gus yahya

Katib Aam PBNU: Dalam Negosiasi, Ada yang Menjadi Sampah Sejarah!

Diantara kerangka analisis sosial yang masyhur adalah bahwa konstruksi realitas merupakan manifestasi dari rejim tata pikir (mindset) masyarakat. Sedangkan rejim tata pikir itu terbentuk melalui negosiasi (tawar-menawar) wacana publik.

Kapitalisme klasik di satu kutub disanggah oleh komunisme di kutub lain. Hasil negosiasi antara kedua kutub itu adalah lahirnya model “negara kesejahteraan” (welfare state). Internasionalisme Barat ala Sutan Takdir Alisjahbana disanggah oleh tradisionalisme Sanusi Pane dan kawan-kawan. Lahirnya Pancasila sebagian merupakan hasil negosiasi wacana antara dua kutub itu.

Ketika meraja di ranah publik, negosiasi itu tidak hanya mewujud dalam adu argumentasi kognitif, tapi lantas melibatkan pula pergulatan sosial secara menyeluruh, termasuk pertarungan politik, bahkan perang. Maka, tidak perlulah terlampau kaget, prihatin dan bersusah hati saat menyaksikan silang mulut yang meruncing. Itu adalah upaya menawar, nganyang, tata pikir masyarakat. Yang paling ngotot biasanya adalah pihak yang sedang terpojok menghadapi kekalahan dan ketersingkiran. Semakin terpojok, semakin kelojotan.

Baca Juga >  Antara Ilmu di Perguruan Tinggi dan Praktik Kehidupan

Jadi, kalau ada mulut njedot sak kemengnya dengan bunyi yang sak bunyi-bunyinya, itu adalah mulut kelojotan.

Apakah mulut kelojotan bersedia bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan harga?

Namanya tawar-menawar, masing-masing pihak harus mengajukan tawaran yang masuk akal. Pihak yang tidak masuk akal pasti akan ditinggal begitu saja. Menjadi sampah sejarah.

Seorang emak-emak belanja ayam. Penjualnya —kebetulan orang Madura, temannya Mohammad Bakir juragan Kompas— menyebut harga,

“Sraatus lemaa poloh reebu”.

“Aapaa?” emak-emak menjerit, “masak ayam kurus begini semahal itu? Dua puluh lima saja ya!”

Cak Bakul Ayam menjep,

“Adooo, Maak… kemoceng dak adaa daagingnya sajaa telok polooh reebu!”

Dia tidak sudi melanjutkan tawar-menawar.

18 September 2018

(KH Yahya Cholil Staquf, Katib Aam PBNU)