.com oleh Amrin Hakim, Peneliti dari Lembaga Pengkajian Teknologi dan Informasi (LPTI) Pelataran Mataram Yogyakarta, yang masih memiliki hubungan famili dengan Kiai Asy’ari Keras Jombang, ayah dari KH Hasyim Asy’ari. Kakek Amrin sendiri semasa hidup merupakan kawan akrab Gus Miek.

Diceritakan bahwa Gus Miek semasa hidup menyaksikan trio wali tanah Jawa pada masanya yang sering berjumpa dengan wali qutub. Mereka adalah KH. Ahmad Marzuqi Romli Giriloyo Imogiri Bantul, KH. Daldiri Lempuyangan Yogyakarta, dan KH. Hamid Kajoran Magelang. Gus Miek bahkan menyatakan dirinya hanyalah badal mereka.

Siapakah kiai-kiai ini sehingga begitu istimewa di mata Gus Miek? Yang pertama adalah KH. Ahmad Marzuqi Romli atau Mbah Marzuqi dari dusun Giriloyo, Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Beliau adalah santri dari KH. M. Munawwir Krapyak dan santri dari Mbah Dalhar Watucongol. Selain mengasuh pesantren Ar-Romli, semasa hidup beliau berkeliling dakwah ke berbagai daerah di DIY, paling sering ke daerah Gunungkidul. Hampir semua kampung di Gunungkidul menjadi objek dakwahnya. Masyarakat Gunungkidul memanggil Mbah Marzuqi dengan sebutan “Mbah Wali” karena keilmuannya yang mendalam baik dalam bidang agama maupun menaklukkan hal-hal mistis.

Kedua, KH. Daldiri dari Lempuyangan, Yogyakarta. Beliau adalah putra dari Kiai Asyhari Lempuyangan, pengasuh Pon. Pes. Al-Mujahadah. Semasa hidup, beliau memiliki kedekatan dengan Gus Miek. Bahkan ketika Gus Miek menyusun naskah dzikrul ghofilin dan dicetak oleh santri-santrinya, naskah tersebut dibagikan kepada jaringan jama’ah Gus Miek, diantaranya di Yogyakarta di bawah payung KH Daldiri Lempuyangan. Kiai Daldiri pula yang mempertemukan Kiai Hamid Kajoran dengan Gus Miek sehingga berteman dekat.

Ketiga, KH. Hamid Kajoran, Magelang. Pertemuan Gus Miek dengan Kiai Hamid Kajoran berawal dari rumah KH. Asyhari, Lempuyangan karena saat itu KH. Hamid Kajoran aktif mengikuti kegiatan mujahadah yang diadakan oleh KH. Ashari. Dalam perjalanan waktu, keduanya berteman akrab. Bahkan Gus Miek meminta bantuan KH. Hamid Kajoran untuk berdakwah di wilayah Semarang dengan pusat gerakan di Kauman. Hal ini dilakukan karena KH. Hamid Kajoran sangat dihormati dan disegani, dan yang pasti bisa diterima di wilayah Jawa Tengah. (An)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *