Jalan Tengah Mawas Diri

Ilustrasi

Karya: Kang Thohir

Berada di jalan tengah mawas diri di antara mereka yang pahit dan manis mencibirnya. Tatapan tajam, aku mengalah untuk diam. Tak ada lagi yang dibicarakan, meski kadang aku bingung menentukan. Lentera itu telah padam. Ada asa belum tersampaikan. Di bilik rumah kecil itu, aku mendongeng di kesunyian. Tak ada yang mendengarkan, laksana aku berujar di khalayak haluan. Aku ingin bisa menemukan arti kedamaian. Penantian yang cukup panjang, aku ingin sekali mengepakkan sayapnya lalu terbang. Di sini aku sudah muak dengan keadaan. Aku tersesat dalam kedustaan. Aku terjerembab pada dosa-dosa yang aku tak niatkan. Begitu bodoh, aku tak berfikir seperti itu. Aku semakin jenuh pada kondisi ini yang membuat aku sedu, menatap pilu. Merampas semua kebahagiaanku. Aku ingin meraih bintang yang kemilau, ‘tuk dijadikan hiasan hidupku.

Pernak-pernik kehidupan. Ada bisik-bisik semu dan nyata membuat aku pusing memikirkan. Malam-malam yang mencekam membuat aku tak bisa tidur, terlintas bayang-bayang itu, yang menggangguku. Aku ingin seperti dulu, tenang dan syahdu, meski itu hanya sederhana saja.

Bebatuan kerikil masih saja menghujam kakiku, berbalut luka dan sakit yang menyayat kalbu. Kebaikan bagaikan angin lalu.

Di situ aku bisa memandang siapa mereka, terkadang ada yang baik dan munafik. Kekerdilan pasti ada di antara mereka. Ucapan-ucapan manis terkadang racun, dan merenggut nyawa kebahagiaan. Terlalu cemburu menatapku. Biarkan saja mereka beranggapan ini dan itu, aku akan berlalu. Berlabuh di antara ramai dan sunyi. Dihabiskan waktu untuk merenungi dan menenangkan hati.

Ada suara-suara lembut, namun menyayat kalbu. Berkata dengan berbisik-bisik di telinga yang lainnya tentang kejelekanku. Aku berpura-pura tak mendengarkannya. Aku berusaha untuk sabar dan mengamatinya.

Mau dibilang, “Kau ini jelek dan lebay!”

Aku hanya terdiam saja.

Meniti jalan setapak demi setapak untuk berusaha tenang dan mencari jatidiriku.

Sampai akhirnya mereka bisa memahami apa yang aku rasakan.

Bahwa hidup adalah sawang sinawang, tak bisa sama dalam waktu dan kondisi yang sama. Semua berbeda-beda rasa dan  asa. Akan tetapi, ada hikmah yang bisa dipetik di kemudian hari. Bahwa hidup adalah bersumber pada cinta dan pengalaman, yang bisa menentukan arti itu sendiri. Begitulah kehidupan yang sejati, tetap semangat dan juga mawas diri.

Brebes, 01 Februari 2025

Tentang Penulis:

Kang Tair

Muhammad Thohir/Tahir (Mas Tair) yang dikenal dengan nama pena Kang Thohir, kelahiran Brebes, Jawa Tengah. Dari dusun/desa Kupu, kecamatan Wanasari. Dari anak seorang petani dan tinggal dari kehidupan sehari-hari bertani, berkebun, menanam bawang merah, padi, kacang, pare, cabai dan sayur-sayuran di ladang sawahnya.

Kini, sedang menggeluti dunia tulis menulis atau literasi, khususnya sastra Indonesia. Suka menulis sejak duduk di bangku kelas empat SD dan sampai masuk ke Pondok Pesantren. Masih tetap aktif menulis dan semakin semangat ‘tuk menulis baik puisi maupun cerpen dan lain sebagainya yang aku tulis. Selain menulis juga suka membaca buku agar bisa bermanfaat untuk menambah wawasan (pengetahuan).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *