pesantren tebuireng

Kebiasaan Kiai Hasyim Asy’ari di Bulan Ramadan

Posted on

Hadratusysyaikh KH Hasyim Asy’ari (1871-1947) adalah sosok ulama’ yang dikenal sebagai ahli hadits. Kepakarannya dibidang hadits diakui para ulama, bahkan sampai ulama dunia. Karena itu, salah satu kebiasaan Kiai Hasyim di bulan Ramadan juga terkait dengan hadits. Membaca kitab Shohih Bukhori menjadi kebiasaan khusus Kiai Hasyim yang menarik publik dunia.

Karena begitu menariknya kebiasaan mbalah (ngaji) Shohih Bukhori, banyak sekali ulama’ yang menyediakan waktu khusus untuk ngaji di Tebuireng. Salah satu guru Kiai Hasyim yang sangat dihormati, Syaikhona Kholil Bangkalan sampai dikisahkan datang ke Tebuireng untuk ngaji kepada murid yang sangat dicintainya, Kiai Hasyim Asy’ari.

Bukan saja Syaikhona Kholil, banyak ulama’-ulama’ dari berbagai pesantren di Nusantara juga datang ke Tebuireng. Mbah Maksum Lasem, teman perjuangan Kiai Hasyim dalam mendirikan NU, juga datang ke Tebuireng untuk ngaji kitab Shohih Bukhori kepada Kiai Hasyim.

Ketika membaca kitab Shohih Bukhori, banyak yang mengisahkan Kiai Hasyim begitu hafal, sangat mengagumkan. Membawa kitab Shohih Bukhori, tapi Kiai Hasyim hanya dipegang saja, karena beliau hafal kitab itu. Ketika membaca, Kiai Hasyim tidak menemukan kesulitan sedikitpun. Seolah Kiai Hasyim membaca kitab karyanya sendiri.

Banyak kesaksian tokoh ihwal ngajinya Kiai Hasyim atas kitab Shohih Bukhori. Salah satunya dikisahkan oleh Menteri Agama RI, KH Saifuddin Zuhri.

“Orang yang pernah melihat sendiri, cara Hadratussyaikh membaca Al-Bukhari mengatakan bahwa beliau sebenarnya telah hafal seluruh isi kitab ini. Seolah-olah sedang membaca kitab karangannya sendiri!” (Zuhri, 1974 : 152).

Kesaksian yang sama juga ditegaskan oleh sejarawan Aboebakar Atjeh.

“Ia selama bulan puasa memberi kuliah istimewa mengenai ilmu hadist karangan Al-Bukhari dan Muslim. Kedua kitab hadist yang penting ini harus khatam dalam sebulan puasa itu dan oleh karena itu, jadilah bulan ini suatu bulan yang penting bagi kiai-kiai bekas muridnya di seluruh Jawa. Dalam bulan puasa, bekas murid-muridnya yang sudah memimpin pesantren di mana-mana, biasanya memerlukan datang tetirah ke Tebuireng, tidak saja untuk melanjutkan hubungan silaturahmi dengan gurunya, tetapi juga untuk mengikuti seluruh kuliah istimewa mengenai hadist Al-Bukhari dan Muslim guna mengambil berkah atau tabaruk,” (Atjeh, 105-106).

Baca Juga >  Sejarah Sedih dan Bahagia

Ramadan di Tebuireng begitu ramai, melebihi keramaian bulan-bulan lainnya. Tebuireng menjadi magnet Nusantara, lantaran kebiasaan Kiai Hasyim membaca kitab Shohih Bukhori yang selalu diburu para kiai dan para santri. Di samping itu, sosok Kiai Hasyim yang menjadi tokoh sentral umat Islam Indonesia juga menjadi faktor khusus, sehingga ramadan selain ngaji, juga ajang silaturrahim jaringan santri Nusantara.

Pergerakan Kiai Hasyim dalam memimpin NU menjadikan sosok Kiai Hasyim menjadi perhatian para pejabat kolonial. Banyaknya santri yang datang ke Tebuireng di bulan ramadan juga masuk “radar” kaum kolonial dalam “memata-matai” gerakan Tebuireng yang efeknya bukan saja lokal, tetapi nasional dan global.

Banyak ulama’ besar yang lahir dari Tebuireng. Para ulama’ itu dibasuh Kiai Hasyim dengan ilmu yang sambung langsung kepada Nabi Muhammad, juga dibasuh dengan air mata ruhani yang juga bersumber langsung kepada Nabi Muhammad. Inilah yang menjadikan magnet Tebuireng di bulan ramadan selalu menarik.

Kebiasaan ngaji kitab Shohih Bukhori inilah yang terus dilestarikan Tebuireng sampai sekarang. Setelah Kiai Hasyim wafat, ngaji Shohih Bukhori dilanjutkan Kiai Idris Kamali dan KH Syamsuri. Saat ini dilanjutkan oleh KH Habib Ahmad yang mendapatkan sanad keilmuan hadits dari Kiai Syamsuri.

Tidak sedikit juga para alumni Tebuireng yang terus mengabadikan ngaji kitab hadits di bulan ramadan. Semua itu dalam rangka sambung sanad dengan Hardatusysyaikh KH Hasyim Asy’ari yang rutin ngaji kitab hadits di bulan ramadan, khususnya kitab Shohih Bukhori dan Shohih Muslim. (mm/rk)