Kecerdasan Emosi Lebih Berperan Dibanding Kecerdasan Intelektual, Benarkah?

kecerdasan emosi

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bunda  Rully. Saya Dita, mahasiswi yang ikut seminar Bunda dua minggu yang lalu. Setelah mengikuti seminar Bunda Rully, saya mulai mencari tahu tentang kecerdasan emosi. Dan ternyata banyak penelitian yang menunjukkan bahwa kecerdasan emosi atau EQ lebih penting dan lebih berperan dalam kesuksesan seseorang dibandingkan kecerdasan intelektual / IQ.  Apakah benar? Jika benar, apa yang harus saya lakukan untuk meningkatkan kecerdasan emosi saya? Ditunggu jawabannya ya, bun… Nggak pake lama…

Bacaan Lainnya

____________________

Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Haiii, Dita… Semoga selalu semangat dalam belajar dan menjadi yang terbaik … Menjawab pertanyaan Dita, memang benar bahwa ada banyak penelitian tentang peran kecerdasan emosi dalam kehidupan.  Orang yang pertama kali mengungkapkan adanya kecerdasan lain selain akademik yang dapat mempengaruhi keberhasilan sesorang adalah Gardner. Kecerdasan lain itu disebut dengan emotional intelligence atau kecerdasan emosi (Goleman, 2000).

Kecerdasan emosi merupakan kemampuan untuk menggunakan emosi secara efektif dalam mengelola diri sendiri dan mempengaruhi hubungan dengan orang lain secara positif. Menurut Salovey dan Mayer, 1999 (handbook Emotional Intelligence training, prime consulting) kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk merasakan emosi, menerima dan membangun emosi dengan baik, memahami emosi dan pengetahuan emosional sehingga dapat meningkatkan perkembangan emosi dan intelektual. Salovey juga memberikan definisi dasar tentang kecerdasan emosi dalam lima wilayah utama yaitu, kemampuan mengenali emosi diri, mengelola emosi diri, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, dan kemampuan membina hubungan dengan orang lain.

Seorang ahli kecerdasan emosi, Goleman (2000) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kecerdasan emosi di dalamnya termasuk kemampuan mengontrol diri, memacu, tetap tekun, serta dapat memotivasi diri sendiri. Kecakapan tersebut mencakup pengelolaan bentuk emosi baik yang positif maupun negatif.

Goleman (2001) juga menyatakan bahwa kecerdasan emosi adalah kemampuan memantau dan mengendalikan perasaan sendiri dan orang lain serta menggunakan perasaan-perasaan tersebut untuk memandu pikiran dan tindakan, sehingga kecerdasan emosi sangat diperlukan untuk sukses dalam bekerja dan menghasilkan kinerja yang menonjol dalam pekerjaan.

Hal ini senada dengan yang dikemukakan oleh Patton (1998) bahwa orang yang memiliki kecerdasan emosi akan mampu menghadapi tantangan dan menjadikan seorang manusia yang penuh tanggung jawab, produktif, dan optimis dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah, dimana hal-hal tersebut sangat dibutuhkan di dalam lingkungan kerja. Meskipun demikian, bukan berarti bahwa kita harus mengabaikan kecerdasan intelektual. Karena kecerdasan intelektual tetaplah dibutuhkan untuk melakukan penalaran atau berpikir logis dan proses menganalisa suatu kejadian atau peristiwa.

Dita, menjadi seorang yang cerdas secara emosional sesungguhnya tidaklah sulit untuk dilakukan. Beberapa hal yang bisa Dita latih agar kecerdasan emosi Dita lebih terasah antara lain :

  1. Memahami apa yang dirasakan. Sempatkan beberapa menit untuk merasakan apa yang kita rasakan saat ini. Ketika ada seseorang bertanya, apa yang kamu rasakan saat ini? Kita cenderung kesulitan untuk menjawabnya…. apa yaa….biasa aja… atau malah dijawab saya merasa panas, sumuk, lapar yang mana semua jawaban itu bukanlah menggambarkan tentang rasa yang muncul saat pertanyaan diberikan. Semakin kita kesulitan untuk menjawab pertanyaan semacam itu, semakin perlu kita melatih emosi kita agar lebih cerdas. Rasa ini berkaitan dengan emosi. Emosi ini adalah suatu perasaan dan pikiran-pikiran khas, suatu keadaan biologis dan psikologis serta serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Perasaan mengikuti kemunculan emosi berdasarkan respons bawah sadar akan emosi yang dialami. Respons ini akan bervariasi berdasarkan keadaan mental, pengalaman, kepercayaan dan ingatan. Perasaan dapat membangkitkan emosi lainnya, dan hal ini akan menjadi suatu siklus tersendiri.Ada dua macam emosi, emosi positif dan emosi negatif. Emosi positif adalah rasa bahagia, senang, puas, lega atau yang lain. Sementara emosi negatif berkaitan dengan rasa marah, sedih, kecewa, jengkel, dll. Seringkali kita hanya fokus pada emosi negatif saja, ketika marah atau sedih yang kemudian akan berpengaruh pada hubungan interpersonal atau kepercayaan diri yang dimiliki.
  2. Memahami perubahan emosi dan mengelola emosi yang muncul. Memahami memiliki arti bahwa kita mampu mengenali emosi apa yang muncul, apa yang menjadi penyebabnya dan bagaimana reaksi atau respon kita terhadapnya. Dengan memahami ini semua, maka akan membantu kita untuk mengelolanya secara lebih baik. Misalnya, ketika kita marah dengan teman, menekannya hanya akan membuat kita semakin marah, demikian juga jika kita mencari cari sebab mengapa kita marah padanya, maka semakin marahlah kita. Mengelola emosi bukan berarti menekannya, tetapi memahami dan mampu mengendalikan diri untuk mengekspresikannya dengan baik.
  3. Mengekspresikan emosi merupakan salah satu cara tidak hanya cerdas secara emosional tetapi juga sehat secara fisik. Mengekspresikan emosi bukan berarti mengeluarkan emosi tanpa kontrol diri dan membuat orang lain merasa tidak nyaman. Mengekspresikan emosi tetap berkaitan dengan cara menyampaikan apa yang membuat kita merasa tidak nyaman akan perilaku orang lain terhadap kita. Bukan pada individunya tetapi lebih pada perilakunya.
  4. Melatih kemampuan berempati. Empati adalah kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain. Dita punya teman akrab kan… Biasanya kita selalu tahu kalo dia lagi happy… ketawa bareng… Nah, mereka yang cerdas secara emosional juga peka ketika oang lain sedang sedih, marah atau mengalami emosi negatif yang lain. Mereka yang cerdas emosinya tidak akan mudah terprovokasi , malah kondisi ini bisa kita manfaatkan untuk melatih kecerdasan emosi kita dengan menanyakan… “kenapa kok kelihatannya murung? Kalo belum mau cerita, tidak apa, tapi kapanpun kamu butuh, aku disini ya, siap untuk mendengarkan”. Kadang mungkin aneh, atau bahkan ada mahasiswi bunda yang bilang “ih lebay, bun”. Nah… rasa itu muncul karena kita belum pernah membiasakn diri untuk melakukan hal-hal seperti ini.
  5. Memiliki motivasi dan optimisme. Motivasi adalah dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu. Optimisme adalah paham keyakinan atas segala sesuatu dari segi yang baik dan menyenangkan dan sikap selalu mempunyai harapan baik dlm segala hal. Memiliki motivasi dan optimisme membantu kita untuk terus semangat melakukan ikhtiar dalam mencapai apa yang diharapkan. Memang benar, motivasi dan optimisme ini tidak mudah untuk selalu ada, bahkan tak jarang kondisi internal dan eksternal mampu mempengaruhinya. Tapi Dita tidak perlu khawatir, karena selalu ada acara bagi tiap mereka yang bersungguh-sungguh untuk melatihnya agar tetap ada. Bunda Rully jadi teringat apa yang pernah disampaikan oleh Imam Al-Ghozali dalam bukunya Rahasia Sholat, bahwa sangat penting untuk beribadah secara Khouf (takut) dan Roja’ (harap). Artinya adalah kita memiliki motivasi dan keyakinan bahwa Allah akan menerima sholat dan ibadah kita dan kita akan masuk surga (optimis), sekaligus menerima kenyataan bahwa kondisi sholat dan ibadah kita saat ini sangatlah belum layak untuk masuk surga. Sehingga ada ikhtiar untuk terus menerus memperbaiki diri, memperbaiki sholat dan ibadah kita.
  6. Memiliki kecakapan sosial. Mereka yang cerdas secara emosional, memiliki sahabat untuk share tentang segala hal. Tetapi mereka juga memiliki banyak teman dan mampu berperan dalam banyak komunitas serta memberikan manfaat dimana mereka berada. Hal ini sama seperti konsep maslahah yang dimiliki oleh Nahdlatul Ulama. Dalam kehidupan ini, kita memiliki kewajiban untuk membawa Islam sebagai agama yang rahmatan lil “alamiin. Artinya apa sebagai mahasiswa, Dita memiliki banyak kesempatan untuk terlibat dalam agenda kegiatan yang dapat memberikan kemaslahatan bagi Dita sebagai pribadi ataupun Dita sebagai bagian dari lingkungan sosial dimana Dita tinggal. It’s good to become an important person … but it’s more important to become a good person…. so perbanyak teman, keep doin nice and be maslahah, ok dear?

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *